Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
BAB 28 : MENIKAHLAH DENGANKU


__ADS_3

Jourrel menggerakkan sebuah miniatur timbangan pengadilan di meja kerja putranya. Sengaja duduk di kursi kebesaran itu, matanya fokus pada benda berwarna keemasan di hadapannya.


Hingga pintu terdengar tertutup, diiringi derap langkah kaki Zefon yang semakin mendekat. Ia duduk berhadapan dengan sang ayah, berbatas meja kerja yang cukup besar.


“Emm ... ada apa, Pa?” Zefon membuka pertanyaan terlebih dahulu.


“Ada masalah dengan perusahaan? Atau klan-mu?” tanya pria paruh baya itu tanpa basa basi.


Sebagai generasi yang mengemban amanat kakeknya, Zefon mampu melebarkan sayap lebih luas lagi dalam menjalankan klan mafia. Sudah ada beberapa cabang yang mampu ia dirikan sendiri. Pembuatan senjata juga semakin beraneka jenis, dengan pengiriman hingga berbagai negara.


Sedangkan perusahaan kontraktor pun mampu ia pegang, masih bergandengan erat dengan sang mama, yang menjadi arsitek handal dalam setiap pembangunan.


“Aman, Pa. Hampir saja kita kehilangan semua aset kekayaan keluarga kita. Tapi, aku mampu menanganinya. Dan berkat bantuan Yura juga, aku bisa menemukannya kembali. Perlahan-lahan aku juga bisa  menghancurkan mereka,” papar Zefon dengan jelas.


Kening Jourrel mengernyit, menghentikan gerakan tangannya lalu beralih fokus pada putranya, “Yura? Gadis itu? Bagaimana bisa?” cecar Jourrel penasaran.


“Eeemm ... jadi waktu itu dia diculik, ketika aku beroperasi dia ada di tempat kejadian. Dan dialah yang memberi petunjuk di mana keberadaan chip berharga itu. Mungkin ia mendengar percakapan mereka.” Zefon mengedikkan sepasang bahunya.


Terdiam sesaat untuk mencerna semuanya. Jourrel menautkan kedua tangan yang bertopang di atas meja. “Sebaiknya kamu nikahi saja dia,” putus Jourrel.


Sontak, Zefon seolah tersedak ludahnya sendiri. Matanya membelalak tak percaya. Tapi, dari wajah sang ayah sama sekali tak terlihat tengah bercanda.


“Pa....”


“Papa enggak yakin kamu menahannya di sini tanpa ada alasan yang jelas. Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan, lebih baik kalian segera menikah. Jangan sampai mamamu turun tangan,” cetus Jourrel menyandarkan punggungnya sembari memutar kursi. Pandangannya tak lepas dari pria muda di hadapannya.


‘Iya juga, kenapa aku selama ini begitu peduli dengannya? Apa benar hanya sekedar balas budi?’ batin Zefon bertanya pada dirinya sendiri.


\=\=\=\=000\=\=\=\=

__ADS_1


Yura mulai mengernyit ketika Cheryl terus memberinya rangsangan aroma terapi di ujung hidungnya. Gadis itu mengerjap pelan, menyesuaikan cahaya yang menembus kornea matanya.


“Hai, kamu sudah bangun?” sapa Cheryl dengan senyumnya.


Buru-buru Yura membuka netranya lebar-lebar. Ia beranjak duduk dengan cepat hingga berakhir mengerang kesakitan karena pusing luar biasa.


“Aduh, tiduran aja, Nak. Jangan dipaksa,” ucap Cheryl menyentuh lengan Yura.


Gadis itu merasa canggung seketika. Pandangannya menunduk, memilin ujung kemejanya sembari menggigit bibirnya.


Cheryl mengerti, ia meraih dagu Yura hingga keduanya saling menatap. “Jangan takut, aku tidak akan menggigitmu,” kelakar wanita paruh baya itu sembari terkekeh.


Mau tak mau, Yura pun ikut tertawa. Meski genderang di dadanya semakin berisik. “Maaf, Nyonya,” ucapnya.


“Kenapa minta maaf? Kamu enggak salah kok. Nama kamu Yura ya? Apa kamu kekasihnya Zefon?” tebak Cheryl tanpa basa basi. Sungguh ia sangat penasaran, apalagi di usia putranya yang menginjak angka kepala tiga, sama sekali tidak pernah membawa seorang gadis sebelumnya. Kabar nge-date pun tak pernah wanita itu dengar.


“Ah, bukan, Nyonya. Tuan Zefon memang berkali-kali menyematkan saya. Tapi kami tidak ada hubungan apa-apa,” elak Yura panik. Takut jika nantinya salah bicara hingga memercik kemarahan Zefon.


Yura bengong, tidak mengerti maksud pertanyaan itu. “Hah? Gimana maksud Nyonya? Maaf saya tidak mengerti,” cetus Yura menggaruk kepalanya.


“Ah, kamu masih polos sekali ternyata. Kamu mau makan apa? Biar nanti dibuatkan para pelayan.”


Yura mengerjap beberapa kali, bulu mata lentiknya yang mulai basah saling bertumbukan. Keluarga kaya raya, tapi begitu baik dan ramah padanya yang bahkan bukan siapa-siapa di rumah besar itu.


Kehidupan Cheryl dan keluarganya memang jarang disorot media. Bahkan hampir tidak pernah. Semua memang sejak dulu, wanita itu sangat membenci pemberitaan media yang kadang berlebihan. Ia juga tidak suka mengumbar kehidupan pribadinya. Jadi, Yura belum tahu betul bagaimana seluk beluk keluarga tersebut.


“Kok nangis, Sayang?” Cheryl menggenggam jemari Yura.


Ketulusan yang terpancar dari wanita itu sungguh membuat hatinya terenyuh, air mata Yura semakin mengalir deras. Sampai sesenggukan dan tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


Bukan bermaksud membandingkan, tetapi kondisi keluarganya berbanding terbalik dengan keluarga Zefon. Ia menemukan kehangatan di sini, bahkan lelaki dingin yang biasanya terlihat kaku itu pun juga turut menghangat saat berkumpul dengan keluarganya.


Cheryl berinisiatif memeluknya, membelai lembut rambut panjang gadis yang menangis tersedu itu. “Kalau kamu mau cerita, aku siap mendengarkan loh,” ucap Cheryl.


“Yura hanya merindukan mama yang sudah lama meninggal, Nyonya,” sahut gadis itu.


“Kalau begitu, kamu bisa memanggilku mama mulai sekarang,” tutur wanita itu tanpa berpikir panjang.


Yura menegakkan punggungnya, raut wajahnya sangat terkejut. Seperti tak percaya akan apa yang ia dengar.


“Ma—mama?” ulang Yura terbata.


“Iya!” Cheryl mengangguk mantap. Apalagi saat tahu gadis itu kehilangan ibunya, mengalami kekerasan oleh ayahnya, membuat hatinya terketuk untuk merangkul gadis yang sangat imut di matanya.


“Udah, sekarang jangan sedih sedih lagi. Udah bisa keluar? Atau mau makan malam di sini aja?” tawar wanita itu lembut.


“Yura boleh tidur aja, Ma? Kepala Yura masih pusing.”


“Baiklah, Mama keluar dulu,” ucap Cheryl membantunya rebahan sambil menata selimutnya. Tak lama kemudian, meninggalkannya di kamar luas tersebut. Yura masih berdegup hebat, matanya menatap langit-langit kamar.


Beberapa saat kemudian, pintu kembali terbuka. “Ada apa lagi, Mam....” Kalimat Yura menggantung saat menoleh, ternyata Zefon yang masuk dan kini mendekat padanya.


“Menikahlah denganku!” ucap Zefon tegas, lugas dan tanpa basa basi.


“Hah?”


 


Bersambung~

__ADS_1


Sambil nunggu up, bisa mampir ke novel ini dulu ya, Best. jan lupa klik fav biar selalu dapet notif kalau up 🤗😚



__ADS_2