Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
Bab 81 : Menyerang


__ADS_3

Zefon menurunkan anak buahnya juga untuk melakukan penutupan jalan dan mengalihkan arus lalu lintas. Agar ia dan para anggota Black Stone lainnya lebih leluasa.


Perjalanan kali ini ia sendiri yang menyetir. Tidak butuh waktu lama, mereka sampai di titik lokasi. Zefon mengenakan earphone kecil di telinganya, begitu pun dengan Boris sebelum keduanya turun dari mobil.


Asap pekat masih mengepul, tiga mobil ringsek juga masih melintang tak beraturan di jalan raya. Para anggota Black Stone melingkari para musuh dengan menodongkan senjata laras panjang. Jari telunjuk mereka siap menarik pelatuk ketika ada sedikit saja pergolakan.


Semua bersimpuh dijadikan satu, beberapa yang terluka juga diseret keluar. Kecuali anggota musuh yang mati, mereka langsung dibakar saat itu juga beserta mobilnya.


“Kalian lihat?” Zefon bersuara sembari menggandeng bahu kokoh Boris.


“Lihat!” bentak lelaki itu, suaranya memekik di udara.


Semua anggota musuh mendongak, melayangkan tatapan tajam pada Boris.


“Kalian tidak akan aku habisi jika segera mengatakan di mana posisi bos kalian sekarang! Saya tidak punya waktu banyak. Sepuluh menit untuk berpikir. Jika kalian bungkam, itu artinya kalian lebih memilih mati. Jika kalian tunjukkan, kalian bergabung dengan klan ku. Berhubung saya sedang berbahagia, saya janji akan melindungi kalian jika memang resmi bergabung dengan Klan Black Stone. Sepuluh menit dimulai dari sekarang!” tutur Zefon panjang lebar sembari menilik jam yang melingkar di lengannya.


Semua pria yang berlutut itu saling menatap satu sama lain. Ingin percaya tapi sulit. Kembali lagi saat melihat Boris yang memang masih hidup membuat mereka gamang.


“Lima menit!” Suara Zefon cukup membuat mereka tersentak.

__ADS_1


“Satu menit!”


“Lima detik!”


Zefon terus berhitung hingga tiba saatnya semua anggota Klan Black Stone mengokang senjata laras panjangnya dan bersiap melenyapkan mereka semua.


“Tu ... tunggu! Tunggu, Tuan!”


Zefon tersenyum tipis, kelemahan Rudolf adalah pada anak buahnya. Banyak dari mereka yang tidak setia dan berkhianat. Mungkin karena selama ini tertekan.


Berbeda dengan Klan Black Stone, menyejahterakan para anggota dan keluarganya. Sehingga tak satu pun dari mereka yang berani berkhianat, kecuali ada penyusup.


\=\=\=\=000\=\=\=\=


“Cal, bawa dua saja sepertinya cukup! Segera menyusul, lokasi sudah aku pasang!” tutur Zefon pada sambungan alat komunikasinya.


Kali ini, Boris yang bergantian menyetir. Ia sama sekali tidak bersuara sedari tadi. Hanya saja pergerakannya cukup cekatan. Ia juga sangat hormat dengan Zefon, sekalipun usianya di atas calon kakak iparnya itu.


“Boris! Sebar bawahanmu di jalur alternatif lain. Kalau mereka kabur bisa langsung menyerangnya,” titah Zefon.

__ADS_1


“Siap, Tuan!” Tidak sulit bagi Boris yang memang ditugaskan sebagai pemimpin perang oleh Zefon sejak ia bergabung. Berbagai alat canggih memudahkan mereka dalam berkomunikasi.


“Apa dulu Rudolf tinggal di sini?” tanya Zefon ketika mereka telah berhenti dalam jarak 50 km dari kediaman berlantai dua, yang cukup jauh dari kawasan padat penduduk. Hanya ada pepohonan rindang mengelilinginya. Lampu yang berpendar pun hanya di sekitar rumah tersebut.


Setiap mobil masuk ke celah-celah pepohonan, agar tidak nampak dari jalan setapak. Zefon meraih teropong jauh, mengarahkan ke setiap penjuru rumah. Ada beberapa penjaga di sana.


“Kita tunggu Calvin dan kawan-kawan!” gumam Zefon.


Tak berapa lama, Clavin datang bersama pasukan lainnya. Membawa dua truk tank, hasil perakitan klan mereka selama puluhan tahun sejak dipegang oleh Tiger, yang mana setiap truk mampu melesakkan peluru yang besar dan bisa merobohkan bangunan.


“Tembak satu kali dulu. Tapi jangan tepat sasaran. Buat mereka panik. Setelah mereka berhamburan keluar, lalu mulai penyerangan. Jangan habisi Rudolf! Itu bagianku. Kalian paham?” perintah Zefon usai menyalakan alat komunikasinya.


“Siap, Tuan!” sahut mereka serempak.


Boris juga tengah mempersiapkan bawahannya. Ia menunjukkan titik-titik di mana mereka harus menyebar, lalu kapan saat menyerang.


“Sekarang!”


BOOM!

__ADS_1


 


Bersambung~


__ADS_2