Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
BAB 44 : MENYERANG


__ADS_3

“Yura, keluarkan kalungmu! Kalau sensornya menyala, berarti ada senjata yang mengarah padamu dalam jarak maksimal satu meter. Segera waspada dan bergerak cepat!” titah lelaki itu menjelaskan sembari melajukan mobilnya dalam kecepatan di atas rata-rata.


“Aku mengerti! Aku ada pisau juga, entah berguna atau enggak!” Yura mengangguk, menarik napas dalam untuk mengurai detak jantungnya yang berdentuman hebat di dalam sana.


“Gunakan pisau untuk menyerang musuh dalam jarak dekat!” perintah Zefon.


“Apa sensor kalung ini tetap menyala?” tanya Yura menyentuh liontin kalung tersebut.


“Tidak, selama tidak mengarah padamu!” sahut lelaki itu. Wanita itu mengangguk paham.


Mobil melesat seperti kilat, Zefon menekan handy talki di tangan, menempelkan pada bibirnya, “Gala! Di mana posisiku yang strategis?” tanya pria itu.


Tak berapa lama mendapat balasan, “Aman dari mana pun. Tinggal lima orang saja sebagai pengamat. Sepertinya salah satu di antara mereka pemimpinnya. Karena yang lain sudah menyerang semua.”


“Oke!”


“Hati-hati, Kak! Jaga Kakak Ipar baik-baik!” Sempat-sempatnya Gala menggoda dalam keadaan genting seperti ini.


Zefon tak menjawab lagi, menoleh pada Yura sembari bertanya, “Sudah mengerti cara menggunakannya?” Ia menggerakkan handy talki di tangannya.

__ADS_1


“Siap paham, Om Suami!” sahutnya bersemangat.


Zefon hanya memutar bola matanya malas sembari menghela napas panjang. “Terserah!” gumamnya.


Mobil berhenti cukup jauh dari lokasi,  hanya terlihat semak-semak ilalang yang tumbuh tinggi dan liar. Keduanya turun, lalu setengah berlari ke depan mobil, menyatukan tangan mereka dengan kuat.


Langkah kaki mereka serentak dan cukup cepat. Sesekali menyibak ilalang, melompati semak belukar. Zefon tidak melepas tangan istrinya. Menunggu dengan sabar sampai Yura berhasil melewatinya.


“Kamu waspada di sini, berjagalah, aku harus menangkapnya!” bisik Zefon mencium kening Yura. Jarak mereka sudah tidak terlalu jauh.


“Ehm, hati-hati,” pesan Yura mengeluarkan senjata apinya, mencengkeram dengan kedua tangan untuk berjaga-jaga. Matanya terus menajam untuk mengawasi sang suami, bersiap melindunginya apabila dalam keadaan terdesak.


Dengan berjalan mengendap-endap, Zefon sampai di belakang mereka berlima, yang masih fokus tertawa terbahak-bahak melihat api yang berkobar di satu titik.


Keempat lainnya langsung waspada. Namun Zefon bergerak cepat menarik senjata laras panjang yang mengarah padanya, lalu melepaskan tembakan beruntun pada ketiga lelaki itu.


Tersisa satu orang, ia sudah kehilangan senjata karena berhasil ditepis oleh Zefon. Kali ini, Zefon tidak ingin membunuhnya. Akan tetapi, harus berhasil menyeret dan menawannya.


Pukulan demi pukulan saling berbalas. Keduanya sama-sama kuat. Saling pukul dan tendang dengan gerakan cepat.

__ADS_1


Hingga saat Zefon berhasil menindihnya, ternyata lawannya menyimpan sebuah pisau. Pria itu segera mencabut benda tajam dan hendak menusuk leher Zefon.


Namun, tentu saja dengan sekuat tenaga Zefon menahannya. Manik matanya tak berkedip menatap ujung mata pisau yang berjarak beberapa inchi darinya.


Yura membeliak sembari menutup mulutnya. Tangannya gemetar dengan jantung yang bertalu begitu kuat. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


Musuh sang suami, adalah orang yang sangat ia kenal. “Max?” gumamnya lirih sambil menggeleng, seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Suaminya terdesak, senjata apinya terlempar jauh karena tendangan Max. Dan kini mereka berguling di tanah bergantian. Zefon menahan pisau yang akan menusuknya, sedangkan Max berusaha keras agar menembus muka atau tenggorokan Zefon dengan pisau di tangannya.


Yura mengarahkan senjata api di tangannya ke arah mereka berdua. Sekujur tubuhnya meremang, keringat mengguyur sekujur tubuhnya. Ia sudah mengokang revolver di tangannya, menelan saliva susah payah sambil membidik sasaran.


Gerakan pada dua lelaki itu yang sesekali masih berguling membuat Yura ragu, tangannya juga turut bergerak membidik sasaran. “Om Suami!” pekik Yura melepaskan timah panas itu.


“DOR!”


 


Bersambung~

__ADS_1


Mampir ya sambil nunggu up lagi.



__ADS_2