Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
BAB 50 : BUKAN ILUSI


__ADS_3

Fajar mulai menyingsing di belahan bumi Kota Palembang. Yura tidak bisa tidur nyenyak akhir-akhir ini. Meski begitu, pukul 4 pagi Yura sudah bangun.


Yura mengedarkan pandangan, masih sepi, sama seperti hari-hari sebelumnya. Tangannya meraba sisi sebelahnya, meraih ponsel dan langsung membukanya. Tapi, lagi-lagi harus menelan kekecewaan. Karena tidak ada pesan ataupun panggilan dari suaminya.


Yura mendudukkan dirinya, memeluk kedua lutut lalu menyembunyikan wajahnya. “Jadi maksudnya apa? Setelah berhasil merenggut mahkotaku, seenaknya saja membuangku,” gumam Yura merasakan perih di hatinya.


Wanita itu menangis terisak, menyesal terlalu percaya pada Zefon. Namun, di sisi lain ia sangat merindukan makhluk berstatus suaminya itu. Yura memeluk tubuhnya sendiri semakin erat.


Beberapa saat kemudian, Yura turun dari ranjang. Ia mengambil mantel untuk melapisi gaun tidurnya. Hari masih gelap, hanya lampu-lampu temaram yang berpendar. Yura keluar dari rumah dan jogging seorang diri di halaman Villa Anggrek yang cukup luas itu. Sesekali menangis terisak, itu cara Yura melampiaskan kemarahan berbalut kerinduan pada suaminya.


“Sayang, panggil Zefon ke sini gih! Kasihan Yura, ini udah hari keempat dia kayak gitu,” gumam Khansa mengintip di balik tirai.


“Biarin aja, jangan ikut campur. Kita tetep pantau, bergerak kalau dimintai solusi. Selama Yura nggak melakukan hal di luar batas,” balas Leon berdiri di belakangnya.


“Tapi kasihan, dia enggak mau cerita. Aku lihatnya sih, kecewa tapi campur rindu. Mungkin dia pernah jogging kali, sama Zefon.” Khansa menghela napas panjang.


“Zefon itu seperti Tiger. Tidak bisa dibantah, tidak mau diatur, tidak bisa disetir. Kita turun tangan kalau dia minta aja, Sayang,” ucap Leon memeluk wanitanya dari belakang.

__ADS_1


\=\=\=\=ooo\=\=\=\=


Beberapa waktu berlalu, Yura yang masih berlari dan tidak fokus, tiba-tiba menabrak tubuh seseorang. Hampir terjengkang jika saja tidak ada yang memeluknya saat ini.


Manik mata Yura yang basah mengerjap cepat, menatap sosok yang ia rindukan berdiri di hadapannya. Yura menegakkan tubuhnya, menyentuh wajah pria yang bergeming menatapnya.


“Kenapa menangis?” tanya Zefon menyeka sisa-sisa air mata istrinya.


Yura menatapnya dengan tajam, napasnya menderu dengan kasar. Lalu tiba-tiba mengayunkan lengannya, memberi bogem mentah di wajah Zefon.


“Sialan! Kayaknya aku terlalu merindukan dia!” gerutu Yura memilih berbalik dan masuk kembali ke rumah.


“Eh, dia masuk. Mereka masuk! Ayo balik, Sayang,” ajak Khansa menarik lengan suaminya.


Mereka tidak menyangka, orang yang baru saja mereka bicarakan tiba-tiba muncul begitu saja. Bahkan tidak ada mobil yang mengantarnya masuk. Pasangan suami istri lawas itu bergegas masuk ke kamarnya yang ada di lantai bawah. Ya, mereka memutuskan pindah di lantai satu, agar tidak capek naik turun tangga.


“Yura, tunggu!” teriak Zefon.

__ADS_1


Yura masih tak peduli, ia tetap melenggang masuk bahkan tanpa sadar membanting pintu dan berlari masuk ke kamar. Ia melempar tubuhnya di atas ranjang dengan tengkurap. Menangis menjerit karena kekesalan yang tidak bisa melupakan Zefon.


Zefon yang menyusul, kini menghela napas berat di ambang pintu. Kakinya mulai melangkah perlahan, kemudian melepas sepatu dan bergabung dengan istrinya. Pria itu menempelkan dada di punggung istrinya. Satu kakinya menyilang, menindih wanita itu.


“Kamu masih marah dan membenciku?” tanya Zefon memeluk wanita itu erat-erat.


DEG!


Yura menoleh, ia merasa tubuhnya sangat berat karena ditindih oleh Zefon. Matanya membelalak, pria itu ternyata bukan hanya ilusi semata. Tetapi kehadirannya benar-benar nyata.


 


 


Bersambung~


__ADS_1


__ADS_2