Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
BAB 61 : Memutar Kembali


__ADS_3

“Ze, kamu ... marah?” tanya Yura memberanikan diri menaikkan pandangannya.


Zefon menarik napas dalam-dalam, mengembuskan sedikit kasar, “Di mana Calvin?” tanya lelaki itu yang justru mengalihkan pembicaraan.


“Ada! Aku panggilkan!” Dengan sigap, Yura segera berlari menuju pintu kamar tanpa memedulikan apa pun lagi.


“Yura!” teriak Zefon melayangkan tatapan tajam pada istrinya.


Yura yang baru menyentuh handel pintu seketika membeku. Tenggorokannya tercekat dengan dada yang bergemuruh. Ia segera berbalik, menggigit bibir bawahnya, tubuhnya meremang melihat tatapan tajam suaminya. Perlahan, kakinya kembali melangkah pada sang suami. Kepalanya tertunduk dalam, tangannya meremass ujung gaun kuat-kuat.


“Sini!” titah Zefon menepuk sebelahnya.


Yura mendudukkan tubuhnya di samping sang suami dengan sangat pelan. Namun, tidak berani berbalik. Membelakangi suaminya. Terlihat sekali bahunya menegang, napas saja ia lakukan dengan sangat hati-hati.


Tanpa disangka, Zefon justru meraih ikat rambut di atas nakas dan mengikat rambut panjang Yura. Wanita itu mendelik tak percaya, selesai itu, Zefon mencekal kedua bahu Yura dan menciumnya. “Kau mau memamerkan tubuhmu pada orang-orang di bawah sana, hah? Beraninya!” geram Zefon menggigit kecil leher jenjang Yura.


Tubuh Yura meremang, menahan bibirnya agar tidak mengeluarkan suara. Ia berbalik, membentuk senyum kaku di sudut bibirnya. Baru sadar jika saat ini ia hanya mengenakan gaun tidur di atas paha, yang hanya ada tali kecil di kedua bahunya. “Lupa,” jawabnya lirih.


“Ganti baju! Aku tunggu Calvin di ruang kerja!” tandas Zefon mengecup kening istrinya, lalu bergegas ke kamar mandi. Sekedar cuci muka dan menggosok giginya.


Yura segera mematuhi perintah suaminya. Setengah berlari ia menuruni anak tangga, dan menemukan Calvin berjaga di depan pintu kamar Zeva.

__ADS_1


“Calvin! Zeva sadar?” tanya Yura semakin mendekat.


“Iya, tapi seperti dugaan Anda. Nona Zeva memberontak, dari tadi terus berteriak,” sahut Calvin menatap iba pada pintu yang sedikit terbuka.


“Mmmm... biarin aja dulu. Nanti kalau capek bakal berhenti sendiri. Oh ya, kamu ditunggu Zefon di ruang kerjanya,” ucap Yura.


Calvin mengangguk, pria itu mundur beberapa langkah, lalu beranjak ke ruang kerja yang tidak jauh dari kamar utama. Sedangkan Yura sendiri tengah mengintip adik iparnya di balik pintu.


...\=\=\=\=ooo\=\=\=...


“Tuan!” Calvin memanggil sekaligus mengetuk pintu.


Mendengar perintah, Calvin membuka pintu dan masuk ke ruangan dalam cahaya temaram. Zefon sengaja mematikan lampu, ia berdiri menghadap dinding yang memancarkan proyeksi dari laptopnya.


Calvin mendekat, bersiap menunggu perintah selanjutnya. Hening selama beberapa saat, hingga akhirnya Zefon berkata, “Putar lagi CCTV kejadian itu satu tahun yang lalu! Ambil dari berbagai sisi, minta Gala memulihkannya jika rusak!" cecar Zefon yang masih merasa lemas.


“Anda....”


“Aku akan menahannya!” tukas Zefon memotong ucapan asistennya. Ia teringat saat Zefon berhasil mendapatkan rekaman CCTV jalan, tepat saat Zeva, Oma dan Opanya mengalami kecelakaan. Zefon tidak kuasa menontonnya hingga tuntas. Hanya sampai pada hantaman mobil yang ditumpangi mereka bertiga dan mendapat pelakunya. Hatinya hancur berkeping-keping, sama hancurnya dengan kondisi mobil yang mereka tumpangi waktu itu.


“Baik, Tuan!” Calvin beralih duduk di kursi kerja Zefon, segera mencari file beberapa waktu silam.

__ADS_1


Detik itu juga, ia menghubungi Gala yang berada di belahan bumi lain untuk membantu memulihkannya. Keduanya terhubung melalui suara, laptop mereka sama-sama tersambung dalam jaringan yang sama.


“Kak Zefon memintanya lagi? Kamu serius?” Gala memastikan, karena khawatir akan memicu tekanan pada psikis kakak sepupunya itu.


“Iya, Tuan. Ini perintah dari beliau. Karena ... kami menemukan Nona Zeva masih hidup dan bergabung dengan Klan Ganesha!” jelas Calvin.


“Apa?!” pekik Gala terkejut.


“Karena itulah Tuan Zefon ingin melihat kembali rekaman CCTV di tempat kejadian. Kalau bisa, dari segala arah. Bukan hanya satu arah saja,” tutur Calvin.


“Oke! Tunggu sebentar!” Terdengar gemeletuk jemari Gala dari seberang telepon.


Zefon sendiri tengah menyiapkan diri untuk melihat rekaman ulang kejadian paling mengerikan yang menimpa keluarganya. Kedua tangannya terkepal kuat menopang tubuhnya di atas meja. Matanya terpejam, sembari menghela napas dalam-dalam. Belum mulai saja, rongga dadanya serasa menyempit, diiringi detak jantung yang menggema.


 


Bersambung~


Rekomendasi novel keren kali ini dari Mommy Ghina. Dijual Ayahku Dibeli Bosku...


__ADS_1


__ADS_2