
Pria bernama Boris itu beranjak dari duduknya. Berjalan mengitari meja kerja, hingga berdiri tepat di hadapan Yura. Bibirnya menyeringai lebar, tatapannya tidak lepas sedikit pun dari Yura.
Sengaja Yura mendatangi secara langsung, memang sudah rencana dari awal ia ingin memancing pemimpin Klan Ganesha. Karena selama ini, hanya anak buahnya yang turun. Sedangkan lelaki itu hanya menjadikan anak buahnya sebagai boneka agar tidak mudah terlacak. Sesuai perjanjian, Boris akan menemuinya langsung saat transaksi, tapi dengan syarat, Yura mendatanginya.
“Kenapa buru-buru, hmm?” ucap Boris menjulurkan lengannya, hendak menyentuh rambut Yura.
Akan tetapi, Calvin dengan sigap menahannya. Pria itu menatapnya dengan begitu dingin, “Dalam perjanjian kita sebelumnya, tidak ada sentuhan fisik jika Anda lupa!” tegas Calvin memperingatkan.
“Hahaha! Kau di wilayahku! Aku berhak melakukan apa pun pada kalian!” sahut Boris tertawa terbahak-bahak.
Calvin mengembuskan napas kasar, cengkeraman tangannya semakin kuat, lalu memitingnya di belakang punggung. Yura dengan cepat meraih revolver di pahanya dan menodongkan pada kening Boris.
“Jangan pernah mempermainkan kami!” tandas Yura dengan suara dinginnya. Tatapannya begitu tajam bak mata pisau yang siap mengoyak bola mata Boris.
Boris bergeming, namun tak berapa lama justru tertawa. Sebuah moncong pistol menempel di kepala Yura.
__ADS_1
...\=\=\=000\=\=\=...
“Sekarang!” teriak Zefon bersama tim pertamanya berlari menerobos masuk. Baku hantam pun tak terhindarkan. Dari jarak jauh, sudah ada beberapa penembak jitu yang sudah siap dengan senapan jarak jauhnya. Mereka akan menyerang ketika Zefon memberi perintah, atau melihat tuannya dalam bahaya.
Zefon dihadang oleh tiga anggota klan Ganesha. Penampilannya yang tidak mencolok, membuat para musuh meremehkannya.
Segala tendangan, pukulan telak dihantamkan oleh Zefon. Apalagi saat mengingat wajah Boris yang memandangi istrinya. Emosinya semakin membuncah dan tak terbendung. Ia juga ingin segera sampai ke lantai dua dan menyelamatkan istrinya.
Dua anggota klan terlibat saling pukul, Zefon meminta agar tidak menyerang dengan senjata, sehingga tidak menarik perhatian Boris dan para anak buahnya di lantai atas. Ia juga meminta para bawahannya untuk menepis senjata yang dipegang oleh musuh. Adu kekuatan dengan tangan kosong pun terjadi di lantai satu.
...\=\=\=\=000\=\=\=\=...
Beberapa anak buah Boris juga menerobos masuk dan menodongkan senjata pada Yura. Boris memberontak, namun segera diserang dengan pukulan bertubi-tubi oleh Yura dan Calvin. Yura mengentak pangkal revolver ke kening Boris hingga berdarah. Lalu kembali menodongkan moncongnya dan mengokang senjatanya.
“Hei! Kalian juga! Turunkan senjata atau dalam satu tarikan tuas ini, kepala bos kalian akan berlubang!” ancamnya sekali lagi dengan santai namun penuh penekanan.
__ADS_1
Ia melirik pada beberapa bawahan Boris yang berjajar dan menodongkan senjata. Meski mereka bergeming, tapi tidak berani menarik pelatuk. Karena pimpinan mereka berada dalam cengkeraman musuh.
Calvin dan Yura saling memberi kode melalui mata mereka. Usai Calvin berkedip, Yura melempar senjatanya pada Calvin yang masih mengunci pergerakan Boris, lalu menodongkan senjata itu pada kepala Boris. "Kalian diam saja! Atau aku khilaf melepas timah panas ini?" tutur Calvin pada lima pria di sana yang saling beradu pandang.
Sedangkan Yura langsung berbalik, menyentuh lengan orang di belakangnya, merebut senjata api di tangan orang tersebut. Yura membelalak, karena orang yang mengancamnya adalah seorang wanita.
Bukan, bukan itu yang membuatnya terkejut, tapi manik biru keabuan, garis wajah yang sangat mirip dengan ibu mertuanyalah yang membuat Yura membeliak lebar.
Akan tetapi, Yura juga tidak lengah. Ia fokus menepis perlawanan wanita itu. Keduanya saling beradu kekuatan, serangan demi serangan, pukulan demi pukulan terus bergantian.
Anak buah yang berjajar di ambang pintu, kebingungan. Jika mereka melepas tembakan atau ikut campur, sudah pasti Calvin akan melepas timah panas pula di kepala ketua mereka. Apalagi saat ini Calvin menindih tubuh Boris, mengunci kedua tangannya dengan pistol yang menempel di kening Boris.
Yura berhasil menjatuhkan lawannya, ia menatap lekat sepasang netra wanita itu. “Zeva?” panggilnya dengan napas terengah-engah.
Bersambung~
__ADS_1
Rekomendasi novel keren nih, Best.. Mampir kuys