
“Dan apa?” serobot Zefon tidak sabar melayangkan tatapan serius. Nada bicaranya juga menuntut.
“Mereka menemukan....” Calvin menelan salivanya begitu berat, “Mayat Nyonya Sarah Angelic dalam kondisi mengenaskan.” Pria itu menarik napas dalam-dalam, tenggorokannya seolah tercekat bahkan matanya berkaca-kaca. "Tuan dan Nyonya besar ditemukan masih hidup, Tuan,” sambung Calvin begitu cepat.
Kedua lutut Zefon terasa lemas, napasnya tersengal-sengal, mulutnya menganga dengan mata yang mulai berair. Kedua tangannya mencengkeram kuat kerah kemeja Calvin, mengguncangnya keras-keras. “Sudah kamu pastikan?” gumamnya dengan tenggorokan tercekat.
Calvin mengangguk, tangannya yang gemetar membuka galeri ponsel. Memperlihatkan Tiger yang terbaring lemah, dengan Jihan setia di sampingnya, berada di sebuah ruangan kecil. Dadanya sesak melihat kondisi kakek dan neneknya yang memprihatinkan.
“Segera bawa mereka ke rumah sakit!” teriaknya menggelegar menghempaskan tubuh Calvin sekuat tenaga. Emosi yang membuncah membuat Zefon bingung mengekspresikannya. Dadanya bertalu kuat sampai terasa nyeri.
“Sudah, Tuan. Beliau langsung dibawa ke Rumah Sakit. Mari, saya antar,” ajak Calvin yang mengerti bagaimana perasaan Zefon.
Kedua lelaki itu segera melangkah keluar, teriakan Yura menghentikannya. Ia terkejut akan teriakan suaminya, khawatir terjadi sesuatu, langsung berlari keluar untuk memastikan.
“Zefon!”
Yura mempercepat langkah saat menuruni tangga. Hingga sampai di hadapan sang suami, tangannya mencekal lengan lelaki itu, “Ada apa? Ada masalah apa?” tanya Yura diselimuti kepanikan.
__ADS_1
“Tolong jaga Zeva. Aku akan memastikan sesuatu,” ucap Zefon mencekal kedua bahu Yura lalu membenamkan sebuah kecupan di kening wanita itu begitu lama.
“Tapi kalian mau ke mana?” Yura masih tidak tenang karena merasa belum mendapat jawaban yang memuaskan.
Zefon menunduk, mengatur napas berulang kali hingga merasa sedikit lebih tenang, “Yura, ibu dan saudara tirimu sudah meninggal. Kuat dugaan penyebabnya karena racun yang mereka konsumsi sudah menyerang tubuh mereka sendiri. Dan ... ada kabar yang lebih mengejutkan lagi. Opa dan Oma ditemukan oleh anak buahku. Aku harus ke rumah sakit sekarang untuk memastikan. Jadi, tolong kamu jaga Zeva, ayah juga masih dalam perawatan intensif,” papar pria itu menjelaskan sedetail mungkin. Zefon menarik wanita itu ke dalam dekapannya, mengecup seluruh wajah cantik Yura bertubi-tubi demi melampiaskan kebahagiaannya.
“Aku harus pergi sekarang, Sayang.” Zefon melerai pelukannya, berjalan mundur sembari melambaikan tangan.
“Hati-hati,” balas Yura yang masih syok dan penuh kebingungan.
Setelah sang suami menghilang di balik pintu gerbang, Yura kembali masuk. Pintu kamar Zeva masih tertutup rapat, sembari menunggu pemeriksaan Dokter Luna, Yura beralih ke kamar sang ayah.
Lelaki separuh baya itu sudah menunjukkan perubahan yang signifikan. Meski baru anti-dote dosis pertama yang diberikan. Rehan sudah bisa bergerak dan bahkan duduk bersandar tanpa bantuan.
“Ayah.” Yura langsung menghambur ke pelukan pria itu. Menuntaskan tangisnya yang sempat tertahan karena kabar yang bertubi-tubi dia dengar. Yura sangat bersyukur karena dipertemukan dengan Zefon. Pria yang telah menyelamatkan hidupnya beserta sang ayah.
“Ada apa? Kenapa Zefon berteriak?” tanya Rehan membelai puncak kepala putrinya.
__ADS_1
Yura belum ingin menjawab, masih menikmati dekapan sang ayah. Karena dalam kehidupan sebelumnya, ia sudah kehilangan pria tua itu untuk selama-lamanya. Dan sekarang semuanya berubah. Keadaan berbalik, Sarah dan juga putranya tewas karena ulah mereka sendiri. Yura tidak perlu mengotori tangannya untuk membalas dendamnya pada dua manusia laknat tak berhati itu.
Rehan menghela napas panjang, memberikan waktu pada putrinya menumpahkan air mata. Hingga beberapa lama kemudian, Yura menegakkan punggungnya, meraih tangan sang ayah yang masih tertancap selang infus, menciumnya cukup lama.
“Yah, Sarah dan Tora sudah mati. Mereka sempat menelan racun yang disiapkan untuk membunuh kita. Sekarang, sudah tidak ada yang akan mengusik keluarga kita, Yah,” tutur Yura tersenyum meski kedua manik matanya basah.
“Syukurlah, maafin Ayah yang selama ini buta, Nak. Ayah janji, mulai sekarang akan selalu mempercayaimu. Dan tidak akan ada lagi Sarah-Sarah lainnya. Hanya ada kita, menantu dan cucu-cucu Ayah kelak yang menemani sisa hidup Ayah,” papar Rehan sembari menepuk-nepuk puncak kepala putrinya. Tanpa sadar, air matanya juga menetes. Mengingat penderitaan Yura sejak hadirnya Sarah.
Yura kembali memeluk ayahnya, “Ayah janji harus sehat terus. Biar nanti bisa main sama cucu-cucu Ayah,” ujar Yura.
Pintu kamar itu terketuk, menarik atensi keduanya. Yura segera beranjak menghampiri.
“Maaf mengganggu Nyonya, Anda ditunggu Dokter Luna,” ujar salah satu pelayan dengan sopan.
“Baik, Bi. Terima kasih infonya.” Yura berpamitan pada ayahnya lebih dulu. Kemudian dengan langkah tak sabar ingin segera menemui Dokter Luna untuk mendengar hasil pemeriksaan Zeva.
Bersambung~
__ADS_1