Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
BAB 49 : MEMINTA SARAN


__ADS_3

Genap satu minggu, Zefon harus berpisah dengan istrinya. Bersama Prof. Sean dan tim dokter khusus, Zefon menjadi saksi kerja keras mereka untuk melakukan proses penyembuhan Tuan Rehan. Antidote racun dipadu padankan dengan obat-obatan medis, harus diberikan dengan dosis yang tepat dan seimbang. Agar tidak memperburuk kondisi tubuhnya.


Setiap jam juga selalu dipantau, kamar yang digunakan oleh sang ayah mertua, bahkan sudah seperti ruang rawat di rumah sakit. Zefon sama sekali tidak keberatan dengan apa pun saran dari sang dokter, demi menunjang kesembuhannya. Karena jika dibiarkan di rumah sakit, khawatir akan ada yang kembali mengincarnya.


Zefon hanya memantau perbaikan di markas Palembang melalui sambungan alat komunikasi dengan para bawahannya. Di sisi lain, hati kecilnya sangat merindukan wanita yang sudah merenggut seluruh hatinya. Akan tetapi, Zefon bingung harus mulai dari mana. Keduanya memang belum mengenal satu sama lain, pernikahan mereka terlalu dadakan. Butuh waktu untuk memahami pasangan masing-masing.


“Tuan,” panggil Calvin yang mendatangi mansion Zefon.


Pria itu menoleh, segera meninggalkan kamar ayah mertua dan menuju ruang kerjanya. Ruangan kedap suara dan tidak boleh ada orang yang sembarang masuk ke sana.


“Ada kabar baik?” tanya Zefon menyandarkan punggung di kursi besarnya.


“Bocah itu mati mengenaskan. Sudah beberapa hari lalu mengalami batuk dan sesak napas. Setiap diberi makan justru muntah darah,” lapor Calvin.


“Berhati-hatilah. Tubuhnya terpapar racun yang juga diberikan untuk ayah mertua. Kubur saja seperti yang lain! Sterilkan lokasi bekasnya,” titah lelaki itu tidak begitu terkejut.

__ADS_1


“Baik, Tuan. Eee ....” Calvin tampak ragu melanjutkan kalimatnya.


Salah satu alis Zefon terangkat, “Ada apa lagi?” tanyanya, ketika membaca gelagat aneh dari orang kepercayaannya itu.


“Menurut laporan, Nona Yura sering melamun. Dia juga terlihat sedih,” lanjut Calvin sesekali melirik tuannya.


Zefon segera menegakkan tubuhnya, menyatukan kedua tangan di atas meja. Helaan napas berat ia embuskan, “Aku ... aku bingung harus apa. Menurutmu, aku harus bagaimana, Cal?” Zefon bertanya dengan serius. Jika mengatur strategi perang atau pun mengurus perusahaan memang dia sangat lihai. Tetapi, jika mengenai wanita, nol besar.


Dalam hati Calvin menertawakan sang bos. Meski tidak berani menunjukkannya. Apalagi wajah Zefon terlihat lelah, letih, lesu, lemah dan lunglai. Ia seolah menderita tekanan darah rendah.


Tidak ada ucapan apa pun, hanya tatapan tajam dengan gigi bergemeletuk sudah cukup menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Calvin.


Calvin meremang mendapat tatapan seperti itu, oksigen di sekitarnya seolah menipis. Otaknya berputar cepat untuk menemukan jawaban yang tepat.


"Tuan, saran saya Anda datangi beliau dan berilah kejutan. Biasanya perempuan suka kejutan. Apalagi selama satu minggu ini Anda sama sekali tidak ada kabar. Kemungkinan besar, Nona akan merasa bahwa dia bukan prioritas Anda,” papar lelaki itu dengan percaya diri.

__ADS_1


Brugh!


Sebuah buku tebal melayang dan hampir mengenai kening Calvin kalau saja ia tak segera menghindar. Jantungnya nyaris berhenti beberapa detik. “Maaf kalau salah, Tuan,” tambah lelaki itu lagi.


“Sekali lagi bilang Yura bukan prioritas kurobek mulutmu!” ancam Zefon dengan sengit.


Keduanya terdiam beberapa saat, “Gimana cara memberi kejutan? Misalnya seperti apa?” tambah Zefon menurunkan nada bicara. Bahkan terdengar antusias.


Calvin menelan salivanya dengan berat sebelum menjawab, ia takut salah bicara lagi. Mulutnya baru terbuka, tetapi Zefon kembali memotongnya.


“Hei! Kamu saja belum menikah! Mana bisa kasih solusi!” geram Zefon ketika tersadar sang asisten belum pernah memiliki kekasih.


'Bukankah Anda sendiri yang bertanya?' Calvin hanya berani mengumpat dalam hati.


Bersambung~

__ADS_1



__ADS_2