
“Permisi, Tuan. Ini dokumen persetujuan untuk operasi caesar. Silakan tanda tangan,” tukas seorang suster menyodorkan beberapa lembar dokumen.
Sebelumnya suster sudah menyampaikan kondisi Yura. Zefon langsung setuju saran dokter asalkan istri dan anaknya bisa diselamatkan.
Lembar demi lembar ia baca dengan teliti. Baru membubuhkan tanda tangan di setiap tempat. Menyerahkan kembali pada suster setelah sampai di lembar terakhir.
“Maaf, aku tidak bisa menjaganya,” ujar Yura mencengkeram erat tangan suaminya. Tangisnya tak berhenti sedari tadi, ia takut terjadi sesuatu dengan bayinya.
“Ssstt, jangan bicara seperti itu. Bukan salahmu, Sayang! Sudah, jangan nangis. Kita sambut anak kita dengan tawa ya. Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua,” ujar Zefon yang tenggorokannya tercekat. Meski bibirnya tersenyum, air matanya juga terus berjatuhan.
Ia sampai lupa menanyakan di mana mama dan adiknya. Karena terlalu tegang dan fokus pada istri juga bayinya.
Pemasangan kateter yang dilanjutkan anestesi epidural yang disuntik di bagian punggung Yura, sungguh membuat hati Zefon teriris. Ia tak beranjak dari istrinya, sekalipun sudah diusir oleh para petugas medis. Yang ada, hanya ancaman yang keluar dari bibir Zefon.
Tibalah waktunya mereka memasuki ruang operasi. Semua pakaian sudah diganti. Khusus untuk operasi. Zefon juga turut masuk menemani istrinya dengan pakaian steril khusus.
Dalam ruangan teramat dingin itu, Zefon terus menciumi kening istrinya, menyeka air mata yang tak kunjung surut dari sudut mata istrinya.
__ADS_1
“Enggak apa-apa, Sayang. Dokter pasti akan melakukan yang terbaik,” ucap Zefon berulang karena rasa bersalah yang bersarang di benak Yura.
Di saat pria itu masih berusaha menenangkan istrinya, terdengar jerit tangis yang menggema. Pasangan suami istri itu saling menatap.
“Bayi kita!” tutur Zefon menyatukan kening dengan istrinya, mencium seluruh wajah wanita yang telah mengandung dan melahirkan keturunannya. “Terima kasih, Sayang. Terima kasih!” ucapnya tak henti hentinya bersyukur.
“Bayi Anda laki-laki, Tuan. Hanya saja, harus segera kami bawa ke ruang NICU untuk pematangan paru lebih dulu,” papar sang dokter pada dua orang tua itu sambil mengangkat bayi mungil ke hadapan orang tuanya.
"Selamat datang di dunia, Sayang," gumam Zefon menatap nanar.
Yura dan Zefon tak berkedip menatapnya, bayi yang masih merah itu langsung dibawa ke ruang NICU. Umur yang belum cukup mengharuskan makhluk kecil itu mendapat perawatan intensif.
Setelah tidak menemukan komplikasi pasca operasi, Yura dipindahkan ke ruang rawat. Ia baru teringat akan sang mama dan adik iparnya.
“Ze, Mama gimana? Waktu perjalanan, tiba-tiba ketuban aku pecah. Mama mengambil alih kemudi untuk segera membawaku ke rumah sakit. Dan Zeva tiba-tiba mengerang kesakitan. Apa mereka baik-baik saja? Sesampainya di sini, aku tidak tahu bagaimana kabar mereka, Ze,” papar Yura.
“Aku enggak tahu, Sayang. Aku langsung ke sini mencarimu. Sampai saat ini.”
__ADS_1
“Cari mereka, Ze. Aku takut Mama atau Zeva kenapa-napa,” pinta Yura yang masih lemah.
Tentu saja Zefon tidak mau, ia tidak akan meninggalkan ruangan itu apa pun yang terjadi. Dan kini mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sang mama.
“Kenapa enggak diangkat ya,” gumam Zefon ketika panggilannya tak terjawab.
“Aduh, Ze. Kamu coba cari di bagian informasi,” perintah wanita itu.
“Tidak. Aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian,” balas Zefon tak menyerah melakukan panggilan.
“Ze, please, aku udah baik-baik aja. Aku khawatir sama kondisi Zeva. Kasihan Mama, Ze. Cepatlah cari kabar mereka!” rengek Yura memaksa.
“Sekali tidak tetap tidak, Yura!” sentak lelaki itu yang tak dapat dipungkiri, kepanikan juga menjalar di seluruh tubuhnya.
Bentakan yang tak sengaja keluar membuat hati Yura teriris. Sesak menekan dadanya. Selang oksigen yang masih menempel di hidungnya bahkan sama sekali tak terasa membantu. Ia memalingkan muka dengan air mata yang kembali meleleh.
“Ya Tuhan!” geram Zefon menarik rambutnya sendiri dengan kesal. “Sayang, maaf!, maafkan aku,” ucap lelaki itu penuh sesal. ‘
__ADS_1
Bersambung~