Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
BAB 53 : FULL SUPPORT


__ADS_3

“Aku hanya tidak ingin kehilangan kamu. Aku takut!” gumam Zefon bersuara serak, setelah menceritakan semua bebannya.


Yura tercengang, tidak menyangka di balik kekejaman dan ketegasan suaminya, tersimpan duka yang begitu mendalam. Ia ikut menitikkan air mata. Tahu bagaimana rasanya kehilangan orang-orang yang dia sayangi. Yura semakin memeluknya erat, sesekali mencium kening Zefon memberikan kekuatan.


“Jadi, apa sebelumnya memang sudah bermasalah dengan klan itu? Sehingga mereka menargetkan keluargamu?” tanya Yura memastikan.


Zefon meregangkan pelukannya, menatap sang istri dengan sendu. Sepasang netranya memerah dan masih berlapis cairan bening, “Bukan, sebelumnya kami sama sekali tidak saling mengenal. Tapi, karena teledor mereka sampai menghilangkan nyawa orang lain. Bahkan pihak berwenang juga sepertinya bekerja sama dengan mereka. Terakhir, ada anak buahku yang berkhianat. Mencuri chip yang dulu aku cari sekaligus menemukanmu. Ternyata, dia anak buah Klan Ganesha!” Mata Zefon semakin menatap nyalang.


Dalam sekejap, mimik muka pria itu berubah ketika membicarakan musuhnya. Yura mengangguk, sekarang ia paham jalan ceritanya. Bibirnya mengurai senyum, jemari lentiknya menyeka air mata Zefon di kedua sudut mata suaminya.


“Ah, jadi ini alasan kamu pernah memaksaku lari di pagi buta?” Yura terkekeh mengingatnya. “Kalau begitu, ajari aku menjadi lebih kuat. Agar aku bisa menemani setiap langkahmu,” ucap Yura menangkup kedua pipi Zefon.


Terharu, karena ia mendapat support yang tidak disangka-sangka. Zefon segera meraup bibir ranum sang istri, menyerangnya dengan gemas hingga membuat Yura kelabakan. Menjelang pagi itu, menjadi pertemuan sekaligus penyatuan suami istri yang tengah mengobati kerinduan.


\=\=\=000\=\=\=


“Yura, sudah bangun belum, Nak? Ayo sarapan,” panggil Khansa mengetuk pintu kamar Yura.

__ADS_1


“Iya, Grandma!” sahut Yura membuka pintu. Wajahnya tampak berseri, senyum lebar pun langsung tersungging di bibirnya. Tubuhnya sudah lebih segar usai mandi.


“Grandma tunggu ya.” Khansa menepuk bahu Yura lalu meninggalkannya.


Sebuah tangan melingkar di pinggang Yura, wanita itu terperanjat kaget. Saat menoleh, sebuah ciuman mendarat di pipinya. “Zefon! Ngagetin tahu nggak? Buruan sana ganti baju!” pinta Yura mendorong dada bidang Zefon yang masih basah karena tetesan demi tetesan mengalir di sana.


“Buruan, Ze! Enggak enak udah ditungguin Grandma sama Grandpa!” tukas Yura berbalik sembari berusaha melerai pelukannya.


“Mmmm....” Tatapan mesum itu membuat Yura bergidik. Ia takut akan kembali digelut oleh sang suami.


Tak ada jalan lain, Yura memilih menggigit salah satu lengan Zefon yang keras itu. Pria itu memekik tertahan dan segera melepas lilitan tangannya. “Aaargh!”


“Siap, Tuan Putri!” canda Zefon bergerak mengganti pakaian.


Yura meninggalkan suaminya, berjalan lebih dulu ke ruang makan. Merasa tidak enak, sudah numpang, seenaknya sendiri. Walaupun Khansa dan Leon sama sekali tak mempermasalahkannya.


Khansa langsung menyambutnya, wanita itu sama baiknya dengan ibu mertuanya. Yura merasa seperti memiliki ibu lagi, karena bisa merasakan kasih sayang yang tulus dari para wanita keluarga suaminya.

__ADS_1


“Ehm! Pagi Grandma, Grandpa!" sapa Zefon mencium tangan keduanya.


“Pagi-pagi udah basah-basahan aja,” celetuk Leon bernada sindiran.


“Kok Grandpa enggak nanya aku pulang jam berapa?” selidik Zefon menaikkan sebelah alisnya.


“Eh, bocah. Asal kamu tahu, pintu depan itu punya mata, telinga dan mulut. Jadi selalu melaporkan siapa pun yang melewatinya!” gurau Leon menatap serius,  menutupi kegugupannya karena sebenarnya ia sendiri yang mengintip dan tahu kapan kepulangan cucunya itu.


“Hah? Masa sih, Grandpa?” tanya Yura terkejut.


Khansa tertawa melihat Yura yang percaya dengan candaan suaminya. Sedangkan Zefon langsung duduk di sebelah sang istri. “Enggak usah dengerin, Grandpa sepertinya kurang jatah,” bisik Zefon masih terdengar orang-orang yang melingkari meja makan itu.


“Apa kamu bilang?” sentak Leon menaikkan sendok stainless dan melayangkan ke arah Zefon.


“Enggak! Aku Cuma kasih tahu Yura, kalau Grandpa hebat dan tampan!” celetuk Zefon dengan cepat, menepis sendok itu hingga terjatuh ke lantai.


Bersambung~

__ADS_1



__ADS_2