Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
Bab 84 : LAST EPISODE~


__ADS_3

Zeva menelan salivanya susah payah, matanya menatap nanar pada kakak iparnya yang mulai histeris. Ia bingung bagaimana memberi penjelasan pada Yura. Apalagi wanita itu begitu sensitif pasca melahirkan. Zeva takut salah bicara. Padahal kuncinya satu, percaya dan tidak overthinking.


“Gimana, Ze?” seru Yura memaksa.


“Sabar, Kak. Masih aku coba hubungi!” balas Zeva tak  lelah terus mencoba menghubungi kekasih maupun kakaknya.


Hingga di ujung keputusasaan dua wanita itu, pintu terbuka dengan kasar. Zefon hanya mendapat perawatan di kepalanya. Masih banyak luka yang belum diobati, tapi lelaki itu memaksa ingin segera masuk ruangan Yura.


“Sayang!” panggil Zefon berjalan sempoyongan dan langsung menghampiri Yura.


Pria itu langsung menghambur memeluk wanitanya dengan sangat erat, napasnya masih terengah-engah. Menghujani ciuman di puncak kepala Yura. “Maaf, ya. Aku lama,” tutur lelaki itu.


“Ze ... aku takut!” gumam Yura menangis terisak, lega karena suaminya telah kembali. Yura semakin memeluknya dengan sangat erat.


“Semua sudah berakhir, Sayang. Setelah ini tidak ada lagi yang akan mengganggu kita,” gumam Zefon pelan.


Zeva terharu melihat pasangan itu. Sampai pada akhirnya Boris menyenggol lengannya. Zeva menoleh, ia melempar senyum pada kekasihnya lalu menyelusup ke dalam pelukan lelaki itu.


Sudah terbiasa melihat Boris terluka, ia tidak terlalu panik. Zeva menaikkan pandangan, “Boris, baju-baju bayinya masih aman ‘kan?” tanya gadis itu.


Boris melebarkan kedua matanya. Pertanyaan pertama yang dilontarkan bahkan bukan keadaannya, akan tetapi justru baju-baju bayi yang memang masih ada di mobil dan belum sempat mereka ambil.


“Kamu lebih memikirkan baju-baju bayi dari pada aku?” cetus Boris mengernyitkan keningnya. Bahkan sedikit menjauhkan tubuhnya.


“Ya, gimana dong. Kan aku yakin kamu pasti hebat kalau udah kolaborasi sama Kakak. Aku yakin kalian pasti kembali. Kalau baju-baju bayi itu, sayang dong kalau kececer di jalan!" sahut Zeva tersenyum lebar.


Boris mencebikkan bibirnya, mencubit hidung kekasihnya dengan gemas. "Tenang aja, uang kakakmu enggak akan pernah habis kalau hanya untuk beli pakaian bayi. Jangankan pakaian, beli mall-nya aja bisa!”


“Iya, aku tahu. Sayang aja, ‘kan. Aku udah susah payah milih loh.”


“Masih ada di mobil, tenang aja!” sahut Boris terkekeh.

__ADS_1


\=\=\=000\=\=\=\=


Tidak ingin diobati oleh suster, Yura terpaksa mengobati suaminya sendiri. Zeva sudah mengambilkan kotak P3K dari mobil. Ia juga membelikan banyak makanan untuk keluarganya itu.


Cheryl terkejut ketika baru masuk ruangan Yura. Ia ingin melihat kondisi menantunya itu, tapi ternyata menemukan putranya babak belur dengan perban di kepala.


“Astaga! Kamu kenapa, Ze?” teriak wanita itu menangkup kedua pipi Zefon.


“Aaaa ... sakit, Ma!” rintih Zefon kala luka-lukanya tersentuh oleh tangan sang mama.


Wanita mana yang tidak panik melihat putranya penuh luka seperti itu. Tapi, Zeva mampu meredakan emosi sang mama dan menjelaskan kronologi kejadiannya. Barulah wanita itu menghela napas lega, memeluk putranya diiringi isak tangis yang menggema.


“Sudah, Ma. Zefon baik-baik saja,” ucap lelaki itu.


“Mama takut, Ze.” Sempat merasakan kehilangan mendalam, membuatnya ketakutan.


“Doa Mama selalu menembus langit, Zefon yakin ini semua tak luput dari doa Mama,” tutur Zefon memeluk balik ibunya.


Zefon terdiam sejenak, menatap istrinya penuh cinta. Senyum tipis mengukir di bibirnya, “Austin Dominic, lelaki pemberani, pemberian Tuhan,” ucap lelaki itu yang dibalas anggukan sang istri dan tepuk tangan antusias dari keluarganya.


\=\=\=000\=\=\=\=


Satu bulan kemudian....


“Ma, ikut jemput Baby Austin enggak?” tawar Yura yang sudah bersiap sedari tadi. Ia tidak sabar ingin segera berkumpul dengan bayinya. Satu bulan penuh ia hanya bisa menatap putranya dari balik kaca. Hingga akhirnya, bayi kecil itu dinyatakan sehat dan bisa dibawa pulang oleh dokter spesialis anak yang menangani.


“Ikut dong!” Cheryl nyaris berlari menuruni anak tangga. Ia juga tidak sabar.


“Pengen ikut!” rengek Zeva memelas.


“Tunggu di rumah aja sama Oma dan Opa, Sayang. Kamu ‘kan lagi dipingit,” ucap Jihan membelai rambut panjang cucunya.

__ADS_1


Zeva hanya mengerucutkan bibirnya, pernikahannya akan segera digelar satu minggu lagi. Bukan acara megah dan besar. Karena yang terpenting bagi Zeva, keselamatan dan kesakralan acara.


“Tunggu di rumah ya, Sayang!” Cheryl menjatuhkan kecupan di kening putrinya. Dilanjutkan mencium tangan ibunya.


“Tenang aja, nanti bisa main sepuasnya kok.” Yura menenangkan adik iparnya itu. Karena sedari awal, Zeva sangat antusias akan kehadiran Baby Austin. Seluruh keperluan bayi, dia dan Boris yang mengurus. Termasuk kamar bayi itu. Yura dan Zefon juga tidak mempermasalahkannya, justru merasa sangat terbantu.


\=\=\=\=000\=\=\=\=


Dua jam kemudian....


“Welcome Baby Austin!”


Pintu rumah utama terbuka, Yura sangat terkejut akan sambutan meriah untuk bayinya. Seluruh Keluarga Besar Sebastian sudah berkumpul, termasuk Rehan. Rumah pun telah didesain begitu meriah dengan banyak balon. Tepuk tangan menggema di seluruh penjuru kediaman besar itu.


“Wow, Sayang! Banyak yang menyambutmu!” seru Cheryl yang menggendong cucu pertamanya itu. Semua orang langsung mengerubungi bayi kecil yang menggemaskan itu. Kedatangan yang ditunggu sejak lama. Kebahagiaan pun memenuhi keluarga besar itu.


Zefon merengkuh pinggang istrinya, merapatkan tubuhnya, memeluk begitu erat. “Terima kasih banyak atas kebahagiaan yang kamu berikan untuk keluargaku. Maaf, jika dulu aku memaksa untuk menikah denganmu. Tapi aku memang mencintaimu, dari dulu, sekarang dan selamanya,” tuturnya.


Yura mendongak, ia membalas pelukan suaminya, “Sepertinya aku yang harus berterima kasih. Karena telah mengubah kehidupanku menjadi selengkap ini. Aku juga mencintaimu, suamiku!” ucap wanita itu. Zefon menjatuhkan ciuman pada istrinya.


“Eeeii buat Baby lagi aja kalian! Austin buat aku!” seloroh Zeva tertawa.


“Tidak!” tolak pasangan itu serentak. “Sebentar lagi juga kamu bisa bikin sendiri. Austin milikku!” tambah Zefon melotot tajam.


Yura terkekeh membelai lengan suaminya. Pandangannya tertuju pada sang papa yang kini juga tersenyum padanya. Yura sangat bersyukur atas kesempatan hidup yang kedua hingga bisa mengubah masa kelam itu hingga sebahagia ini.


 


 


...\=\=\=TAMAT\=\=\=\=...

__ADS_1


Cerita ini hanya fiksi belaka~ Terima kasih menemani kehaluanku yang tertuang dalam kisah ini. Terima kasih banyak dukungannya, like, komen dan gift. Love you seantariksa 💖💖


__ADS_2