
Sementara menunggu pemeriksaan, Yura segera menghubungi dokter yang pernah memeriksa ayahnya. Karena sebelumnya, ia sudah mendapat informasi bahwa hasil pemeriksaan tempo lalu sudah keluar.
“Mau ke mana?” tanya Zefon mencekal lengan Yura, sepasang alisnya bertaut dalam saat melihat gadis itu terlihat buru-buru.
“Ke ruangan dokter yang tempo lalu memeriksa ayah,” tutur gadis itu gelisah. Terlihat jelas dari sorot mata dan embusan napasnya yang berat.
“Emm, ikut!” Zefon menautkan jarinya di sela jemari lentik Yura. Menggenggamnya dengan kuat.
Yura mendongak sekilas, memperhatikan pria tampan yang kini menatap lurus ke depan. Lalu menundukkan pandangan, mengamati tautan tangan Zefon. Senyum pun tak bisa ia tepis. Rasa aman dan nyaman seketika menyelusup hatinya.
Keduanya bak sepasang kekasih, melangkah serentak dengan tegas. Tatapan mereka sama dinginnya. Sepertinya, Yura telah terkontaminasi oleh pria yang akan menjadi suaminya.
Sesampainya di ruangan dokter, mereka segera duduk usai dipersilakan. Mendengarkan penjelasan dengan seksama. Detak jantung Yura mulai tak beraturan, tangannya juga mulai terasa dingin. Sehingga tanpa sadar, menguatkan genggaman tangan itu.
“Mungkin sedikit mengejutkan, akan tetapi dari hasil rontgen saya menemukan partikel aneh di dalam paru-parunya. Tidak banyak, akan tetapi jika dibiarkan takutnya bisa menggerogoti organ vital itu, bahkan kemungkinan buruknya bisa semakin menyebar. Kami masih belum memastikan, itu sebuah virus atau bakteri. Kami harus melakukan pemeriksaan khusus untuk mengetahuinya," papar dokter paruh baya itu.
“Beliau ada di sini sekarang. Sebaiknya jangan ditunda lagi, Dok. Segera lakukan tindakan selanjutnya,” ucap Yura menguatkan diri.
Ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Karena kemungkinan, Sarah sudah pernah memberikan racun sebelumnya. Apalagi, dia tidak 24 jam selalu mengawasi sang ayah. Dan ditambah, Rehan mengalami penyekapan yang entah sudah berapa lama di ruangan kotor, pengap seperti yang ia temukan.
“Oh, kebetulan. Baiklah! Saya akan siapkan jadwalnya.”
Setelah mendapat penjelasan, mereka segera kembali untuk mengurus administrasi. Apalagi kini ditambah laporan dokter IGD, bahwa Rehan mengalami kekerasan fisik dan tidak mendapat asupan makanan ataupun minuman selama dua hari satu malam.
Diam-diam Zefon meminta pengawal untuk menjaga ruangan calon ayah mertuanya. Sementara ia tidak sedikit pun menjauh dari Yura. Berdiri tegap di belakang perempuan yang tengah menggenggam tangan renta sang ayah yang tertancap selang infus di sana.
Bahu Yura tampak menegang, matanya memerah dengan segenap amarah yang membuncah. Ia bersumpah akan membunuh dua iblis yang ada di rumahnya.
Setelah diam beberapa saat Zefon menyentuh bahu Yura sembari berkata, “Saudara tirimu ada di tanganku.”
“Sarah juga?” tanya Yura menoleh.
__ADS_1
“Ah, aku melupakannya. Nanti biar dijemput Calvin.”
“Shittt! Kita harus ke sana sekarang. Sebelum wanita iblis itu kabur!” seru Yura beranjak dari duduk dan bergegas keluar.
Zefon segera mengejarnya, menyamakan langkah cepat Yura. Dan segera masuk ke mobil yang masih berdiri gagah di IGD. Memang sempat ditegur oleh satpam, tapi Zefon sama sekali tak mengindahkannya.
“Tolong lebih cepat lagi!” perintah Yura ketika mereka sudah melesat di jalan raya.
Kecepatan Zefon sudah di atas rata-rata. Sepertinya Yura semakin terbiasa, ia justru ingin kecepatannya ditambah lagi. Tanpa menunggu berucap untuk kedua kalinya, Zefon mengangguk. Segera melesat bak raja jalanan.
Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai kembali di kediaman Rehan. Yura segera berlari masuk ke rumahnya, pintu tidak bisa tertutup sempurna akibat dobrakan Zefon tadi.
Tujuan pertamanya adalah kamar orang tuanya. Yura meniti anak tangga sambil berlari. “Sarah! Keluar kamu!” teriak Yura.
Meski napas terengah-engah, gadis itu sudah berdiri tepat di depan kamar. Tak sabar, Yura menendangnya dengan kuat hingga mampu merusak pintu kamar itu.
“Sarah! Keluar kamu!” teriak Yura melenggang dan mencari ke setiap sudut kamar. Tapi tidak menemukan siapa pun. Ia juga masuk ke kamar mandi, tetapi kosong.
“Mungkin kita bisa cari informasi dari anaknya,” tutur Zefon.
“Ah, iya! Di mana Tora sialan itu sekarang?” tanya Yura dengan kilat mata yang menyeramkan. Membuat Zefon tersenyum miring, sungguh, Yura terlihat sangat sexy di matanya saat ini.
“Lets go!” ajak lelaki itu berbalik dan melenggang dengan santai.
Yura menurut, tak senyum sedikit pun di wajah cantiknya, hanya aura ingin membunuh berpendar. Kedua tangannya mengepal kuat selama perjalanan, meluapkan kekesalan dan emosinya di sana.
Hingga mereka sampai di sebuah pelataran yang begitu luas. Tidak ada bangunan apa pun di sana. Hanya padang rumput dan pepohonan besar yang menjulang ke langit. Memang sangat jauh dari keramaian. Bahkan jalanan pun sangat sepi, tidak ada kendaraan selain mobil milik Zefon.
“Kita di mana? Enggak ada tanda-tanda kehidupan di sini,” tanya Yura mengedarkan pandangan.
“Jelas, ini wilayahku. Tidak ada satu pun orang yang berani menginjakkan kaki di sini," sahut Zefon dengan senyum menyeringai. Tangannya menekan beberapa tombol yang ada di mobil mewahnya itu.
__ADS_1
Yura hendak membuka mulut untuk protes, bukankah tujuan awal mereka untuk menemui Tora? Kenapa justru berada di tempat sepi seperti ini? Kepala Yura dipenuhi banyak tanda tanya.
Akan tetapi, bibirnya kembali terkatup rapat saat mobil yang ditumpanginya masuk ke dalam tanah yang terbuka. Mata Yura semakin membeliak, mobil itu berjalan pelan di sebuah lorong bawah tanah. Hanya ada satu jalur. Dinding sekelilingnya terbuat dari batu yang sangat kokoh.
Berkali-kali Yura menepuk kedua pipinya, khawatir ia hanya masuk ke dalam dunia khayalan. Lalu menoleh pada Zefon yang masih berkendara dengan santai.
“Aaaawwhh!” pekik Zefon ketika Yura mencubit pinggangnya. “Ssssshh! Kau ini keturunan kepiting atau apa? Sakit, gila!” umpat Zefon terkejut sekaligus merasakan ngilu karena Yura memelintir pinggangnya dengan cubitan kuat.
“Aku kira ini masuk ke dunia lain,” ucap Yura terkekeh, “Maaf,” sambungnya mengusap bekas cubitannya sembari menggigit bibir bawahnya.
Zefon sampai menghentikan laju mobilnya, menoleh dengan tatapan tajam lalu menarik tengkuk Yura. Dalam sekali serang, Yura gelagapan karena ciuman Zefon yang brutal.
“Aaaa! Aku enggak bisa napas!” teriak Yura setelah berhasil terlepas dari ciuman ganas.
Tanpa merasa bersalah, Zefon mendorongnya menjauh. Lalu ia kembali berkendara dengan senyum miring yang dipenuhi kepuasan. Akhirnya rasa penasarannya selama ini terobati sudah. Bibir manis yang sejak lama ia inginkan, akhirnya tergapai. Detak jantungnya meletup-letup melebihi saat menyerang musuh.
“Aaaa Zefon! Kamu mencuri ciuman pertamaku!” teriak Yura memukul-mukul lengan kekar lelaki itu.
“Kenapa? Minta dibalikin?” tanggap Zefon menatapnya.
“Heh? Balikin apaan?” Gadis itu mengerutkan dahinya dalam.
Mobil berhenti di sebuah lahan parkir yang begitu luas. Melepas seatbelt lalu mendekat pada Yura, “Nih. Aku balikin ciuman pertamamu!” bisiknya lalu kembali melummat bibir Yura hingga membuat gadis itu membeliak lebar dan berasa ditembak tepat jantungnya.
Bersambung~
Sambil nunggu update lagi, intip yuk keseruan nopel karya Kak Yayuk satu ini. Yang berjudul, SUAMIKU BURUK RUPA DAN LUMPUH
__ADS_1