Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
BAB 42 : BERSIAP


__ADS_3

Zefon menghela napas berat, “Ini bukan mainan!” ketus lelaki itu kembali berbalik, hendak mengambil beberapa senjata lainnya.


Gerakan Zefon terhenti, ketika Yura menyelusup ke hadapan lelaki itu. Jarak mereka yang sangat dekat membuat Zefon terhenyak. Yura Menatapnya lekat dan menghalangi aktivitas sang suami sembari melebarkan senyumnya.


“Apa yang kamu lakukan? Tidak usah tebar pesona! Minggir!” seru Zefon kesal. Di saat tengah terburu-buru, Yura justru mengganggunya.


“Aku serius! Bukankah pertemuan pertama kita memang menegangkan? Terus ada lagi di mana waktu kita dikejar-kejar musuh kamu sampai boom boom! Meledak di mana-mana. Jadi, aku tidak terkejut lagi. Dan aku yakin, kamu tidak akan membiarkan aku terluka. Aku percaya padamu,” papar wanita itu menaik turunkan alisnya, menggerakkan telunjuk di dada bidang Zefon.


Pria itu menepis dengan segera, sebelum merambat hingga menaikkan gairahnya lagi. Raut wajahnya tak terbaca, namun otaknya membenarkan semua ucapan Yura. “Tapi kamu tidak bisa menggunakannya!” elak lelaki itu menggeser paksa tubuh Yura.


Yura mencekal kedua lengan kekar suaminya, hingga terpaksa lelaki itu menjatuhkan pandangan pada netra sang istri. “Aku pandai memanah! Bukankah konsepnya sama? Yaitu, membidik sasaran? Aku pernah juara satu waktu pertandingan memanah di kampus,” tutur wanita itu bangga sembari menepuk dadanya yang membusung.


“Kapan kamu mengikuti ekstra memanah?” Zefon menaikkan sebelah alisnya.


Yura memutar bola matanya, “Aihh! Jangan banyak tanya. Intinya aku bisa. Ajari saja gimana cara mengokang senjatanya!” serobot Yura menarik revolver milik suaminya dengan paksa. Tangannya bergerak-gerak membuat Zefon panik dan segera merebutnya.


“Oke! Oke! Jangan ini dan jangan di sini! Kamu bisa membunuhku. Mau jadi janda kembang?” canda lelaki itu mencari senjata yang tepat untuk wanitanya.


“Ya janganlah! Hei, kau sudah merenggut mahkotaku. Enak aja disuruh menjanda. Tanggung jawab Anda di mana, hah?” sentak wanita itu tidak terima.

__ADS_1


Tak ingin membalas lagi, Zefon mendorong tengkuk Yura agar mendekat, lalu memagut bibir manis yang sudah mencandu itu.


Masih sama, terkejut sekaligus gelagapan karena serangan tak terduga dari sang suami. Ia mendorong dada Zefon ketika hampir kehabisan napas.


“Bicara begitu lagi, kamu tidak akan bisa berjalan setelahnya!” ancam lelaki itu meraih sebuah revolver dengan ukuran lebih kecil.


‘Cih! Bukannya dia yang mulai! Padahal biasanya wanita yang selalu benar. Ternyata tidak berlaku dalam kamus dia!’ protes Yura, namun tentu saja hanya berani dalam hati.


“Ini. Cara bukanya tarik tuas ini dulu, bidik sasaran dan tembak! Paham?” jelas Zefon singkat, padat dan jelas sembari menunjuk benda mematikan itu.


“Siap jelas, Om Suami!” Yura menjawab dengan lantang sembari meletakkan jemari, dengan posisi hormat di pelipisnya.


“Apalagi ini Om Suami?” Zefon menghela napas panjang. Merapikan anak rambut sang istri lalu menyisipkan senjata di balik jaket Yura. “Jangan jauh-jauh!” pesannya menangkup kedua bahu Yura.


Melihat Yura yang sangat penurut dan tangguh, Zefon menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Memejamkan mata sesaat sembari menghirup dalam-dalam aroma lembut dan wangi khas sang istri. Mengisi amunisi kekuatan, sebelum terjun ke medan perang.


Tak berapa lama, terdengar desing baling-baling helikopter yang mendarat di rooftop mansionnya. Zefon mengurai pelukan, menatap sang istri lamat-lamat. “Kamu siap?”


“Asal denganmu, aku selalu siap!” jawab Yura mantap, keduanya mengangguk serentak.

__ADS_1


Tangan Zefon beralih menggenggam jemari lentik istrinya, lalu keduanya melangkah cepat keluar dari kamar.


Yura meringis, karena masih tidak nyaman. Apalagi perih dan nyeri masih terasa. Cengkeraman tangannya pun lebih kuat saat menaiki anak tangga.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Zefon menoleh pada Yura yang melangkah kaku.


“Sedikit ... sakit,” rintih wanita tetap tersenyum. Antara malu dan menahan nyeri tersebut.


Tanpa basa basi lagi, Zefon berdiri di depannya sedikit merunduk. Melilitkan kedua lengan Yura di leher lalu menggendongnya. “Apa lebih baik?”


“Emmm.” Hanya itu yang terucap. Walaupun sebenarnya sama saja. Yura hanya tidak ingin semakin membebani Zefon.


Sesampainya di rooftop, para bawahan Zefon yang berbaris tercengang sembari membelalakkan matanya lebar-lebar. Tetapi tubuh mereka masih berdiri tegap dan membungkuk serentak untuk memberi hormat sampai Zefon dan Yura meniti tangga helikopter.


 


 Berrsambung~


Kepoin karya keren satu ini ya, Best! karya dari Reni.t yang berjudul Istri Tangguh milik Tuan Arogan

__ADS_1



 


__ADS_2