Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
BAB 39 : AKU BELUM SIAP


__ADS_3

“Tugas Mama selesai dan harus segera pergi sama Papa. Yura, kalau diapa-apain sama Zefon, langsung hubungi Mama ya, Nak!” ucap Cheryl mengusap lengan menantunya, lalu memeluk sekali lagi.


Yura membalas pelukan hangat itu, “Iya, Ma. Kenapa buru-buru pergi?”


“Iya, sudah seminggu LDR. Dan papamu enggak bisa lama-lama ninggalin kerjaan. Mama titip Zefon ya, dia sebenarnya sangat manja. Tidak usah diantar, kalian langsung pulang saja,” gumam Cheryl mengurai pelukannya.


“Hati-hati ya, Ma.” Hanya itu yang bisa disampaikan oleh Yura. Beralih pada Jourrel lalu mencium punggung tangannya.


“Yang sabar ya, ngadepin anak papa,” tutur Jourrel menepuk puncak kepala menantunya, yang hanya dibalas senyum dan anggukan dari Yura. “Ze, jangan bikin menantu papa kelelahan,” sambungnya menatap Zefon yang sedari tadi diam saja.


“Hmm,” sahut Zefon singkat.


\=\=\=000\=\=\=


Sesampainya di mansion, Yura turut masuk ke kamar Rehan. Sudah ada seorang perawat khusus untuk memantau kondisi lelaki itu, juga memberi obat tepat waktu.


Yura duduk di tepi ranjang sembari menggenggam tangan renta ayahnya. Ada setitik kelegaan yang terpancar dari matanya, ketika masih bisa menyelamatkan sang ayah


“Yura, selamat menempuh hidup baru. Maafkan semua kekhilafan Ayah selama ini. Semoga selalu bahagia,” ucap Rehan dengan lirih.


“Iya, Ayah jangan terlalu banyak pikiran. Sekarang fokus sama kesembuhan Ayah dulu ya. Yang penting, mulai sekarang Ayah harus percaya sama Yura,” sahut gadis itu berkaca-kaca.


“Istirahat ya, Yah,” sambungnya merapikan selimut tebal di tubuh sang ayah lalu beranjak keluar.


Tubuh gadis itu berjingkat kaget saat menutup pintu, karena hampir membentur dada bidang Zefon yang berdiri tegap di sana.


“Astaga, Tuan. Bisa tidak jangan selalu membuat saya jantungan?” keluh Yura menekan dadanya.


“Buang panggilan Tuan itu. Aku suamimu sekarang!” ketus lelaki itu dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Yura berpikir sejenak, ia bingung harus memanggil apa, “Eum, baiklah, Zefon,” tuturnya pelan.


“Tidak sopan!”


“Om?”


Zefon mendelik ketika panggilan menggelikan itu terucap dari bibir tipis Yura. “Gila! Memangnya aku sugar daddy-mu?” sembur Zefon menoyor kepala Yura. “Ganti gaunmu! Kamu masih ada latihan lagi!” titah lelaki itu.


“Latihan apa lagi?” keluh Yura kesal. Pasalnya setiap pagi ia harus menemaninya jogging mengelilingi mansion sebelum beraktivitas. Meski tidak pernah bisa mencapai separuhnya.


“Kalau protes, aku akan menyeretmu ke ranjang sekarang juga!” ancam Zefon tersenyum menyeringai.


Manik Yura seketika membelalak dengan lebar. Panik, segera menaikkan gaun putihnya dan melenggang ke kamarnya.


“Eits! Mau ke mana?” sergah Zefon menarik ujung gaun Yura dari belakang.


“Kamar! Katanya suruh ganti baju?” decak Yura kesal.


“Pa ... pakaian aku di sana,” tunjuk Yura di kamar lamanya.


"Pelayan sudah menyiapkan semuanya. Di kamarku juga ada pakaian kamu! Mulai sekarang kita tidur di kamar yang sama!” tandas lelaki itu dengan tegas dan tidak ingin dibantah.


Yura menoleh, tubuhnya saling berhadapan meski ia harus mendongak untuk dapat menikmati wajah tampan suaminya.


Belum sempat mengatakan apa pu, Zefon langsung menyambar bibir ranum yang dulu selalu menggodanya. Kali ini tidak ada ampun lagi. Pria itu dengan rakus menyesap setiap inchi bibir gadis itu tanpa sisa.


Jemari Yura mencengkeram kuat jas yang dikenakan oleh Zefon. Kakinya mendadak lemas seolah tak bertulang, jantungnya bertalu dengan begitu kuatnya. Sangat berbeda dengan ciuman sebelumnya. Kali ini lebih menuntut dan ganas. Yura tak dapat menghindar atau mengelak.


Dalam sekejap, Zefon merengkuh tubuh Yura dalam gendongannya. Refleks gadis itu mengalungkan tangan di leher kokoh lelaki itu. Kakinya melangkah tegas menuju kamar, masih dengan pagutan yang sesekali terlepas namun kembali menyerangnya lagi.

__ADS_1


Sepertinya, Zefon sudah tidak bisa menahan hasratnya lebih lama lagi. Lain di bibir lain di hati. Ucapannya tidak konsisten.


Tak butuh waktu lama, Zefon sudah memasuki kamar pribadinya yang begitu mewah dan luas. Kakinya terus melangkah hingga sampai di ranjang king size miliknya, merebahkan Yura dengna perlahan.


“Tu ... tunggu! Tunggu! Bukankah tadi kamu mengatakan kita akan latihan? Kenapa kita ... ah kamu, keluar dulu. Aku akan mengganti gaunku,” sergah Yura mendorong dada Zefon.


Pria itu menegakkan tubuhnya, melepas jas, dasi dengan sedikit kasar, “Ini juga termasuk latihan!” ucap Zefon meraih sebuah remote control dan menekannya. Pintu kamar itu terkunci otomatis.


“Latihan apa di kamar?” gumam Yura menyandarkan punggung sembari merapatkan selimut tebal hingga dada.


Zefon tersenyum tipis, membungkuk hingga jarak mereka sangat dekat, embusan napas mereka pun terasa. “Latihan membuat anak,” bisiknya dengan nada suara yang mulai berat.


Detak jantung Yura semakin bertambah berkali-kali lipat, manik matanya membola dengan lebar. “A ... aku belum siap,” teriak gadis itu memejamkan mata dengan cengkeraman kuat pada selimut.


\=\=\=0000\=\=\=


Di sisi lain, seorang pria tengah menyiapkan rencana di markas besarnya bersama para bawahannya. Di antara orang-orang itu, ada Sarah yang juga turut serta.


Sarah yang saat itu mencoba meminta bantuan pada anggota Klan Ganesha, yang pernah memberinya racun mematikan itu untuk menyelamatkan Tora dari sekapan seseorang.


Selain menjanjikan sejumlah uang, Sarah juga menawarkan servis memuaskan untuk bisa membalas dendam pada Yura sekaligus menyelamatkan putranya. Setelah ditelusuri, ternyata berkaitan dengan Zefon, di mana pria itu adalah musuh bebuyutan mereka.


"Hmmm! Kita tunggu waktu yang tepat!" gumam pria kekar bertato gajah di lengannya itu.


 


Bersambung~


Next rekomendasi novel seru guys... Dari Kak Santi Suki yang berjudul Cinta Tak Pernah Salah. Mampir kuyss...

__ADS_1



 


__ADS_2