
Yura dan Zefon diantar oleh salah satu anak buahnya. Calvin harus menggantikan Zefon memberikan instruksi pada bawahannya. Kemudian turut menyusul, mengendarai mobil seorang diri, meski tubuhnya sendiri serasa remuk redam.
Perjalanan bagi mereka terasa sangat panjang. Yura terus membelai kepala Zefon yang berada di pangkuannya. Tubuh kekar pria itu terasa menggigil.
Tiba di mansion, Yura meminta bantuan untuk membawa Zefon ke kamarnya terlebih dahulu. Ia segera kembali turun untuk menentukan kamar Zeva. Sebuah kamar tamu yang cukup luas, ia mengecek setiap jendela sudah dipasang tralis besi, tidak akan bisa dijebol begitu saja. Pintu kamarnya hanya ada dua, satu kamar mandi yang tertutup rapat, satunya lagi pintu utama kamar.
“Di sini aman. Tolong bawa Zeva ke sini. Emm ... mungkin ini sedikit kejam. Tapi harus dilakukan, tolong nanti borgol salah satu tangannya dengan ranjang. Aku yakin jika dia sadar akan memberontak dan sulit diajak bicara. Dia harus tenang lebih dulu,” perintah Yura pada beberapa anak buah Zefon yang mengekorinya sedari tadi.
“Siap, Nyonya!”
Yura mengangguk, perintah pun segera dijalankan. Kepala pelayan mendekat, hampir saja terjatuh jika tidak berpegangan dinding saat melihat nona mudanya digendong beberapa pengawal.
"Nyonya? Ini benar....?” tanya pria paruh baya yang sudah lama mengabdi di mansion Zefon.
“Masih perlu diselidiki, tapi siapa pun dia, tolong tetap layani dengan baik. Aku terpaksa memborgolnya, Paman. Karena sebelumnya dia memberontak bahkan memukuli Ze ...” Yura membeliak teringat dengan suaminya. “Paman, tolong siapkan air hangat di baskom dan bawa ke kamar atas.”
Yura berlari meniti anak tangga, teringat dengan suaminya. Ia tak peduli dengan sakit di wajah dan tubuhnya. Perih dan nyeri itu masih bisa ia tahan. Di kamar, Yura segera mengambil kotak P3K, meletakkannya di atas ranjang. Ia naik dan duduk di sebelah sang suami.
“Zeva ... Zeva ....” gumam Zefon tiada henti. Matanya terpejam, bibirnya semakin mengering dan pucat.
__ADS_1
“Permisi, Nyonya!” Kepala pelayan mengetuk pintu kamar.
Yura melompat dari ranjang, berlari kecil membuka pintu, lalu menerima sebuah air hangat dalam baskom lengkap dengan wash lap-nya. “Terima kasih, Paman,” ucapnya tersenyum.
“Ada yang perlu saya bantu lagi, Nyonya?” tawar lelaki itu.
“Tidak, Paman. Ah satu lagi, tolong jangan sampai kejadian ini sampai ke telinga Mama dan Papa. Aku ingin semua jelas terlebih dahulu. Takutnya, Mama sakit hati jika bertemu dengan Zeva sekarang. Ia bahkan tidak mengenal Zefon,” pinta Yura.
“Akan saya laksanakan, Nyonya. Saya akan mengumpulkan para pelayan agar tutup mulut dan melakukan apa yang Nyonya perintahkan,” balas pria separuh baya itu membungkuk patuh.
“Sekali lagi, terima kasih, Paman. Selamat malam.” Yura kembali menutup pintunya.
Selesai membersihkan diri, Yura merebahkan tubuh dan memeluk suaminya. Ia tidak bisa tidur, banyak sekali pikiran dan perasaan berkecamuk dalam benaknya.
Ingin mengabari Luna, dokter pribadi mereka rasanya tidak etis. Yura belum terlalu mengenal dokter cantik itu. Meskipun sudah berulang kali bertemu dan terlihat sangat baik. Yura tidak ingin mengambil resiko, menunggu keputusan suaminya esok hari. Tugasnya malam ini, menjaga dan merawat suaminya. Yura menyelusupkan jari-jari ke tangan besar suaminya, menggenggamnya dengan sangat erat.
\=\=\=000\=\=\=
Cahaya mentari mulai menyelusup melalui celah jendela, menembus kelopak mata sepasang manusia yang masih terlelap. Dengan berat, Zefon mulai mengerjapkan mata.
__ADS_1
Zefon terdiam beberapa saat, mengingat-ingat kejadian yang baru saja ia lewati. Tiba-tiba terperanjat duduk, saat mengingat Zeva. Napasnya terengah-engah.
Gerakan kasar di sampingnya membuat Yura ikut terbangun. Ia mengusap bahu Zefon yang menegang. Menumpukan pipi di salah satu lengan suaminya.
Zefon menoleh, mengecup kening Yura sembari menghela napas lega. Ya, lega karena istrinya baik-baik saja. “Yura, semalam aku melihat Zeva. Di mana dia?” tanya Zefon dengan suara seraknya.
“Ada di kamar bawah. Tapi maaf....” Yura takut melanjutkan kalimatnya.
Sepasang alis Zefon saling bertaut, “Maaf kenapa?” tanya lelaki itu penasaran.
“Salah satu tangannya aku minta diborgol dengan ranjang. Takutnya dia kembali memberontak dan kabur. Jadi, aku mengurugnya." Yura menunduk, tidak berani menatap suaminya. “Tapi ... tapi aku sudah meminta kepala pelayan untuk tetap melayaninya dengan baik. Aku hanya takut dia melarikan diri saja sebelum kita tahu kejadian yang sebenarnya,” sambungnya dengan cepat.
Zefon terdiam, keningnya mengerut dalam. Tampak jelas tengah berpikir dengan keras. Yura meliriknya, ia menjadi was-was sekaligus takut, tidak terima adiknya diperlakukan seperti itu.
Bersambung~
Rekomendasi Novel seru nih guys. Punya ka desy puspita, mampir ya R
__ADS_1