
Hari demi hari silih berganti, Zeva didampingi Dokter Luna menjalani pengobatan dan terapi. Setelah mendengar pengakuan Boris, keinginan Zeva untuk sembuh begitu kuat. Setiap hari Luna juga memberi rangsangan melalui album fotonya sejak kecil hingga beranjak dewasa.
Lima bulan berlalu begitu cepat, kandungan Yura sudah semakin besar. Sejak tahu ada generasi penerus keluarganya, Cheryl memaksa anak dan menantunya untuk tinggal di rumah utama. Bersama Tiger dan Jihan. Begitu pun dengan Rehan—papa Yura juga diboyong ke rumah utama. Kesehatannya sudah membaik. Sudah bisa beraktivitas seperti biasa.
Rumah utama yang sepi dan tak berpenghuni selama satu tahun penuh, kini bertambah ramai dan hangat.
Tiger tidak bisa sembuh sepenuhnya, ia harus menghabiskan sisa usianya di kursi roda. Syarafnya sudah pernah rusak tepat saat kelahiran putri pertamanya dulu. Sehingga ketika kembali mengalami kecelakaan, Tiger sudah tidak bisa sembuh sepenuhnya. Cacat permanen, tidak bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Bicara pun ia kesulitan, hanya istrinya yang mengerti apa yang ia ucapkan. Bisa selamat saja, sudah suatu keajaiban.
Cheryl juga terus menanyakan Zeva, memaksa ingin bertemu dengannya. Akan tetapi Zefon melarangnya tegas. Mengingat sikap sang mama yang emosional, khawatir akan menghambat penyembuhan Zeva. Bersyukur, kehamilan Yura sedikit memberinya pengalihan.
“Yura, nanti Mama antar belanja ya. Beli baju-baju bayi. Kelahiran kamu sudah semakin dekat lho,” ajak Cheryl di tengah sarapan paginya.
“Iya, Nak. Siapin dari sekarang. Takutnya kelahirannya tak terduga sama seperti Mama Cheryl dulu,” tambah Jihan yang dengan telaten menyuapi suaminya.
Yura menoleh pada suaminya, dari sorot mata ingin meminta izin. Selama kehamilan, Zefon sangat protektif pada istrinya.
“Boleh kalau sama Mama,” sahut Zefon mengangguk.
__ADS_1
“Makasih, Sayang,” balas Yura.
Bibir Tiger tampak mengulas senyum tipis, apalagi saat menatap manik istrinya seketika berkaca-kaca. Ia tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya saat ini.
\=\=\=000\=\=\=
Zefon bergegas berangkat ke markas. Sampai di sana, ia menemukan Boris yang menjadi pemimpin garda penyerangan Klan Black Stone. Jika memang dia mencintai Zeva, Boris harus bisa membuktikannya, membentuk pasukan yang kuat juga bersumpah tidak akan berkhianat. Dan selama lima bulan, Boris telah menunjukkan kesungguhannya.
“Boris!” panggil Zefon di ambang pintu.
“Siap, Tuan!” Pria itu segera berlari menghampiri Zefon.
Tanpa bertanya apa pun, Boris mengangguk patuh. Berjalan mengekor di belakang Zefon. Selama ini ia belum pernah keluar sekali pun dari markas. Zefon tidak melepaskannya, karena sudah bisa dipastikan Rudolf akan mengincarnya.
“Duduklah!” perintah Zefon menunjuk kursi di depannya.
Zefon sibuk menyalakan laptop dan mengeluarkan ponselnya. Tampak tengah menghubungi seseorang. Hingga tak berapa lama, pintu ruangannya diketuk.
__ADS_1
Calvin masuk lebih dulu, di belakangnya ada dua orang wanita yang langkahnya semakin dekat. Boris sama sekali tidak memedulikan, ia tetap fokus pada Zefon dan menunggu perintah.
“Boris!” panggilan itu seketika membuat Boris menoleh kilat.
Ia beranjak berdiri, menyambut wanita yang sangat ia cintai itu. Memeluknya begitu erat. Ya, Zeva datang bersama Dokter Luna.
“Bagaimana Aunty?” tanya Zefon ketika Luna berdiri tepat di sampingnya.
Luna menggeleng pelan, “Dia masih tidak ingat apa pun. Ada baiknya dipertemukan dengan mamamu, Ze. Untuk merangsang ingatannya kembali,” tuturnya menghela napas panjang.
Zefon menyugar rambutnya ke belakang, ia teringat betapa kerasnya Zeva ketika pertama kali mereka bertemu dulu. Apalagi jika mengingat Zeva pernah berusaha melukai istrinya.
“Yura sedang hamil, Aunty. Aku takut ....”
“Ada Mamamu, aku yakin tidak akan terjadi sesuatu yang buruk. Lagi pula, emosinya sudah stabil sekarang.”
Zefon menatap nanar adiknya, ia sakit hati melihat Zeva lebih dekat dengan orang asing dari pada dirinya. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Zefon mengizinkan Luna mengantar pada Cheryl.
__ADS_1
Bersambung~