Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
Bab 71 : Sakit


__ADS_3

Layar lebar yang dioperasikan oleh Calvin, menunjukkan laporan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Gala. Selama hampir satu jam mereka bergeming mengamati slide demi slide yang tertera di layar tersebut.


Zefon menghela napas panjang, kedua tangannya mencengkeram kuat. Semua laporan itu sama persis yang diungkapkan oleh Boris, identitas Rudolf, serta sejarah dendam yang bergulir untuk Tiger. Sayangnya, Gala tidak dapat mengakses tempat tinggal Rudolf, sistem keamanannya tidak dapat diterobos dengan mudah.


“Berhati-hatilah, Kak. Perketat penjagaan. Takutnya dia tengah mengintai keluarga Kakak saat ini,” tutur Gala memperingatkan. Sedari tadi mereka masih tersambung. Gala sekaligus menjelaskan apa yang ia dan tim temukan.


“Oke, terima kasih, Gala,” ucapnya tulus pada sepupunya itu.


Zefon menyandarkan punggung sembari menutup mata. Semua ucapan Boris benar adanya. Tapi dia tidak bisa percaya begitu saja. Zefon segera menghubungi Dokter Luna, untuk terus memantau kondisi Zeva.


Ia juga telah memanggil dokter syaraf terhebat atas rekomendasi Dokter Luna. Untuk sementara waktu, Zefon tidak menemui Zeva lebih dulu. Khawatir akan memperlambat proses penyembuhannya. Karena Zeva selalu emosi setiap melihat kakaknya.


...\=\=\=000\=\=\=...


Di rumah sakit....


Jihan tertidur usai meminum obatnya. Kini Cheryl bergegas ke ruangan papanya, di mana hanya ada menantu kesayangannya di sana.


“Sayang, kamu tunggu di sini dulu. Aku mau lihat Papa dan Yura sebentar. Perasaanku enggak enak,” tutur Cheryl pada suaminya.


“Iya, Sayang. Kalau ada apa-apa langsung hubungi saja,” balas Jourrel mengangguk.


Cheryl melangkah panjang keluar dari ruang perawatan. Entah kenapa dadanya berdebar sedari tadi. Khawatir terjadi sesuatu dengan sang papa, Cheryl nyaris berlari.

__ADS_1


Tiba di ruangan, matanya membeliak lebar. “Papa!” jerit Cheryl berlari menghampiri.


Pria tua itu telah membuka kelopak matanya. Hanya saja tidak bergerak, mulutnya yang kering juga tampak bergerak ingin mengucapkan sesuatu. Kedua sudut matanya tampak basah.


“Astaga, di mana Yura? Kenapa dia ninggalin Papa sendirian!” teriak Cheryl panik menekan nurse call berulang kali. Ternyata firasatnya tidak salah. Sejak tadi dadanya berdebar tak karuan, tapi tidak bisa meninggalkan mamanya.


Cheryl mengedarkan pandangan, tidak menemukan siapa pun di sana. Padahal Yura sudah berjanji akan menjaga Tiger.


Beberapa perawat bersama dokter berdatangan. Mereka segera memeriksa kondisi Tiger. Meminta Cheryl untuk segera keluar dari ruangan.


Dengan berat hati, Cheryl menyeret kedua kakinya keluar, di sana ia menemukan Yura berjalan tertatih-tatih.


“Yura, dari mana saja kamu? Bukankah sudah Mama bilang, jaga Opa! Kenapa malah keluyuran hah? Kamu tahu nggak, Opa sadar dan tidak ada yang menjaganya! Bagaimana kalau ada apa-apa sama Opa, hah? Kamu mau bertanggung jawab?! Kamu kenapa teledor begini?” cecar Cheryl dengan amarah meledak-ledak.


“A ... apa, Ma? O ... Opa sadar?” tanya Yura terbata-bata. Ia tersentak atas bentakan dari ibu mertuanya, manik matanya langsung memburam karena terhalang oleh air mata. Sesakit itu hatinya mendapat bentakan Cheryl untuk pertama kalinya.


“Maaf, Ma!” ucap Yura di tengah isak tangisnya. Lama kelamaan tangisnya semakin pecah.


Dari kejauhan Zefon berlari melihat istrinya menangis tersedu-sedu. Zefon sampai meninggalkan Calvin yang masih berbicara dengannya.


“Sayang! Yura, kenapa? Ada apa?” tanya Zefon panik berlutut di depan istrinya. Tangannya menggenggam jemari lentik Yura yang dingin dan bergetar hebat. Wajah cantik itu bahkan terlihat sangat pucat.


Zefon menaikkan pandangan, membingkai wajah mungil Yura, menatapnya penuh tanya. “Ada apa, Sayang?”

__ADS_1


“Maaf ... Maafin aku, Ze. Maaf, Ma,” ucapnya tersendat karena tangisnya semakin pecah.


Zefon beralih duduk di sampingnya, menarik sang istri ke dalam dekapannya, membelai lembut kepala hingga punggungnya, “Ssstt ... tenang, Sayang. Bicara pelan-pelan,” ucapnya lembut.


“Dia ninggalin Opamu sendirian di dalam sana, Ze! Dan kamu tahu, Opa sudah sadar. Tapi enggak ada yang menjaganya sama sekali. Bukankah tadi aku sudah berpesan supaya dia menjaganya sampai Axel datang! Untung saja aku segera ke sini. Karena perasaanku enggak enak sedari tadi. Kalau ada apa-apa sama opamu bagaimana?” papar Cheryl masih emosi. Ia takut kehilangan sang papa.


Zefon memejamkan matanya, ia menghela napas berat berusaha menekan emosinya, mendongak untuk menatap sang mama yang masih tersulut emos, “Jangan bentak-bentak istriku, Ma. Bicara baik-baik ‘kan bisa? Mama enggak lihat dia sepucat ini?” bela lelaki itu.


“Maaf,” lagi-lagi hanya itu yang terlontar dari bibir Yura. Ia ketakutan, pelukannya pada tubuh Zefon semakin menguat. Bahkan tidak bisa dilepas saat Zefon ingin menatapnya.


"Enggak apa-apa, lihat aku,” pinta Zefon berusaha melepas lilitan tangan Yura.


Wanita itu menggeleng, tidak berani melepas pelukannya. Hanya dada sang suami yang menjadi pelindung sekaligus penopang hidupnya saat ini. Ketakutan semakin merayap di hatinya. Apalagi melihat kemarahan Cheryl untuk pertama kalinya.


“It’s Oke, bisa jelasin kamu dari mana, hemm? Kamu sakit? Sini lihat aku dulu,” ucap Zefon masih berusaha melepas tangan Yura.


Barulah Yura meregangkan pelukannya. Zefon menaikkan dagu sang istri, menyeka air mata yang menghujani kedua pipi wanita itu. Hidung dan matanya memerah, isak tangis sang istri membuat Zefon merasa sesak.


“A ... aku ....” Tidak sempat berucap lebih panjang, wanita itu kehilangan kesadaran dalam pelukan sang suami.


“Yura! Yura bangun, Sayang! Hei, apa yang terjadi? Cal, panggil dokter cepat!” teriak lelaki itu panik.


 

__ADS_1


 


Bersambung~


__ADS_2