
Suara ledakan cukup memekakkan telinga, merobohkan dinding pagar yang yang menjulang tinggi mengelilingi kediaman dua lantai itu. Getaran terasa sampai pada semua anggota Klan Black Stone, termasuk Zefon. Netra tajamnya tak berkedip memerhatikan bagaimana paniknya para pengawal Rudolf, berhamburan keluar dengan senjata di tangannya.
Senyum miring tercetak di bibir Zefon, “Jangan kasih celah, kecuali bosnya. Itu bagianku!” titah Zefon.
Boris fokus memantau anak buahnya. Memberikan instruksi melalui saluran suara, karena ia mengamati dari layar bagaimana gerakan musuh.
Desing peluru saling bersahut-sahutan. Zefon sama sekali tak terganggu. Sedangkan Boris, setia mendampingi.
“Tuan, satu mobil civic baru saja keluar diikuti dua mobil di belakangnya,” lapor Boris.
“Arah?”
“Arah jam 3. Sudah ada yang stan by di jalur tersebut,” tambah Boris lagi.
“Hmm ... putar balik. Kita harus bisa mencegatnya dari arah depan.”
Zefon yakin, tipe Rudolf akan melarikan diri dari kekacauan. Hanya mengorbankan anak buahnya sebagai tumbal.
Dengan kecepatan tinggi, Boris segera keluar dari persembunyian. Tak berapa lama mobilnya berhenti tepat berhadapan dengan mobil civic yang diyakini ada Rudolf di dalamnya. Sedangkan dua mobil pengawalnya sudah dihadang oleh para bawahan Boris.
Selang beberapa detik, dua orang berjas hitam turun dari mobil tersebut sembari menodongkan senjata.
“Biasanya masih ada tangan kanannya, Tuan.” Boris menoleh pada bosnya.
“Itu bagianmu. Satu sama ‘kan?” tutur Zefon mengedikkan dagu sembari mengokang senjata.
Boris mengangguk, ia juga sama mengokang senjata api miliknya. Keduanya mengangguk bersamaan, kompak mencekal pintu mobil.
DOR! DOR! DOR!
Gerakan dua pria itu tak tertebak. Keluar dari mobil, secepat kilat melesakkan timah panas pada dua pengawal Rudolf hingga terkapar dengan lubang bersarangnya peluru yang memenuhi tubuh mereka.
Zefon dan Boris langsung berlari, gerakan mereka serentak membuka pintu mobil penumpang dan menodongkan senjata. Keduanya langsung disambut moncong pistol juga.
Tepat seperti dugaan Boris, Rudolf duduk bersebelahan dengan pria kekar dengan wajah penuh tato. Mereka sama-sama terdiam. Hanya tatapan yang begitu tajam saling menghujam satu sama lain.
__ADS_1
Boris segera mengayunkan kaki panjangnya, tepat mengenai pistol musuhnya. Lalu menarik paksa pria bongsor itu keluar dari mobil.
“Dasar pengkhianat!” sembur pria itu melotot tajam pada Boris.
“Tidak usah munafik. Kamu saja yang bodoh karena mau dijadikan anjing peliharaan manusia tak berhati seperti Rudolf!” balas Boris tersenyum sinis.
Merasa emosi karena disamakan anjing, pria gempal itu langsung menyerang Boris. Keduanya saling baku hantam, adu kekuatan tanpa senjata. Pukulan demi pukulan saling beradu.
Zefon menggertakkan gigi-giginya, kilasan masa lalu di mana saat bertemu Zeva, oma dan opanya kembali terlintas di benaknya. Kobaran api seakan menyalak-nyalak dari kedua netranya.
"Kalau merasa gentle turunlah!" perintah Zefon menggerakkan revolver di tangannya, mengarahkan agar pria itu segera keluar.
Rudolf tersenyum miring, decak kesal terdengar dari bibirnya. Pria tua itu memutar bola matanya malas. “Aku tidak ada urusan apa pun denganmu. Tapi kamu lancang mengusikku!” geram lelaki itu meremas gagang pistolnya.
Zefon menghela napas panjang, gerahamnya mengetat. Ia langsung menendang tangan Rudolf lalu merambat ke pipinya.
Tidak menyangka mendapat serangan tiba-tiba, Rudolf terhempas. Zefon langsung menarik kedua kaki pria itu, tidak peduli kepalanya terbentur sisi mobil hingga Rudolf keluar sepenuhnya.
“Tidak ada urusan kamu bilang?" geram Zefon melepas ikat pinggangnya. Melilitkan pada leher Rudolf yang beranjak bangun. Semakin menguatkan cengkeramannya hingga lidah Rudolf menjulur dan kedua kakinya bergerak tak beraturan.
Di saat hampir kehabisan napas, Rudolf melompat, menendang badan mobilnya lalu melayangkan tendangan putar pada dada Zefon. Lilitan ikat pinggang pun terlepas. Tubuh Zefon terpukul mundur beberapa langkah.
“Cuih! Anak ingusan sepertimu ingin melawanku? Lagi pula orang yang mati di tanganku terlalu banyak. Aku tidak mengenalmu. Lebih baik, jangan ikut campur kalau tidak ingin mati juga!” gumam Rudolf menggerakkan lehernya yang terasa nyeri.
Zefon malas berbasa-basi. Ia langsung mendorong tubuh Rudolf menghantamnya dengan bogem mentah bertubi-tubi. Melampiaskan kemarahan yang selama ini terpendam. Meluapkan amarah karena sudah membuat keluarganya menderita satu tahun terakhir.
Rupanya Rudolf tidak semudah itu ditumbangkan. Sekalipun dia sudah berumur, tapi kekuatannya tidak kalah dengan Zefon. Karena memang, ia selalu konsumsi obat-obatan yang diracik sendiri demi bisa tetap bugar dan kuat.
Pembalasan telak, Zefon juga terkena pukulan bertubi-tubi. Keduanya sama-sama kuat, sama-sama berdarah-darah di wajah dan beberapa memar di tubuh mereka.
Langit cerah perlahan mulai membias. Sinar mentari perlahan naik, menggantikan malam yang gelap. Pertempuran dua klan masih berlangsung sengit. Rudolf sempat memanggil para anggotanya yang lain.
Desing peluru dari kejauhan mulai terdengar. Zefon bergerak cepat mendorong Rudolf masuk ke mobil. Menginjak kedua lengannya sekuat tenaga. Erangan kesakitan menggelegar, pria itu tak peduli.
“Boris?”
__ADS_1
“Sudah siap, Bos! Waktu tinggal tiga puluh detik!” teriak Boris usai menghabisi tangan kanan Rudolf dalam tiga kali tarikan pelatuk.
“Selesaikan semuanya yang di sini!” titah Zefon melajukan mobil milik Rudolf dengan kecepatan tinggi.
Rudolf berusaha bangun, napasnya terengah-engah. Matanya mencari-cari senjata yang sempat terlempar semalam.
“Aaaarrhh!” teriak Rudolf berusaha menggapai pistolnya yang terjepit di ujung jok.
Zefon melirik ke belakang, ia tak peduli dengan kesakitan yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Terus konsentrasi mencari tempat yang tepat.
Terdengar suara denting bom yang siap meledak. Semalam, Boris menjatuhkan bom berukuran kecil ke dalam mobil Rudolf. Sudah dipasang waktu sebelumnya, hingga Zefon puas menghajar lelaki itu sebelum benar-benar menghabisinya.
Zefon melirik jam di tangannya. “Sepuluh detik lagi!” gumamnya membelokkan mobil tepat pada jurang yang sangat curam. Di bawahnya ada sungai yang mengalir begitu deras.
“Mati kau sialan!” teriak Rudolf melesakkan peluru tepat pada kepala Zefon.
DOR!!
DUARR!!
Disusul dengan ledakan dahsyat dari mobil tersebut lalu terjatuh ke jurang yang begitu dalam.
Bersambung~
Napas gaess.. napas 🙏😭
Yoklaah mampir ke novel keren ini juga, Best... yang cukup menguras anu... Karya Mom Al.. Dilema Dalam Pernikahan 💖
__ADS_1