
“Zeva? Di mana Zeva?” gumam Cheryl segera berbalik dan mempercepat langkahnya. Tubuhnya gemetar mengingat putrinya, bahkan air matanya menetes begitu saja. Tiba di lantai bawah, Cheryl langsung menghubungi Zefon. Tak menunggu lama, keduanya saling terhubung.
“Ze, kamu di mana, Ze?” tanya Cheryl memutar tubuh mencari-cari keberadaan putranya.
“Ada di ruang VIP Obgyn, Ma. Lantai 11. Kenapa?”
“Mama mau bicara.”
Cheryl segera mematikan telepon. Mencari di mana ruangan yang ditunjukkan oleh Zefon. Dadanya kembali sesak kala mengingat putrinya.
Zefon menunggu kedatangan mamanya di depan pintu lift. Terkejut kala tubuh sang mama gemetar hebat saat tiba di lantai tersebut. “Ada apa, Ma?” tanya lelaki itu.
“Adik kamu di mana? Zeva juga selamat ‘kan, Ze? Di mana dia sekarang?” cecar Cheryl menggoyangkan kedua lengan Zefon.
Pria itu bergeming, takut mempertemukan mereka di saat ingatan Zeva belum pulih. Ia tidak ingin mamanya sakit hati karena tidak dikenali oleh putrinya sendiri.
“Jawab, Ze?!”
“Ma, tenang aja. Zeva bersama Aunty Luna sekarang. Tapi belum boleh ditemui. Karena Zeva harus menjalani beberapa terapi dulu,” papar Zefon menatap lekat kedua manik ibunya.
“Kenapa? Apa yang terjadi pada Zeva? Mama ingin ketemu dengannya, Ze,” seru Cheryl memaksa.
“Iya, nanti ada waktunya. Sekarang Mama harus ketemu sama menantu dan calon cucu Mama,” ungkap Zefon merangkul bahu sang mama.
__ADS_1
Cheryl menoleh dengan cepat, “Coba ulangi lagi kamu ngomong apa?”
“Emm ... Mama temuilah menantu dan calon cucumu,” Zefon mengulang ucapannya.
Mulut Cheryl menganga dengan lebar. Air mata langsung menyembur begitu derasnya. “Yura!” teriak wanita itu menangis histeris.
Tak berapa lama, Yura keluar bersama seorang suster. Ia baru sadar beberapa saat lalu, dan langsung dirujuk ke dokter kandungan. Cheryl yang melihatnya segera bersimpuh di depan kursi roda Yura. Ia memeluk menantunya sembari terisak.
“Maafin Mama, Sayang. Mama nggak bermaksud membentakmu. Maaf ya, Nak. Mama nggak sengaja. Mama hanya terlalu panik saja,” tutur Cheryl memeluk erat tubuh Yura.
“Enggak apa-apa, Ma. Yura juga minta maaf,” tutur Yura terharu. Ikut menitikkan air mata. Ia paham, bagaimana ketakutan ibu mertuanya ketika kehilangan sang ayah. Karena ia pernah berada di posisinya.
“Mari, Nyonya. Dokter sudah menunggu,” ucap suster menyela.
Cheryl justru menjadi orang yang paling bersemangat mengantarkan menantunya. Ia begitu menjaga wanita hamil itu dengan sangat hati-hati. Berkali-kali masih mengungkapkan maaf karena sudah membentaknya tadi. Zefon hanya menjadi pendengar dari dua wanita kesayangannya itu. Begitu banyak hal yang diceritakan oleh Cheryl mengenai kehamilan dan kelahiran. Terutama pengalamannya ketika mengandung Zefon dulu.
Hasil pemeriksaan memang menunjukkan jika Yura tengah hamil. Usia kandungannya sudah 8 minggu. Semua kondisi janin sehat, normal sesuai usia. Hanya saja, Yura butuh banyak nutrisi karena mulai mengalami gejala morning sickness parah.
Cheryl terus mengucap syukur diberi kebahagiaan bertubi-tubi dalam hidupnya. “Jangan mikir apa-apa ya, Sayang. Enjoy aja. Ze, perhatiin makanan dan nutrisi yang istrimu konsumsi.”
“Iya, Ma. Aku sudah memberi tahu kepala pelayan. Agar saat pulang nanti, mereka ikut menjaga Yura dan memberikan nutrisi terbaik,” balas Zefon.
“Yaudah, istirahat ya, Sayang. Mama permisi dulu.” Cheryl meninggalkan kamar tersebut usai mencium kening menantunya. Mengusap lembut perut Yura yang masih datar itu.
__ADS_1
Yura tersenyum, ia benar-benar bahagia mendapat kasih sayang tulus seperti itu, selain dari ayah dan suaminya.
Zefon mencium perut Yura bertubi-tubi. Mengusapnya dengan senyum yang lebar, “Ah, aku tidak sabar melihatnya semakin besar lalu lahir ke dunia. Terima kasih, Sayang!” ucap Zefon menciumi wajah istrinya.
\=\=\=ooo\=\=\=
“Zeva, kamu mengenalnya?” Luna menyodorkan sebuah ponsel yang menunjukkan gambar Boris.
Mata gadis itu membeliak, ia tampak begitu khawatir kala melihat Boris babak belur seperti itu.
“Boris, di mana dia sekarang, Dok? Apa aku bisa bertemu dengannya sekarang? Dia masih hidup ‘kan?” cecar Zeva berkaca-kaca,
“Hemm, masih hidup, utuh, sehat. Tapi, kamu harus dengarkan ini baik-baik.” Luna memutar rekaman CCTV yang dikirim oleh Tim Zefon. Ini salah satu cara untuk meyakinkan Zeva, jika Zefon tidak berbohong.
Zeva mendengarkan dengan saksama. Cukup lama mereka terdiam dan hanya fokus pada video di ponsel Luna. Hingga beberapa saat kemudian, Zeva membelalak lebar. Netranya terpejam rapat kala mendengar semua pengakuan Boris. Napasnya berubah pendek-pendek.
“Jadi benar, kalau aku adalah keluarga mereka,” tanya Zeva berkaca-kaca.
Bersambung~
Mampir juga ke novel keren satu ini yuk, Best....
__ADS_1