Reinkarnasi Istri Kecil Mafia

Reinkarnasi Istri Kecil Mafia
Bab 80 : Eksekusi


__ADS_3

Desing peluru saling bersahut-sahutan, semakin menambah suasana malam yang mencekam. Mobil melesat cepat, melaju berkelok-kelok menghindari lesatan timah panas yang terus menghujani mereka.


“Ini mobil siapa?” seru Zeva merunduk.


“Kakakmu!” balas Boris berteriak pula. Susah payah menyeimbangkan setir dengan serangan para musuhnya.


Tangan Zeva menjulur ke dashboard, menekan berbagai tombol yang ada di sana. Ia yakin pasti ada senjata tersembunyi di sana.


Saat menekan tombol-tombol secara acak, sebuah layar di hadapan mereka menyala. Ternyata layar itu menunjukkan rekaman di belakang mobil. Hal itu tentu memudahkan Boris dalam mengendalikan laju kendaraan.


Zeva menajamkan penglihatannya. Ia bisa menghitung ada tiga mobil hitam dengan beberapa pria menjulur separuh tubuh, mengarahkan senjata pada mereka.


“Pasti ada senjatanya juga di sini!” Zeva masih sibuk menekan tombol yang begitu banyak di mobil sang kakak.


“Aku bawa!” seru Boris di tengah ketegangannya. Namun, bersamaan pula dengan Zeva yang menemukan sebuah pistol tersembunyi.


“Telat issh! Mana?” desah Zeva kembali mengamati pergerakan musuhnya, ia melepas seatbelt sembari menganggukkan kepala.


“Ambil aja, di pinggang kanan!"


Zeva membungkuk di pangkuan Boris, meraba-raba pinggang kokoh pria itu hingga mencabut sebuah revolver milik kekasihnya. Gadis itu bergerak susah payah ke jok belakang.


“Ze, kau mau apa?” seru Boris panik melihat wanita itu berpindah.


“Jangan kembali ke rumah sakit dulu. Bawa keliling, kalau bisa ke jalan yang sepi,” ucap Zeva mengokang dua senjata di tangannya.

__ADS_1


“Kau yakin?” gumam Boris menatap sekilas.


“Sure!”


Zeva membuka separuh jendela, membidik sasaran yang paling dekat dengan mobil mereka. “Boris, pelankan kecepatan dan ambil jalur kanan selama lima detik. Setelah itu tambah kecepatan lagi!” ujar gadis itu.


Boris mengangguk, ia yakin kekasihnya itu bisa mengatasi. sambil mengamati gerakan mobil lawan, Boris menempatkan mobilnya agar Zeva mudah mengeksekusi.


“Sekarang!”


Zeva menjulurkan tubuhnya, menembak dua orang yang menjulur dari jendela. Lalu menembak tepat pada sopirnya. Ia segera kembali masuk dan menutup rapat jendelanya, mobil kembali melesat dengan kecepatan tinggi.


Mobil musuh kehilangan kendali, berputar-putar hingga menabrak dua mobil di belakangnya. Kecelakaan beruntun tak dapat dihindari.


Zeva menahan napasnya, bulir keringat mengalih dari wajah hingga lehernya. “Apa sudah aman?” tanya Zeva ketika tidak menemukan mobil yang kembali mengejarnya.


“Iya! Tentu saja. Bukankah kita sering latihan seperti ini?” gumam Zeva terkekeh, kembali duduk di depan. Mencuri ciuman di pipi kekasihnya sebelum akhirnya mendarat di kursinya.


“Haiiss! Kau jangan memancing!”


\=\=\=000\=\=\=


Zefon yang masih kebingungan karena didiamkan oleh istrinya mendadak panik ketika mendapat kabar alarm bahaya dari markasnya. Setelah ditelusuri, ada penyerangan dari mobil yang dibawa oleh Boris.


“Segera turun ke lokasi!” perintah Zefon pada Calvin yang tengah terhubung dengannya melalui sambungan telepon.

__ADS_1


“Berhasil dilumpuhkan, Tuan. Sepertinya tiga mobil yang menyerang tidak bisa mengejar. Terlihat kalau mereka berada di titik yang sama. Sedangkan mobil Boris sudah melesat jauh,” papar Calvin.


“Kita harus segera selesaikan, Cal. Bawa orang-orang itu untuk mencari keberadaan Rudolf. Jika tidak, dia pasti akan terus menyerang membabi buta.”


“Baik, Tuan. Kami akan segera turun ke sana!”


Zefon mematikan sambungan teleponnya. Ia kembali ke kamar, di mana istrinya sudah tidur lebih dulu setelah ia suapi makan dan minum obat.


Pria itu seorang diri, karena Cheryl memilih menunggu cucunya di depan ruang NICU. Ia enggan beranjak dari sana selain ke toilet. Itu pun hanya sebentar. Jourrel yang harus wara wiri untuk memenuhi kebutuhan istrinya. Pasangan kakek dan nenek baru itu begitu exicted menyambut kehadiran cucunya. Tidak ingin ketinggalan perkembangan sang cucu walau sedetik pun.


\=\=\=000\=\=\=


“Sayang, aku pergi sebentar. Maaf, ini darurat!” pamit Zefon menciumi kening istrinya.


“Zeva, jaga kakak iparmu. Kalau ada apa-apa langsung hubungi saja,” titahnya pada Zeva yang baru saja tiba bersama Boris.


Zefon tidak menanyakan apa pun. Ia langsung memberi perintah pada Zeva, dan Boris harus kembali keluar bersamanya.


“Iya, Kak! Ini pistol kalian!” Zeva melempar masing-masing senjata api itu pada empunya. “Hati-hati!” ucapnya.


Zefon dan Boris mengangguk serempak. Mereka bergegas kembali ke lokasi para musuhnya tadi sebelum mereka melarikan diri.


 


Bersambung~

__ADS_1


Sambil nunggu mampir dulu di novel keren ini ya, Best.. 🥰



__ADS_2