
Sarah panik menyeka darah yang tak kunjung berhenti mengalir dari kedua hidungnya. Kran wastafel bahkan terus menyala, ia gunakan untuk mencuci muka. Herannya darah itu semakin banyak dan kental hingga bercampur dengan air yang berjatuhan pada wastafel itu. “Darah apa ini? Kenapa akhir-akhir ini sering sekali berdarah!” tanya wanita itu panik, menggosok-gosok hidungnya.
Lelah akhirnya mendera, Sarah mengguyur mukanya tepat di bawah kucuran air. Kepalanya juga terasa berdentuman. Seolah dipalu oleh godam raksasa. Sementara tidak berani keluar, mengingat saat ini dirinya pasti menjadi buronan oleh Zefon.
“Gimana kondisi Tora?” gumamnya pelan, yang tiba-tiba kepikiran dengan anaknya satu itu. Napasnya berembus dengan berat, kemudian berjalan gontai menuju sebuah kamar berukuran kecil yang ditempatinya selama ini.
Beberapa waktu lalu, Sarah menghubungi salah satu anggota Klan Ganesha. Ia meminta pertolongan untuk menghancurkan Yura, karena sudah membayar dengan tubuhnya, Sarah diantar bertemu dengan ketua Klan Ganesha.
Meski sedikit takut, sudah terlanjur basah. Ia bertahan demi bisa mencapai tujuannya. Yakni kehancuran Yura dan keluarganya. Meskipun ia harus melayani para lelaki bejat itu tanpa jeda. Kecuali, beberapa terakhir ini. Tidak ada yang mau dekat dengannya karena sering batuk dan mengeluarkan darah pada hidungnya. Tak ada yang peduli.
Setelah diselidiki, ternyata pria yang bersama Yura merupakan ketua Klan Black Stone, di mana klan tersebut adalah musuh mereka. Dalam hasil penelusuran, mereka hanya tahu markas Black Stone di Palembang. Tahu jika di sana lengah, mereka langsung menyusun strategi untuk menyerang.
Kesalahan Zefon, terlalu meremehkan lawannya. Lengah, tidak memperketat penjagaan di wilayah peninggalan sang kakek. Meski tidak semua hancur, tetapi sebagian bahan baku untuk perakitan senjata lenyap dan kerugian yang dicapai tidaklah sedikit.
...\=\=\=\=ooo\=\=\=\=...
Perjalanan yang begitu hening. Sesekali Zefon menoleh ke arah Yura yang bergeming dalam tangisnya. Pria itu tidak berani menyinggung atau menegurnya. Ia mengaku salah.
Sampailah mereka di pelataran Villa Anggrek. Kedatangannya sudah disambut Khansa, Leon dan juga Gala dengan raut cemas.
Gala sudah menceritakan semua rentetan kejadian pada kakek dan neneknya. Meski sudah berumur, mereka masih terlihat bugar. Apalagi Khansa selalu memperhatikan pola makan yang sehat untuk keluarganya.
Zefon berlari mengitari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya. Tetapi, Yura sama sekali tidak ingin beranjak. Menoleh saja dia enggan. Wanita itu acuh tak acuh pada suaminya.
__ADS_1
Tatapan memohon dilayangkan oleh Zefon. Khansa mengerti, meski sudah pensiun menjadi dokter, dia tetap tahu bagaimana cara menangani pasien. Wanita itu menyuruh Zefon menyingkir, ia sedikit merunduk dan mengulurkan tangan pada Yura.
“Mari masuk, Nak,” ajak Khansa berucap lembut.
Yura baru menggerakkan kepalanya, menatap wanita di sebelahnya. Mengangguk sembari tersenyum hangat, memberikan keteduhan.
“Turun yuk,” tambah Khansa lagi.
Perlahan tangan Yura membalas uluran tangan itu, jemarinya dingin bagaikan es. Lalu bergerak keluar dengan sangat pelan. Matanya mengeliling ke bangunan megah nan asri itu. Ia menghela napas berat, mengikuti langkah Khansa yang memapahnya.
Ketiga pria di sana segera memberikan jalan. Tatapan Yura seolah kosong tak menganggap keberadaan orang lain.
“Zefon! Zefon! Kelakuan kakekmu kenapa melekat padamu!” ucap Leon menepuk bahu lelaki itu dengan cukup keras. Leon menggeleng, tak habis pikir ada yang menuruni sifat kakaknya yang bengis, arogan dan tidak berbelas kasih seperti itu.
“Tapi kamu tetap suaminya! Lagian, cinta itu tidak bisa dicegah mau jatuh pada siapa. Yang penting ‘kan dia tidak merebutnya darimu?” saran Leon.
“Dia juga telah menghancurkan markas kakek!” ujar Zefon dengan suara bergetar.
Tak lama kemudian, matanya memerah, dengan cepat menyeka kedua sudut matanya yang basah. Ia mencoba menghalau air matanya, meski tidak bisa. Tangisnya pecah, teringat dengan kakek, nenek dan adik perempuannya dalam kecelakaan tragis. Siapa pun yang mengusik keluarganya harus mati.
Leon segera merengkuhnya, memeluk cucu keponakan yang juga sangat dia sayangi. “Kamu benar, tapi bukankah dia juga telah menyelamatkan istrimu?”
“Aku hanya tidak ingin kehilangan orang-orang yang aku cintai lagi, Grandpa. Kehilangan kakek, nenek dan Zeva saja masih begitu sakit!” Tangis lelaki itu semakin deras. Meski dingin, arogan, tetapi Zefon pecinta keluarga.
__ADS_1
“Aku tahu. Jelaskan pelan-pelan pada istrimu biar mengerti. Tapi, saranku berikan dia waktu dulu. Aku lihat masih begitu syok,” sahut Leon meregangkan pelukan.
Zefon mengangguk, “Aku pamit, Grandpa. Titip Yura di sini dulu. Aku akan kembali setelah membereskan semua kekacauan ini,” balas lelaki itu menyeka kedua matanya.
“Aku ikut, Kak. Siapa tahu berguna!” serobot Gala.
Dua lelaki muda itu segera melesat pergi meninggalkan Villa Anggrek. Kilat tajam penuh amarah terpancar dari netra tajam Zefon. Ia melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.
Sementara itu, Yura menangis tersedu mengadukan tingkah Zefon pada Khansa. Ia merasa nyaman bersama wanita tua itu setelah Khansa memperkenalkan diri panjang lebar.
“Dia membentakku, Grandma. Dia juga sudah membunuh orang yang telah menyelamatkanku. Kalau saja enggak ada dia, mungkin aku sudah ... sudah....”
Tangisnya sesenggukan, hingga kesulitan untuk melanjutkan ucapannya. Khansa membelai puncak kepala Yura, “Nangis saja dulu, baru cerita.”
“Aku membencinya, Grandma. Dia selalu saja seenaknya sendiri!” cerocos Yura walau tidak begitu jelas karena sesenggukan.
Bersambung~
Next Rekomendasi novel seru guys... Sambil nunggu up, bisa mampir dulu...
__ADS_1