
Saat sampai di ibu kota Urushia, Ferisu bertemu dengan seorang gadis penyihir bernama Lucy. Saat itu ia sedang dikejar oleh sekelompok pedagang budak, namun berhasil dihentikan. Gadis itu sedang bersama Alfred dilantai satu penginapan.
Di kamar...
"Hoaam..." Ferisu menguap karena mengantuk, selama satu minggu ini ia tidak tidur karena perjalanan tanpa henti. Ia membaringkan badannya di atas kasur dan menatap langit-langit kamar.
Matanya secara perlahan mulai menutup dan langsung tertidur dengan pulas. Ada dua hal yang bisa mengembalikan energi sihir milik ras vampir, yang pertama dengan meminum darah dan yang kedua dengan cara tidur. Tapi, bukannya tidur sehari atau seminggu, mereka perlu tidur yang lebih lama. Karena itulah Ferisu lebih memilih meminum darah ketimbang tidur.
Di lantai pertama, Alfred masih bersama gadis itu. "Kau seorang penyihir, kan?" ucap Alfred dengan nada bertanya.
"I-iya, tapi aku tak bisa menggunakannya..."
"Menggunakan apa?"
"Si-sihir..."
Lucy mengeluarkan sebuah buku yang sangat tebal dan meletakkannya di atas meja. "Aku tak bisa membacanya," ucapnya dengan murung.
Alfred melihat buku itu dan terdiam sejenak. "Hebat! Dari mana kau dapat buku sebagus ini?!" ujarnya dengan takjub membolak-balik halaman buku tersebut.
"Apakah buku ini sebagus itu?" tanya Lucy kebingungan.
"Tentu saja! Buku ini menjelaskan semua teori sihir bahkan cara untuk memperkuat sihir dan memperbanyak energi sihir!" jawab Alfred yang terlihat begitu bersemangat.
Lucy sedikit tertawa sedih saat melihat lelaki yang ada di hadapannya. "Enaknya, aku bahkan tak mengerti dan membaca satupun huruf yang ada di buku itu," ucapnya dengan nada sedih.
Saat melihat wajah gadis yang ada di hadapannya, Alfred tersenyum. "Apa mau aku ajarkan caranya membaca dan menggunakan sihir?" ucapnya dengan hangat.
Mata gadis itu terbelalak dan langsung menatap wajah lelaki yang ada di hadapannya. "Ka-kau serius?" ucapnya tak percaya.
"Tentu, lagipula aku sedang tak punya kerjaan. Ferisu juga sedang istirahat sekarang," jawab Alfred.
Mereka berdua keluar dari penginapan, lebih tepatnya pergi ke halaman belakang penginapan. Tempat itu punya halaman yang cukup luas, ada lapangan untuk menjemur pakaian dan juga kandang kuda.
Alfred dan Lucy duduk dibawah pohon dengan beralaskan tikar. Alfred mengajarkan cara membaca huruf kepada Lucy dengan begitu lembut dan sabar. Tak memakan waktu yang lama, Lucy bisa membaca huruf di dalam buku itu dengan cukup lancar.
__ADS_1
Kemudian mereka berjalan menuju ke tengah-tengah lapangan yang kosong.
"Kau belum pernah menggunakan sihir, kan?" tanya Alfred untuk memastikan.
Lucy mengangguk pelan.
Alfred meraih tangan Lucy.
"Eh!? A-apa yang ingin kamu lakukan!?" gelagap panik Lucy saat tangannya di sentuh oleh Alfred.
"Aku hanya ingin mengalirkan energi sihirku padamu," jawab Alfred dengan polosnya.
Kemudian Alfred mengalirkan energi sihirnya kepada Lucy secara perlahan agar ia bisa merasakannya.
Apa ini? Sesuatu yang begitu hangat terasa jelas di tanganku, apa ini yang namanya energi sihir (mana) ?
"Bagaimana? Apa kau bisa merasakannya?" tanya Alfred.
Lucy mengangguk. "Iya, entah mengapa rasanya aku bisa memakai sihir sekarang," jawab Lucy dengan wajah yang gembira.
Hari menjelang sore dan Ferisu terbangun dari tidurnya. Ia duduk sejenak dan melihat keluar jendela. Angin hangat berhembus pelan menerpa wajahnya, langit petang yang berwarna merah ke emasan terlihat dengan jelas.
Sebuah suara samar-samar dan energi sihir yang keluar dari arah lapangan membuat Ferisu menoleh ke arah sana. "Itu, Alfred dan gadis sebelumnya," gumamnya.
Ferisu langsung meloncat dari jendela dan mendarat dengan begitu lembut seperti bulu yang terjatuh. Ia berjalan pelan menghampiri dua orang yang terlihat sedang berlatih menggunakan sihir.
"Wahai air, berikan aku kekuatanmu, berubahlah menjadi gelembung yang dapat meledakkan rintangan yang menghadang, bubble bom!"
Saat itu terlihat sebuah partikel berwarna biru muncul dan membentuk sebuah gelembung air sebesar buah kelapa. Gelembung itu melesat dengan cepat dan meledakkan bongkahan kayu yang menjadi target.
Ketika bongkahan kayu itu berhasil dikenai gadis yng menggunakan sihir itu meloncat dan berteriak dengan ekspresi yang begitu puas. "Hore! Aku bisa melakukannya Alfred!" ucapnya dengan senyum yang begitu manis.
"Iya, selamat Lucy," saut Alfred dengan senyum hangat.
Suasana yang begitu hangat dan tentram. Kedua orang yang saling bertatapan dengan senyum yang begitu hangat di wajah mereka, layaknya sepasang kekasih.
__ADS_1
Pada momen itu sebuah suara tepuk tangan memecahkan ketenangan itu.
"Ah, Ferisu, apa tidurmu nyenyak?" tanya Alfred saat melihat Ferisu yang berjalan menghampiri mereka.
"Begitulah," saut Ferisu, lalu ia melihat ke arah gadis penyihir itu. "Kau sudah bisa menggunakan sihir yah."
"Hehe, tentu saja!" jawab Lucy dengan begitu percaya diri sambil membusungkan dadanya yang rata.
"Baguslah kalau begitu, sekarang aku akan memperlihatkan cara menggunakan sihir yang lebih efisien," ujar Ferisu.
Tangan kanannya di angkat dan mengarah ke depan, menuju ke arah target serangan. Tanpa mengucapkan apapun, sebuah partikel berwarna biru keputihan muncul dan membentuk sebuah tombak es yang melesat dengan cepat mengenai target.
"Tanpa rapalan...?" gumam Lucy yang terkejut saat melihat hal itu.
"Ya, jika kau sedang berada di tengah pertarungan, merapal mantra akan membuatmu mudah untuk diserang," ucap Ferisu dengan wajah yang datar.
"Terus, bagaimana aku bisa menggunakan sihir tanpa rapalan?" tanya Lucy dengan ambisius.
Ferisu menjelaskan tentang sihir dengan santai agar bisa mudah dipahami. Sihir pada awalnya sihir adalah sesuatu yang sulit untuk dipahami oleh akal. Bagaimana itu bisa terbentuk? Jawabannya hanya satu, lewat imajinasi.
"Imajinasi, yah," gumam Lucy.
"Iya, bagaimana api bisa terbentuk?" ucap Ferisu bertanya pada Lucy.
"Itu karena oksigen, bahan bakar, dan panas, kan?" jawab Lucy dengan polos.
Saat mendengar jawaban itu Ferisu sedikit terkejut. Di dunia ini, tak ada satupun orang yang mengerti tentang konsep atom, ataupun tahu soal oksigen.
"I-iya... kau hanya perlu membayangkan hal itu dan mengalirkan energi sihir ke tanganmu atau udara disekitarmu," ujar Ferisu sembari memunculkan bola api di tangan kanannya.
Lucy mengangguk dan memejamkan matanya mencoba untuk memunculkan sebuah api tanpa menggunakan rapalan sihir. Saat itu sebuah bola api, berukuran bola tenis muncul di tangannya.
"Berhasil?" gumamnya tak percaya.
"Mustahil..." ujar Alfred tak percaya dengan apa yang ia lihat. Selain Ferisu, ia tak pernah melihat orang lain menggunakan sihir tanpa rapalan dan sekarang, orang yang baru saja belajar sihir langsung bisa menggunakan sihir tanpa rapalan.
__ADS_1
Saat gadis itu sedang senang dengan hasil latihannya Ferisu menanyakan sesuatu yang membuatnya terdiam membisu. "Lucy, dari mana kau tahu tentang reaksi oksidasi?"