Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain

Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain
Chapter 37 : Sword of Nothingness


__ADS_3

Di goa para lamia terdapat sebuah pedang yang menciptakan kabut tebal yang dapat menyerap sihir. Kini pedang itu berhasil di tarik keluar dari dalam batu oleh Ferisu dengan begitu mudah. Namun, sebuah sengatan memasuki tubuh Ferisu, hingga membuatnya kehilangan kesadaran.


Di sebuah ruangan hampa yang berwarna putih, Ferisu berdiri diam seorang diri. Tak ada satupun orang yang ada di sekitarnya. "Tempat ini lagi... apa para dewa memanggilku lagi?" gumamnya bertanya.


"Oi, dewa-dewi apa kalian tak mau keluar?" teriak Ferisu mencoba memanggil. Namun, tak ada jawaban apapun. Tak lama kemudian, sebuah kabut mulai muncul menyelimuti seluruh ruangan.


Saat melihat kabut itu, Ferisu mulai sadar jika tempat yang saat ini merupakan dimensi yang tercipta oleh pedang kabut di dalam alam bawah sadarnya.


Kemudian kabut itu menghilang, menciptakan sebuah tempat yang dikenal oleh Ferisu. Taman yang berada di kota tempat tinggalnya semasa kecil. Di taman itu, terdapat seorang anak kecil yang tengah duduk di atas sebuah ayunan seorang diri. Wajahnya tampak sedih.


"Taman ini..." Ferisu bergumam pelan ketika mengingat taman itu. Lalu ia berjalan mendekati anak itu seraya mengangkat tangan seolah memanggilnya. Namun, anak itu tak merespon panggilan Ferisu.


Ferisu berdiri diam di depan anak itu diikuti hari yang menjelang petang. Anak itu mengangkat wajahnya ke atas. Wajah tanpa ekspresi yang terlihat begitu kesepian. "Siapa?" tanyanya pelan.


Ferisu tersenyum kecil, lalu membungkuk dan mengelus kepala anak itu dengan lembut. "Aku adalah dirimu yang sudah dewasa," jawab Ferisu.


"Eh?!" Anak itu tampak terkejut dan turun dari ayunan. "Apa itu benar!?" tanyanya sekali lagi untuk memastikan.


"Iya, aku tak bohong, diriku yang masih kecil," jawab Ferisu dengan senyuman hangat. Lalu ia duduk di ayunan sebelahnya. "Mungkin kau akan menyaksikan sesuatu yang mengerikan serta menyakitkan setelah ini, tapi jangan putus semangat."


Ferisu mengayunkan ayunannya lalu meloncat kedepan. "Kalau begitu sampai jumpa, diriku di masa lalu," ucap Ferisu sembari melambaikan tangannya.


Kabut itu mulai menebal kembali menciptakan sebuah tempat lain yang juga di ingat oleh Ferisu. Atap sekolah, dimana ada dua orang yang sedang berhadapan satu sama lain. Seorang perempuan cantik dengan rambut berwarna merah muda seperti bunga sakura dengan model twin tail dan dirinya di masa SMA.


"Cih! Berani juga kau menunjukkan hal ini padaku pedang sialan!" gerutu kesal Ferisu saat melihat pemandangan itu. Karena merasa begitu kesal, Ferisu meluapkan energi sihirnya sehingga pemandangan itu berubah menjadi kabut lagi.


Sosok orang berjubah kelabu muncul di hadapannya. "Biar kutebak, apa kau perwujudan dari pedang ini?" ucap Ferisu dengan ketus.


"Jika iya kenapa, manusia?" jawab sosok itu dengan angkuh.

__ADS_1


Saat mendengar hal itu, Ferisu langsung mengayunkan satu pukulan berat hingga membuat sosok itu terhempas cukup jauh. Ferisu memusatkan kekuatan di kakinya lalu melesat dengan cepat sembari memusatkan kekuatan di tangan kanannya untuk memukul sosok itu lagi.


Saat pukulan itu hendak diayunkan, sosok itu mengarahkan tangannya kedepan. "Stop! Berhenti, aku menyerah!" teriaknya dengan nada gemetar.


Ferisu menghentikan pukulannya tepat di depan wajah sosok itu. "Hah? Apa kau bilang brengsek?"


"Oh, Tuanku yang dipenuhi oleh kemarahan, tolong redamkan amarahmu. Aku, Sword of Nothingness sang pedang peniadaan atau hampa menerima Anda sebagai tuan baru. Sosokmu yang memiliki energi sihir yang besar dan mempunyai kekuatan yang melimpah, telah menggerakkan hatiku untuk bertarung lagi."


"Apa maumu sialan?!" Ferisu membalas ucapan panjang sosok itu dengan dingin.


"Ahahah, seperti yang kubilang. Aku mengakui Anda sebagai tuan baru, sekarang Anda bisa menggunakan kekuatan saya," jelas sosok itu.


Setelah itu, Ferisu kembali ke dunia nyata. "Kenapa rasanya ada sensasi aneh di mulutku," gumam Ferisu yang hanya berbunyi di dalam hati. Saat membuka matanya, ia melihat sosok ratu lamia yang sedang begitu dekat.


Ferisu dengan cepat memegang kedua pundak sang ratu lalu mendorongnya. "Apa yang kau lakukan!?" teriaknya dengan wajah memerah.


"Ara~ kau sudah bangun, aku hanya memberikan ciuman pertamaku pada suamiku," jawab ratu lamia sembari memegang bibirnya dengan tatapan yang menggoda.


Di tangan kanannya ada pedang yang dapat menciptakan kabut, kini pedang itu sudah menerimanya sebagai tuan. Ferisu berjalan keluar goa di ikuti oleh para lamia.


"Ah, akhirnya kau kembali!" ucap Licia yang terlihat senang, lalu senyumnya berubah menjadi sirna ketika melihat seorang gadis memeluk tangan kanan Ferisu.


"Ferisu-sama, siapa mereka?" tanya Shiro dengan polos.


"Ah, mereka para lamia dan gadis ini ratunya," jawab Ferisu dengan cukup canggung.


Saat itu Licia dengan cepat berjalan mendekati Ferisu dan memisahkannya dari ratu lamia. Tentu saja hal itu membuat sang ratu merasa kesal. "Apa yang kau lakukan, elf sialan!"


"Seharusnya aku yang bilang itu!" balas Licia dengan ketus.

__ADS_1


Kedua wanita itu saling menatap satu sama lain. Lalu, mereka melirik ke arah Ferisu. "Ugh, ada apa?" tanya Ferisu dengan canggung.


"Siapa wanita ini, Ferisu-sama?" tanya Licia sembari menunjuk ratu lamia.


Saat Ferisu hendak menjawab pertanyaan Licia, Ratu lamia menyelanya. "Aku adalah istrinya, emang kenapa?" ucapnya dengan percaya diri.


"Kau pasti bohong!" balas Licia dengan ketus.


"Tidak, bahkan kami sudah berciuman," ucap ratu lamia dengan senyum penuh arti. Lalu memeluk Ferisu dari depan.


Wajah Licia berubah menjadi dingin dan memancarkan aura membunuh yang cukup kuat. Ia mengambil busur panahnya dan menarik talinya. "Cepat menjauh dari Ferisu-sama!" teriaknya dengan anak panah yang sudah terselimuti oleh sihir.


"Huft~ apa kalian bisa berhenti?!" ucap Ferisu dengan tatapan dingin.


"Hahah, rasakan!" ucap ratu lamia, mengira jika Ferisu membela dirinya.


"Kau juga, cacing sialan!"


Ratu lamia melepaskan pelukannya dan berjalan mundur secara perlahan. Begitu pula dengan Licia, ia menurunkan anak panahnya dan tampak sedih. Ferisu mamalingkan wajahnya dan berjalan keluar dari goa.


"Cepatlah, kita harus pergi!" ucapnya tanpa menoleh kebelakang. "Ah, kalian para lamia tak bisa ikut, ambillah ini. Saat aku sudah selesai dengan urusanku, kalian akan ku jemput."


Ferisu memberikan sebuah bola bulat yang berwarna merah darah, sama seperti yang ia berikan pada lizardman. Semua lamia kecuali sang ratu tetap tinggal di lembah itu.


"Ah, maaf yah karena aku membuatmu kena marah juga," bisik ratu lamia ke telinga kanan Licia.


"Tak apa, lagi pula..." Licia menjawabnya dengan wajah yang sedih, namun tak bisa mengatakan apa yang ada dalam benaknya.


"Namaku, Yoruka. Seperti yang dikatakan oleh Ferisu, aku ratu para lamia," ucap ratu lamia memperkenalkan namanya.

__ADS_1


Licia mengangguk pelan.


__ADS_2