Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain

Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain
Chapter 36 : Terjalinnya Hubungan Dengan Para Lamia


__ADS_3

Di kedalam goa, Ferisu terkepung oleh para lamia yang terlihat begitu marah padanya. Namun, setiap ada lamia yang ingin menyerang, sang ratu menghentikan mereka.


"Kenapa Anda menghentikan kami?!" tanya para lamia dengan penuh rasa kesal.


"Tenanglah!" teriak sang ratu dengan lantang. Semua lamia yang ada disana terdiam dan menundukkan kepala mereka.


Ferisu yang masih berdiri diam di tengah ruangan, menoleh ke segala arah. Memerhatikan setiap lamia yang berada di dalam ruangan itu. Pada saat itu ia baru tersadar, jika para lamia selain sang ratu tak ada yang mengenakan pakaian. Membiarkan kedua buah surga mereka terlihat dengan jelas.


"Huft~ hoi, kau ratu mereka bukan?" ucap Ferisu dengan lantang bertanya pada wanita itu.


"Perhatikan cara bicaramu manusia!!" bentak seorang lamia, ketika Ferisu bertanya dengan lancang.


Ratu lamia mengangkat tangan kanannya ke atas. "Tak apa, aku juga mau berbicara kadang," ucapnya dengan begitu tenang. Lalu ia berjalan secara perlahan menuju ke arah Ferisu yang berdiri diam di tengah ruangan goa itu.


Kedua orang yang berada di tengah ruangan goa yang dikelilingi oleh para lamia kini berhadapan satu sama lain. Mata mereka saling bertemu, sang ratu menggunakan skill yang dapat mengubah orang yang menatapnya menjadi batu. Namun, Ferisu membalas tatapannya dengan begitu percaya diri.


"Ada apa? Apa kau tak ingin mengubahku menjadi batu?" ucap Ferisu dengan begitu angkuh.


"Ngh!" Ratu lamia tampak kesal dengan ucapan Ferisu barusan, terlebih lagi pria itu tak berubah menjadi batu sedikitpun. "Apa yang kau lakukan!?" tanya ratu lamia dengan heran.


"Aku tak melakukan apapun, hanya saja aku memperkuat kemampuan regenerasi dan peniadaan status abnormal saja," jawab Ferisu dengan senyum simpul.


Ratu lamia terdiam membisu saat mendengar hal itu, lalu ia melihat pria yang ada dihadapannya dengan wajah yang begitu polos. Sebuah senyum kecil muncul di bibir lembutnya. "Aku suka, apa kau mau menjadi suamiku?" ucapnya dengan senyuman yang begitu manis.


"I-iya?" Ferisu tampak bingung dengan ucapan sang ratu lamia.


Disisi lain semua lamia yang ada di goa berteriak kegirangan. "Akhirnya! Sang ratu memiliki pasangan!"

__ADS_1


Ular emas yang selalu berada disisi ratu mulai melilit tubuh Ferisu, mencoba untuk menahannya. Sang ratu memegang kedua pipi Ferisu, lalu secara perlahan ia mendekatkan wajahnya.


"Tunggu!" sela Ferisu dengan wajah yang begitu panik.


"Ada apa?" tanya sang ratu dengan polos.


"Maaf, tapi aku tak bisa menerimanya begitu saja," jawab Ferisu dengan wajah sedih. "Untuk sekarang aku belum punya niat untuk memiliki hubungan semacam itu. Saat ini, prioritas utamaku adalah menaklukan dungeon dewi malapetaka dan menciptakan negeri yang bisa dihuni oleh berbagai macam ras," jelasnya dengan penuh keseriusan.


Ratu lamia yang mendengar hal itu terdiam sejenak dan melepaskan pegangannya, ular emas itupun melepaskan lilitannya secara perlahan. "Apa kau serius ingin menciptakan negeri yang bisa dihuni oleh berbagai macam ras?" tanya Ratu lamia untuk memastikan apa yang dikatakan oleh Ferisu.


Ferisu menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum simpul. "Aku tahu ini terdengar cukup mustahil, tapi saat ini ada empat ras yang sudah ikut bersamaku," ucapnya.


"Aku mengerti, kalau begitu... biarkan aku ikut bersama denganmu!" ucap Ratu lamia dengan tatapan serius.


"Eh? Ah, aku senang jika kau ingin ikut. Tapi, tujuanku itu tempat uang berbahaya kau tau?" balas Ferisu.


Setelah mendengar itu, Ferisu tersenyum. "Baiklah, Ratu lamia tolong pinjamkan kekuatanmu," balasnya.


Pada saat itu para lamia mulai menerima Ferisu sebagai tuan mereka (pasangan sang ratu). Namun, karena perjalanan yang cukup jauh, lamia yang lain tak bisa ikut, mengingat mereka akan bertemu berbagai macam orang dari ras yang berbeda nanti.


Namun, sebelum keluar dari goa Ferisu menanyakan hal yang membuatnya penasaran. "Hei, apa kabut ini memang sudah ada sejak dulu?"


Ratu lami menggelengkan kepalanya, "tidak, kabut ini muncul satu tahun yang lalu ketika pedang terkutuk itu menancap ke bagian goa."


"Pedang?"


"Ya, pedang itu yang mengeluarkan kabut aneh itu. Semenjak adanya kabut, kami tak bisa keluar dari goa dan hanya bisa menghemat bahan makanan selama ini. Yah, saat ini kami sudah mencapai ambang batas sih."

__ADS_1


Setelah mendengar cerita dari sang ratu, Ferisu mengerutkan dahinya dan berpikir sejenak.


"Oh iya, bagaimana kau bisa sampai kesini? Kabut ini menyerap energi sihir kau tau?" tanya sang ratu penasaran.


"Ah, aku meledakkan energi sihirku untuk membuat jalan," jawab Ferisu dengan begitu santai. "Karena itulah saat bertemu dengan kalian, aku begitu kelelahan sehingga kesulitan untuk bertarung. Yah, itu terselesaikan ketika aku menghisap darahmu," sambungnya menjelaskan.


"Meledakkan energi sihir untuk membuat jalan? Bisa memulihkan energi sihir lewat meminum darah? Apa kau benar-benar manusia?" Pertanyaan demi pertanyaan terlontarkan dari mulut sang ratu, begitu pula dengan lamia yang lain.


Ferisu yang mendengar itu tertawa kecil. "Aku bukan manusia loh... rasku adalah vampir," ucapnya dengan senyum kecil.


"Vampir? Kami yak pernah mendengarnya."


"Ah, aku satu-satunya vampir di dunia ini. Jadi wajar saja kalian tak tahu."


Lamia yang awalnya bingung, hanya bisa menerima apa yang dikatakan oleh Ferisu tanpa menanyakan rinciannya. Kini mereka pergi ke sisi lain goa, menuju ke tempat pedang yang menciptakan kabut tertancap.


Sama halnya dengan tempat para lamia tinggal, lokasi pedang itu juga berada di ruangan yang luas. Di tengah ruangan terdapat sebuah batu yang cukup tinggi, dan pedang itu tertancap di atasnya. Sebuah pedang berwarna kelabu, layaknya sebuah kabut. Memiliki gagang berwarna hitam dengan sepasang sayap kecil di dua sisinya dan satu kristal berwarna ungu yang berada di tengah gagang.


Di atas tempat tertancapnya pedang, terdapat sebuah lobang yang begitu dalam. Lobang yang terhubung ke luar goa.


"Jadi itu pedangnya yah," gumam Ferisu saat melihat pedang kelabu yang tertancap di atas batu. "Hmm, baiklah aku akan mencoba untuk menariknya," ucapnya, lalu meloncat naik ke atas batu.


Ferisu menggerakkan tangannya secara perlahan dan memegang gagang pedang itu. Lalu ia mengalirkan tenaga ke bagian tangan untuk menarik pedang itu. Dengan sebuah aba-aba yang ia hitung di dalam hati, Ferisu menarik pedang itu sekuat tenaga.


"Eh?"


Pedang itu tercabut dengan begitu mudah, seperti tak ada beban yang menahannya. Kabut tebal yang berada si luar goa mulai menghilang secara perlahan, bergerak masuk kedalam goa. Tepatnya masuk kedalam kristal yang berada pada pedang itu.

__ADS_1


Ferisu mengangkat pedang itu dan melihat-lihatnya, saat itu sebuah sengatan memasuki dirinya yang menciptakan kecutan di bagian jantung.


__ADS_2