
Sore hari, di ruang tamu terdapat dua orang yang duduk di atas sofa. Seorang gadis elf dan seorang laki-laki vampir. Laki-laki itu tertidur pulas di atas pangkuan gadis elf itu.
Secara perlahan ia membuka matanya. "Dimana ini?" gumam Ferisu ketika membuka mata dan melihat pemandangan yang cukup familiar.
Sebuah padang rumput luas sepanjang mata memandang, hingga tak memperlihatkan ujungnya. "Tempat ini... taman para dewa - The Garden Of The Gods," ucapnya pelan ketika mengingat tempatnya berdiri sekarang.
Ferisu memejamkan matanya kembali, mengingat sensasi ketika tangannya dipegang oleh Dewi Rhea. Ketika membuka matanya kembali, ia sudah berpindah ke sebuah taman di depan mansion yang megah. Bau harum dari bunga yang ditanam tercium lembut menenangkan hati dan pikiran.
"Selamat datang, Ferisu-sama, lama tak berjumpa," sapa Rhea yang sudah menunggu di sebuah kursi taman.
"Rhea-sama? Ah, lama tak berjumpa," saut Ferisu sembari memberi hormat.
Saat itu terdengar suara pintu yang terbuka, seorang Dewi yang mengenakan armor perang, memiliki rambut emas keluar dari mansion dan berjalan menuju ke taman.
"Oh! Kau sudah tiba di sini, Ferisu-dono," ujarnya.
"Lama tak bertemu, Freya-sama," balas Ferisu, memberikan salam hormat.
Di taman, tepatnya di sebuah pondok kecil. Ferisu sedang duduk bersama dengan dua dewi untuk membahas sebuah masalah.
Desa yang hancur...
Desa yang hancur akibat serangan dari para manusia yang sedang menjelajahi hutan perbatasan. Tujuan mereka sebenarnya untuk mengintai pasukan iblis, tetapi karena sebuah hal yang tak wajar, perhatian mereka teralihkan dan pada akhirnya desa-pun diserang.
"Huft~ padahal kami sudah tinggal di hutan itu secara sembunyi-sembunyi," keluh Ferisu. Lalu ia menatap ke dua dewi yang duduk bersamanya secara bergantian.
"Iya, itu wajar saja. Sebuah desa yang dihuni oleh berbagai macam ras pasti dianggap aneh," ucap Rhea.
"Apa kau ingin pindah tempat, Ferisu-dono?" tanya Freya.
"Begitulah, kurasa aku akan mencari tempat yang jarang dikunjungi oleh orang-orang," jawab Ferisu. "Seperti pulau tak berpenghuni, atau hutan yang sangat dikenal akan bahayanya," sambungnya mengutarakan isi pikirannya.
"Tempat yang jarang dikunjungi, atau sesuatu yang dikenal akan bahaya-nya, di dunia Envend..." Rhea mengerutkan dahinya, memikirkan sebuah lokasi yang aman dengan serius.
"Bagaimana dengan Dungeon Dewi Malapetaka?" seru Freya.
Saat mendengar hal itu, Rhea langsung memukul meja dengan keras. "Apa yang kau pikirkan Freya!?" teriaknya.
__ADS_1
"Dungeon?" gumam Ferisu yang tertarik dengan hal itu. Mengabaikan Rhea yang terlihat cemas setelah mendengar soal dungeon itu.
"Benar, seperti namanya, itu sebuah dungeon tempat seorang dewi disegel," jelas Freya. "Tak ada seorangpun yang ingin datang kesana, tempatnya ada di kedalam hutan kematian. Hutan mati, dan hanya dihuni oleh monster berbahaya."
"Hee~ sepertinya menarik!" Ferisu menyeringai dan memangku dagunya dengan tangan kanan.
"Tunggu! Apa kau tau dengar ucapanku!? Tempat itu terlalu berbahaya!" teriak Rhea dengan ketus.
"Tak apa, kan? Ferisu-dono juga terlihat tertarik," balas Freya.
"Huh!? Apa isi otakmu itu hanya perang saja! Dewi perang, Freya?!"
"Apa katamu!?"
Kedua dewi itu mulai adu mulut, mengabaikan seorang pria yang duduk bersamanya.
Apa mereka selalu bertengkar seperti ini? Entah kenapa, aku mulai paham kenapa dunia ini jadi...
Saat sedang berbicara di dalam batinnya, Freya dan Rhea tiba-tiba menatap Ferisu dengan tajam. "Eh!? Ah... ahahaha..." Ferisu hanya bisa tertawa canggung ketika dua dewi itu menatapnya.
"Aku mengerti, aku akan pergi kesana setelah meningkatkan kekuatanku dan para pengikutku," ucap Ferisu bangun berdiri. "Aku pamit dulu, Freya-sama dan Rhea-sama, sampai jumpa di lain waktu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ferisu membuka matanya dan terbangun, melihat sebuah meja kosong di depannya dan sebuah bantal yang empuk. Ia berbalik untuk melihat langit-langit ruangan, tapi terdapat sebuah gunung yang menghalangi pandangannya.
"Ekh..!" Ferisu langsung berguling dan terjatuh ke lantai karena terkejut. Seharusnya ia ingat tentang gadis elf yang memberikan pangkuannya, tapi tetap saja hal itu membuatnya terkejut.
"Ah... aku benar-benar lupa soal itu," gumam Ferisu. Ia bangun berdiri dan menyapu rambutnya dengan tangan kanan dan tangan satunya memegang pinggangnya.
Gadis elf, Licia, ia tertidur dalam posisi duduk. Ferisu berjalan secara perlahan ke arah pintu dan melihat langit yang suda gelap. Dari kejauhan, terdengar suara langkah kaki yang mendekat.
"Tuan, ternyata Anda sudah bangun."
"Apa terjadi sesuatu, Mudru?"
Mudru menggelengkan kepalanya. "Semua perwakilan dari setiap ras sudah berkumpul di balai desa," ujar Mudru melapor kepada Ferisu.
__ADS_1
"Aku mengerti," saut Ferisu dengan tersenyum. Ia kembali masuk kedalam rumah dan membangunkan Licia yang masih tertidur.
Memegang kedua bahu gadis dan menggoyangkan-nya secara perlahan. "Oi, bangunlah!"
"Ehmm~" Gadis itu merasa terganggu dan akhirnya terbangun dari tidurnya. Ia mengusap matanya dan melihat ke depan.
"Apa kau sudah bangun?" tanya Ferisu.
"Hmm? Ah, iya... fwah~" jawab Licia sembari menguap. Lalu menutup mulutnya dengan tangan kiri.
Mereka bertiga mulai berjalan menuju ke balai desa, di halaman depan sudah terlihat begitu banyak orang berkumpul. Di dalam ruangan, sudah ada satu dari setiap ras yang tinggal di desa Heiwa. Perwakilan tiap ras, bukan suku.
Perwakilan dari ras goblin, Mudru.
Perwakilan dari ras bunny, Kurumi.
Perwakilan dari ras manusia, Alfred dan Lucy.
Perwakilan dari ras catsith, Shiro.
Perwakilan dari ras elf, Licia. Meskipun dia satu-satunya elf yang ada di desa saat ini.
Di dalam ruangan mereka duduk mengelilingi sebuah meja bundar. Suasana begitu tenang, tak ada satupun suara, mereka semua menunggu Ferisu mengatakan sesuatu.
"Selamat malam, tapi kurasa tak perlu basa-basi disini," ucap Ferisu memulai percakapan. "Saat ini kita sedang dalam posisi yang kurang baik, desa yang kita bangun sudah hancur, teman-teman kita juga ada mati, aku benci untuk mengatakannya tapi, kalian semua terlalu lemah."
Saat mendengar hal itu, semua orang yang ada di dalam ruangan menundukkan kepalanya dan murung.
"Kenapa kalian menundukkan kepala dan murung? Angkat kepala kalian dan lihat aku!" ujar Ferisu dengan lantang.
Semua orang langsung melihat ke arah Ferisu, ekspresi mereka mulai serius. Meskipun ucapan Ferisu sebelumnya cukup menusuk hati mereka, tapi itulah kenyataannya.
"Saat ini kalian memang lemah, tapi itu hanya untuk saat ini."
"Apa yang Tuan maksud?" tanya Mudru mengangkat suaranya.
"Aku akan melatih kalian, dan kita juga akan memindahkan desa ke tempat yang jauh. Hutan kematian, itulah tujuan kita saat ini," jawab Ferisu dengan tersenyum serius.
__ADS_1