Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain

Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain
Chapter 24 : Iblis Bertopeng Manusia


__ADS_3

Ketika malam hari, Ferisu diajak oleh gadis anak pemilik mansion keluar untuk jalan-jalan. Meskipun Ferisu menyadari, arti dari jalan-jalan itu sudah berbeda. Mereka berkeliling mansion dan singgah sebentar di dapur untuk minum.


"Silahkan," ucap gadis itu dengan ramah memberikan secangkir teh hangat kepada Ferisu.


Teh ini sudah dicampur dengan obat tidur... baiklah, aku akan ikuti permainannya... Ailment resistance!


Ferisu menerima secangkir teh itu dengan senyum simpul. "Terima kasih." Lalu ia meminum teh itu secara perlahan.


Sebelum meminum teh itu, Ferisu sudah mengaktifkan sebuah sihir pertahanan untuk status buruk, termasuk obat yang dicampurkan di dalam teh itu. Meskipun begitu ia akan berpura-pura terkena efek dari obat.


Suara cangkir pecah terdengar dari arah dapur, Ferisu tergeletak tak sadarkan diri. Sedangkan gadis itu menunjukkan wajah asli dari balik senyumannya.


"Hahah! Dasar orang desa, mereka benar-benar bodoh yah," ejek gadis itu sembari menginjak kepala Ferisu.


Gadis itu menjentikkan jarinya memanggil beberapa pelayan untuk mengangkat Ferisu menuju ke ruangan yang ada di balik pintu hitam. Sebuah ruangan yang cukup luas dan dengan begitu banyak noda darah yang menempel di lantai ataupun dinding.


Ruang penyiksaan...


Ferisu dirantai oleh para pelayan dan dibaringkan di atas sebuah meja yang terbuat dari besi. Belum ada yang yang dilakukan oleh gadis itu dan semua pelayan keluar dari ruangan.


Gadis itu berjalan perlahan mendekati Ferisu dan membelai lembut rambut hitamnya. "Sayang sekali, wajahnya tak buruk sih. Tapi, sepertinya dagingnya akan terasa cukup enak," ucap gadis itu dengan senyum yang mengerikan.


Ferisu membuka matanya secara perlahan seolah-olah ia baru sadar dari pengaruh obat itu. Wajahnya yang terlihat kebingungan begitu natural, ia melihat ke segala arah.


"I-ini dimana?" ucap Ferisu dengan lirih.


"Ara, kamu sudah bangun yah," ucap gadis itu sembari memegang sebuah pisau daging.


"A-apa yang ingin kau lakukan dengan pisau itu..." ucap Ferisu dengan nada gemetaran.


"Tentu saja untuk memotong daging," jawab gadis itu dengan senyum manisnya, lalu mengayunkan pisau itu ke tangan Ferisu hingga terpotong.

__ADS_1


"Aaarrgghhh!"


"Bagus, bagus! Berteriaklah lebih keras lagi!" Gadis itu terus-terusan mengayunkan pisau itu ke tubuh Ferisu dengan ekspresi yang sangat kesenangan.


"Apa kau menikmatinya?" tanya Ferisu yang terlihat begitu tenang meski tubuhnya dicincang.


"Hah? Kau hebat juga yah, bisa tenang di situasi seperti ini," saut gadis itu menghentikan ayunan pisaunya. "Ah, apa mungkin kau sudah jadi gila, hingga lupa dengan rasa sakit?"


Ferisu hanya tersenyum menanggapi ucapan gadis itu, lalu tanah bergetar. Rantai-rantai yang membelenggu Ferisu mulai rapuh dan hancur satu demi satu.


"A-apa yang terjadi?!" teriak gadis itu dengan panik dan kebingungan.


Darah-darah yang keluar, potongan tubuh, luka sayatan, mulai menutup seolah itu tak ada. Regenerasi tingkat tinggi milik ras vampir, membuat Ferisu bisa sembuh dalam kondisi apapun, meski salah satu anggota tubuhnya hilang sekalipun.


"A-apa... siapa kau sebenarnya!" teriak gadis itu berjalan mundur secara perlahan.


Rambutnya yang hitam legam seperti langit malam berubah menjadi putih keperakan seperti cahaya bulan, dan mata biru terangnya mulai redup berubah menjadi merah darah. 


Gadis itu langsung panik dan berlari menuju ke pintu keluar. Genangan darah dari korban sebelumnya mulai bergerak dan menjadi tali yang mengikat kaki gadis itu.


Gadis itu terjatuh karena kakinya ditahan secara mendadak oleh tali darah, wajahnya tampak begitu panik dan gemetaran ketika melihat sosok yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Kenapa kau lari? Kita mau main, kan?" Ferisu berlutut dan menatap gadis itu dengan dingin sembari mencekik lehernya.


Mengangkat gadis itu, lalu melemparnya ke meja tempat ia terguling sebelumnya. Sulur darah mulai merambat dan mengikat tangan dan kaki, serta tubuh gadis tersebut. Ia memberontak, mencoba untuk melepaskan dirinya. Namun, makin ia bergerak, ikatan itu makin kencang.


"Aaarrhh!!"


Gadis itu berteriak menggerang kesakitan akibat kencangnya ikatan yang melilit tubuhnya. "Apa kau tahu? Semakin kau mencoba untuk lepas, ikatannya akan makin kuat, mungkin bisa menghancurkan tubuhmu itu," ucap Ferisu dengan senyum sinis.


"Da-dasar iblis!" ketus gadis itu.

__ADS_1


"..."


Ferisu berbalik arah mengambil sebuah pisau daging yang tergeletak dilantai. "Baiklah, apa yang harus kulakukan sekarang," ucapnya dengan wajah polos sembari memainkan pisau itu.


"Hentikan... jangan mendekat!" teriak gadis itu dengan wajah paniknya, keringat bercucuran seperti air mancur, membasahi wajahnya.


"Tenang saja, aku ini memang iblis, kok. Tapi, kau iblis bertopeng manusia," ucap Ferisu dengan ekspresi dingin.


Malam itu terdengar jeritan yang begitu histeris, teriakan wanita yang begitu kuat. Hingga waktu subuh, akhirnya teriakan itu berakhir. Ferisu keluar dari ruangan itu dengan ekspresi dingin sembari melihat ke kiri dan ke kanan.


"Tak ada penjaga, apa mereka tak peduli dengan tuan yang mereka layani?" gumam Ferisu merasa heran.


Ferisu berjalan menelusuri mansion, tapi tak ada satupun orang di sana. Kemana mereka pergi? Kemudian Ferisu teringat dengan aroma darah yang berasal dari bawah tanah, kembali menelusuri mansion untuk mencari sebuah jalan menuju ke bawah tanah.


Dapur, tempat para koki memasak juga tak ada satu orang-pun. Di sana ada begitu banyak daging tergantung, semuanya daging manusia. Terus berjalan, memasuki setiap ruangan untuk mencari jalan.


Akhirnya, Ferisu sampai di ruangan terakhir. Ruang makan, tempat itu cukup luas. Ferisu memeriksa setiap sisi yang ada di dalam ruangan, menyentuh semua barang yang ada. Hingga ia menekan sebuah buku yang terdapat dalam sebuah rak.


Sebuah dinding bergeser membuka jalan ke arah bawah, ruangan yang gelap dengan tangga. Namun, hal itu tak mengganggu, Ferisu bisa melihat dalam gelap.


Berjalan secara perlahan menuruni tangga dengan waspada, aroma darah yang segar tercium. Aroma ini baru saja muncul, seorang korban baru?


"Tidaaak! Lepaskan!" Terdengar teriakan seseorang dari ruangan bawah tanah.


Ferisu mempercepat langkahnya hingga sampai di sebuah basement. Ruangan itu cukup terang karena cahaya obor yang ada di dinding. Di sisi lain, terdapat sebuah lorong yang gelap, menyita perhatian Ferisu.


Ferisu berjalan memasuki lorong itu hingga menembus ke saluran pembuangan.


"Kalau tak salah Lucy bilang, dia dibawa lewat jalur bawah tanah, saluran pembuangan, kan?" gumam Ferisu.


Bau busuk dari air menguap bercampur dengan udara hingga mengacaukan indra penciuman. Aroma darah yang selama ini ia ikuti mulai bersatu dengan bau busuk yang lebih kuat. Meskipun secara samar-samar, Ferisu masih bisa mencium bau darah itu dan berjalan mengikutinya.

__ADS_1


__ADS_2