
Malam hari yang dipenuhi oleh bintang, udara dingin bertiup di kedalaman hutan. Sebuah desa yang hancur karena serangan mendadak dari pasukan manusia, kini mereka berkumpul di balai desa untuk mendiskusikan hal yang penting.
Ferisu ingin memindahkan desa ke hutan kematian, tepatnya ia ingin menggunakan dungeon yang ada di sana. Kota di dalam dungeon!
Tak ada seorangpun yang berbicara, mereka hanya menunjukkan wajah terkejut tak percaya dengan apa yang mereka dengar. "Apa kau gila!?" Kata-kata itulah yang tergambar dari ekspresi mereka.
"T-Tuan, apa Anda serius ingin kita pindah kesana?" Mudru angkat suara menanyakan hal itu.
"Tentu saja, tapi untuk sekarang aku akan melatih kalian terlebih dahulu. Akan sia-sia jika kalian mati saat kita sampai disana," jawab Ferisu dengan senyum penuh makna.
"Tapi, di dalam sebuah cerita, katanya tempat itu terdapat seorang dewi yang disegel," ucap Alfred.
"Benar, Dewi Malapetaka, Alia," sambung Ferisu. "Keberadaannya benar, apa adanya. Itu bukan hanya sekedar cerita atau legenda, di dasar dungeon terdapat sebuah altar yang merantai dewi tersebut."
Saat mendengar hal itu, sekali lagi semua orang yang berada di ruangan terkejut. Bagaimana tuan mereka bisa tahu hal seperti itu. Apa dia pernah datang ke dasar dungeon?
"Ferisu-sama, apa kamu pernah kesana?" tanya Licia penasaran.
Ferisu menggelengkan kepalanya. "Aku tak pernah kesana, tapi aku diberi tahu oleh seseorang yang bisa dipercaya," jawabnya sambil tersenyum.
"Orang yang kau maksud itu... seorang Dewa-Dewi?" ujar Lucy dengan polos. Sontak semua mata tertuju pada Lucy.
"Apakah itu benar, Tuan!?"
"Apa kamu seorang utusan, Ferisu-sama?"
"Kakak, kenal dengan seorang dewa?"
"..."
__ADS_1
Ferisu menghela nafasnya dan menatap tajam Lucy yang memasang wajah polos tanpa merasa bersalah. "Seperti yang dikatakan Lucy, aku memang kenal dengan tujuh dewa-dewi dunia ini. Rahasiakan soal ini dari yang lainnya, terutama kau Lucy," ucap Ferisu dengan senyum yang menyeramkan.
"Ugh! Ma-maaf..." Lucy menundukkan kepalanya setelah sadar tentang apa yang ia katakan.
Setelah mengatakan hal itu, mereka mulai membicarakan arah menuju ke hutan kematian. Jika satu arah, mereka akan mampir ke berbagai desa baik ras apapun itu. Desa terdekat saat ini adalah desa ras catsith, meskipun desa itu sudah hancur berantakan akibat serangan pedagang budak.
"Malam ini istirahatlah, besok kita akan berangkat!" ujar Ferisu dengan serius. Lalu meninggalkan ruangan, kembali menuju ke rumahnya.
Sementara itu, semua orang masih di dalam ruangan rapat dan belum beranjak dari kursi. Mereka memiliki pemikiran yang berbeda-beda, meskipun hampir semuanya mengkhawatirkan soal kepindahan mereka ke hutan kematian.
"Bagaimana ini? Kita saja kewalahan melawan para kesatria dari kekaisaran, dan sekarang ingin pergi ke hutan kematian?"
"Kurasa kita bisa mempercayai Ferisu-san."
"Benar, entah kenapa aku merasa di mempunyai sebuah rencana."
"Tapi, bagaimana kamu tahu Lucy-san? Kalau Ferisu-sama mendapatkan informasi dari para dewa?"
Alfred pun memberikan sebuah alasan untuk menutupi hal itu. Ia memberi tahu jika Ferisu, pernah menceritakan soal itu kepada Lucy dan dirinya. Namun, hal itu harus dirahasiakan.
"Jadi, apa Ferisu-sama itu seorang utusan?" tanya Licia.
Lucy dan Alfred hanya bisa diam, entah kenapa jika mereka berbicara lebih. Rahasia soal reinkarnasi mereka juga akan terbongkar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam berlalu dan pagi hari-pun tiba, semua orang sudah berkumpul di gerbang desa dengan persediaan untuk perjalanan jauh. Semua orang tampak gelisah karena tahu tujuan perjalanan mereka. Hutan kematian, siapa yang mau ke tempat berbahaya seperti itu?
Bahkan ras dragonoid dan flugel yang merupakan ras tingkat superior saja gak berani menginjakkan kaki ke sana. Monster-monster yang menghuni hutan itu sudah berada di tingkatan berbeda, semakin masuk kedalam monsternya akan makin kuat. Dungeon dewi malapetaka, berada di pusat hutan tersebut.
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita mulai perjalanannya!" seru Ferisu. Mereka mulai bergerak menuju ke arah timur untuk sampai ke hutan kematian akan memakan waktu dua bulan perjalanan.
Perjalanan ini bukanlah perjalanan yang nyaman, mereka harus bergerak secara sembunyi-sembunyi jika tak ingin melakukan pertarungan yang tak berarti. Saat melewati jalan yang berada dekat dengan kota Vurlin, Alfred dan Lucy berhenti berjalan.
"Ada apa?" tanya Ferisu dengan nada penasaran. Lalu memerhatikan Alfred dan Lucy secara bergantian. Setelah itu ia tersenyum, "Lakukanlah, kalian pasti punya tugas tersendiri, kan? Tak perlu memikirkanku, ini memang tugasku."
Lucy dan Alfred memandang satu sama lain, lalu mengangguk pelan. Tatapan dan raut muka mereka menjadi serius. "Seperti yang kau katakan, kami juga punya tugas yang harus dikerjakan! Jadi, setelah selesai dan menjadi lebih kuat, kami akan menyusul kalian!" ucap mereka berdua dengan penuh keseriusan dan semangat.
"Ya, aku akan menaklukan dungeon itu dan membangun kota di dalamnya!" balas Ferisu dengan senyuman yang penuh percaya diri.
Mereka berpisah di sana dan melanjutkan perjalanannya masing-masing. Tujuan Alfred yakni ibu kota Urushia, kerajaan Yelusia, sedangkan Lucy akan berkelana ke berbagai tempat untuk meningkatkan kemampuan sihirnya.
Satu hari sudah berlalu, mereka saat ini berada di desa para catsith yang sudah hancur. Disana masih ada beberapa warga yang tinggal dan memperbaiki bangunan.
"Shiro, Daga, Roku, Taka ... ," teriak para penduduk desa saat melihat ke delapan kenalan mereka.
Pada awalnya para penduduk desa terlihat begitu waspada, tetapi setelah mendapatkan penjelasan dari Shiro dan yang lainnya. Mereka menjadi tenang, mau dilihat dari manapun, ada rombongan yang tak biasa, goblin, manusia, dan bunny.
"Apa kau bilang?! Kalian ingin pergi ke hutan kematian?!" teriak kepala desa catsith dengan nada terkejut.
"Ya, kalian boleh ikut jika mau," ucap Ferisu. Melirik semua catsith yang ada di desa itu.
"Apa kau tau semengerikan dan bahaya dari hutan itu?"
"Tentu saja, karena itulah selama perjalanan menuju ke sana. Aku akan melatih kalian untuk menjadi lebih kuat."
Para catsith meminta waktu untuk mendiskusikan hal itu, tentunya mereka tak bisa memutuskan hal sepenting itu secara cepat. Pergi ke tempat yang sangat berbahaya dengan ras lain. Namun, mereka juga tak bisa mengabaikan sosok yang memimpin rombongan tersebut. Aura nya sangat berbeda, dia bukan seorang manusia, namun ia juga tak terlihat seperti iblis.
Setelah berdiskusi cukup lama, para catsith memutuskan untuk ikut. Mereka memutuskan untuk percaya pada laki-laki berambut silver yang memimpin rombongan tersebut. Melihat berbagai ras bisa berdampingan seperti itu sudah berupa sesuatu yang cukup mustahil, karena hal itulah mereka memilih untuk percaya.
__ADS_1
"Baiklah! Ayo kita lanjutkan perjalanannya!" seru Ferisu dengan lantang.
"Yaaa!!!"