
Di luar hutan tempat para elf tinggal, terdapat seekor monster berbahaya. Bentuknya seperti seekor kelabang dengan mata berwarna merah menyala, sekujur tubuhnya berwarna hitam dengan duri berwarna ungu kegelapan. Ia memiliki kedua capit yang besar di dekat mulutnya, sebuah capit yang amat tajam sehingga dapat membelah gunung seperti mentega.
Saat ini monster itu amat kesal karena dipaksa keluar dari dalam tanah. Menyerang pelindung hutan secara membabi buta untuk menghancurkannya, hingga akhirnya pelindung itu pecah tepat saat Ferisu baru sampai di hadapannya.
"Aura yang begitu mengerikan..." gumam Ferisu yang baru sampai. Ferisu menarik pedangnya keluar dari sarung, lalu meloncat ke atas tepat di hadapan monster itu.
"Fog Prison!" Ferisu mengayunkan pedangnya dan menciptakan sebuah kabut tebal yang melingkari tempat mereka. Sebuah area yang tertutup oleh kabut itu mudah dimasuki dari luar, namun, sekalinya masuk kalian akan kesulitan untuk mencari jalan keluar.
Monster itu berdesis lalu menyobek kabut tebal itu dengan capitnya sehingga penjara yang terbuat dari kabut itu sirna. "Tch!" Ferisu mendecakkan lidahnya dan bergerak menyamping, lalu meloncat naik ke atas tubuh kelabang raksasa itu.
Kelabang itu tak menghiraukan Ferisu dan terus berjalan memasuki hutan menuju ke tempat pohon dunia. Semua pohon, bebatuan, apapun yang menghalangi jalannya akan terbelah dalam sekejap oleh capitnya yang tajam.
"Monster ini... benar-benar tak memganggapku sebagai ancaman, yah?" gumam Ferisu, lalu berlari kedepan untuk mencapai kepala dari kelabang itu.
Kelabang itu bergerak dengan sangat cepat hingga akhirnya sampai di kawasan tempat tinggal para elf, ibu kota kerajaan Elverne. Kelabang itu mulai mendesis dengan kepalanya yang di angkat ke atas. Para prajurit elf yang menjaga, mulai menembaki kelabang itu dengan anak panah yang diselimuti oleh sihir. Namun, tak ada satupun anak panah yang memberikan luka, maupun menggores kelabang itu sedikitpun.
Ferisu berlari dengan sekuat tenaga lalu meloncat ke atas dan memberikan pukulan keras ke kepala kelabang itu. "Tutup mulutmu serangga sialan!"
Kepala kelabang itu terhempas ke bawah dengan keras hingga membuat tanah retak. Kelabang itu mulai meronta karena merasa kesal, ia menggoyangkan kepalanya hingga Ferisu kehilangan keseimbangan dan harus meloncat turun dari sana. Di saat yang bersamaan, kelabang itu dengan cepat menembakkan bola air berwarna ungu ke arahnya.
Karena serangan itu begitu cepat, Ferisu tak sempat menghindarinya hingga terkena tembakan racun itu. Serangan itu mendorong Ferisu hingga membuatnya terhempas dengan keras ke tanah. Asap tipis terlihat dari sekujur tubuh Ferisu, kulitnya seperti terbakar akibat racun tersebut.
"Kugh! Sial!" gerutu Ferisu yang merasa kesal karena terkena racun tersebut. Lalu bangun berdiri secara perlahan.
"Ferisu!" teriak Yoruka yang baru sampai disana dan melihat Ferisu yang penuh dengan luka. "Apa kau tak apa?" tanyanya dengan begitu khawatir.
__ADS_1
"Tak apa, aku bisa meregenerasi luka seperti ini dengan cepat," jawab Ferisu sembari meregenerasi luka-lukanya.
"Monster macam apa yang kau bawa kesini dasar iblis!" ketus Olivia yang masih menuduh bahwa Ferisu orang yang membawa monster itu.
Yoruka mendekat ke Olivia dan menarik kerah bajunya. "Apa yang kau katakan elf sialan! Bagaimana mungkin Ferisu yang membawanya! Lihat saja, semua luka yang ia terima!" balasnya sembari menunjuk ke arah Ferisu yang tengah menyembuhkan luka-luka di tubuhnya.
"Itu benar! Tidak mungkin Ferisu-sama yang membawa monster itu!" sambung Licia demi meyakinkan neneknya.
Olivia mendecakkan lidahnya. "Apa kau lupa dengan apa yang terjadi pada orang tua mu!?" teriaknya sembari menatap tajam Licia.
Licia tak bisa menjawab ucapan neneknya dan hanya bisa menundukkan kepalanya dengan wajah sedih. Namun, Licia menggenggam tangannya dan menatap neneknya dengan tatapan serius. "Meskipun begitu, yang melakukannya bukanlah Ferisu-sama!" ucapnya.
"Aku tak tau apa yang sedang kalian bincangkan, sebaiknya kalian lebih fokus pada monster yang ada di depan," sela Ferisu yang baru selesai meregenerasi semua luka di tubuhnya.
Saat itu tiba-tiba langin menjadi gelap, awan berputar di satu titik hingga terlihat seperti pusaran. Petir bergemuruh kuat, lalu sebuah kilat bersinar terang membuat silau. Sebuah sambaran petir turun mengenai monster kelabang itu.
Sosok bersayap hitam dengan sekujur tubuh yang di selimuti oleh armor hitam bercorak merah turun ke bawah.
"Lama tak bertemu, Ferisu," ucap sosok itu.
"Kau... siapa yah?" balas Ferisu sembari menunjukkan wajah kebingungan.
Sosok itu mengangkat tangan kanannya ke wajah sembari menghela nafas. "Desa Fulen, kita pernah bertemu disana," ucapnya mengingatkan Ferisu.
__ADS_1
"Ah, kau gagak yang jatuh itu yah, Lucifer?" Ferisu berhasil mengingat kejadian ketika berada di desa Fulen, dimana ia pertama kali bertemu dengan Lucifer yang menanyakan lokasi.
"Hah?!" Lucifer tampak tak terima dengan aoa yang dikatakan Ferisu.
"Apa kau tau tentang monster ini?" tanya Ferisu dengan serius.
"Iya, salah satu monster yang hidup pada zaman para dewa. Kelabang Pemotong Kehidupan!" jawab Lucifer.
"Zaman para dewa?"
"Iya, seharusnya mereka sudah tersegel. Tapi, ada beberapa bajingan yang membuka segelnya, mereka bahkan memfitnahku hingga membuatku terusir dari tempat tinggal ku sendiri!"
Lucifer terbang menerjang kelabang itu dari depan dengan dua buah pedang di tangannya. Ferisu mengikutinya dan bergerak menyemping untuk menyerang kelabang itu dari arah sebaliknya. Namun, kelabang itu mengeluarkan semacam miasma yang menyelimuti dirinya.
Lucifer mendadak berhenti dan terbang mundur, sedangkan Ferisu yang terlanjur menyentuh kelabang itu terkena serangan miasma itu hingga menguras banyak energi sihirnya.
"!!!?"
Kelabang itu tiba-tiba berputar dan memotong tubuh Ferisu dengan kedua capitnya yang tajam. Lalu menggerakkan ekornya seperti cambuk dan memukul Ferisu dengan kuat. Tubuhnya yang terpotong menjadi dua, terhempas di dekat pohon dunia.
Yoruka, Licia, Kurumi dan Shiro yang melihat hal itu, langsung berlari dengan panik. Mereka dengan cepat menghampiri Ferisu dengan penuh rasa khawatir. Sesampainya disana mereka melihat Ferisu yang tak sadarkan diri dengan tubuh yang terpisah menjadi dua bagian.
"Tidak mungkin..." Mereka semua terduduk lemas saat melihat hal itu. Licia dan Yoruka mendatangi bagian atas Ferisu yang tergeletak di samping pohon dunia.
"Bangunlah!" Mereka berteriak dengan penuh putus asa, sembari menggoyangkan tubuh Ferisu. "Kenapa... kau tak akan mati semudah itu, kan! Kau punya tujuan yang besar, mana mungkin kau bisa mati semudah itu!" teriak Licia dengan air mata yang mengalir.
__ADS_1
Shiro terduduk membatu karena syok dengan apa yang ia lihat. Sedangkan Kurumi berjalan mendekati Ferisu, pandangannya kosong. Lalu, Lucifer terbang mendekat kesana.
"Berhentilah menangis! Dia itu vampir, cukup berikan dia darah maka dia akan beregenerasi lagi!" teriak Lucifer.