Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain

Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain
Chapter 42 : Alter Ego


__ADS_3

Sudah dua hari Ferisu tak sadarkan diri, hingga pada suatu malam ia terbangun. Berjalan keluar dari kamarnya menuju ke sebuah danau yang tak jauh dari kota. Tengah malam yang begitu dingin, diikuti suara nyanyian jangkrik.


Ferisu menatap pantulan cahaya bulan di atas permukaan air danau. Ia juga melihat bayangan dirinya, "apa yang terjadi?" gumamnya.


Ferisu hanya bisa mengingat kejadian ia dibelah oleh kelabang itu. Kemudian ia duduk dipinggir danau, lalu membaringkan tubuhnya. Menatap langit malam yang dipenuhi oleh bintang.


"Sepertinya... aku telah kehilangan kendali lagi," gumamnya sembari menggigit bibirnya. Wajahnya tampak kesal dengan apa yang ia pikirkan. "Selalu melakukan hal yang sama, membunuh, menghancurkan, tapi kenapa aku tak pernah mengingatnya!?"


Ferisu kembali duduk dan meraba rumput sebelah kanannya mencari sebuah batu. Batu itu ia lemparkan ke arah air. "Percuma saja aku merasa kesal," gumamnya.


"Setidaknya, baru kali ini aku kehilangan kendali semenjak datang ke dunia ini. Kakek, apa yang harus kulakukan?"


...****************...


Di kota, Licia dan Yoruka hendak membesuk Ferisu. Namun, mereka melihat pintu kamarnya terbuka dan ada Shiro serta Kurumi di dalam kamar. "Apa kalian juga ingin memeriksa kondisi Ferisu-sama?" tanya Licia.


Shiro dan Kurumi berbalik dengan wajah yang menunjukkan kekhawatiran. "Ferisu-sama... dia tak ada," kata mereka berdua dengan gemetar.


"Hah?"


Saat mendengar itu Yoruka langsung berlari keluar dari kamar, ia mencari Ferisu ke seluruh penjuru kota. Begitu pula dengan yang lainnya. Setelah berkeliling, mereka bertemu kembali di depan pohon dunia.


"Bagaimana? Apa kalian menemukan Ferisu?" tanya Yoruka. Semua orang menggelengkan kepalanya.


Di saat mereka kebingungan dan khawatir, pohon dunia menjatuhkan sebuah daun kecil, yang terjatuh di atas kepala Shiro. "Daun?" Shiro mengambil daun itu dan memutar-mutar melihat semua sisi daun.


"Lemparkan daun itu, angin akan meniupnya menuju ke tempat Ferisu-san." Terdengar suara wanita yang memberikan arahan.


Mereka semua tampak kebingungan dan melihat ke segala arah. "Siapa yang berbicara?" ucap mereka.


Licia melihat ke arah pohon dunia dan menundukkan kepalanya, "terima kasih banyak, Seikaiju-sama."

__ADS_1


Shiro melemparkan daun itu, lalu angin berhembus pelan membawa daun itu. "Cepat ikuti daun itu!" ujar Licia, sembari menunjuk ke arah daun yang terbang mengikuti arah angin.


Setelah cukup lama berjalan mereka akhirnya sampai di sebuah danau yang berada di tengah hutan. Seorang pria dengan rambut silver tengah berbaring sembari menatap langit malam di pinggir danau, beralaskan rumput.


"Ferisu-sama?"


Mendengar seseorang memanggil namanya, Ferisu menoleh dan bangun duduk. "Ya?" sautnya. "Kenapa wajah kalian teihat begitu khawatir?" tanya Ferisu saat melihat wajah ke empat gadis yang datang menghampirinya.


Ke empat gadis itu mulai berlari dan memeluk Ferisu dengan erat. "Bodoh! Kenapa kau pergi tanpa memberi tahu kami!?" kata Yoruka.


"Maaf," balas Ferisu dengan lirih. "Maaf karena telah membuat kalian semua khawatir," ucapnya sembari mengelus rambut para gadis itu secara bergantian.


"Apa kalian bisa menyingkir sekarang? Tubuhku masih terasa sakit," ucap Ferisu dengan canggung.


Mereka berempat melepaskan pelukannya dan duduk di samping Ferisu. Melihat pantulan langit malam di atas permukaan danau. "Aku... tak membunuh siapapun, kan?" tanya Ferisu dengan nada sedih.


"Tidak, tapi... apa yang terjadi padamu Ferisu?" Yoruka bertanya balik, karena merasa penasaran dengan apa yang terjadi sebelumnya.


"Itu adalah diriku yang lain," jawab Ferisu.


Alter ego juga bisa dikendalikan, sehingga tidak akan mengganggu diri sendiri maupun orang lain. Uniknya lagi, penelitian menunjukkan bahwa alter ego memiliki manfaat, salah satunya meningkatkan rasa percaya diri dan membuat seseorang lebih tenang dalam menghadapi situasi apa pun.


Namun, saat ini Ferisu tak mampu untuk mengendalikan sang alter. Hingga ia akan kehilangan kendali akan tubuhnya dan tak mengetahui hal apapun yang dilakukan sang alter saat mengendalikan tubuhnya.


Alter ego miliknya pertama kali muncul saat Ferisu masih berusia sepuluh tahun. Saat itu ia sedang duduk di atas sebuah ayunan di tama seorang diri. Perasaan kesepian dan sedih selalu menghantui dirinya pada saat itu. Wajahnya terlihat begitu murung.


"Huft~ aku harus pulang sebelum gelap," gumamnya, lalu turun dari ayunan.


Ia berjalan sembari menendang batu rrandom sepanjang jalan menuju ke rumahnya. Namun, di lubuk hatinya, Ferisu tak ingin pulang kerumah. Baginya tempat itu bukanlah rumah, melainkan neraka.


Saat sampai di depan pintu rumah, ia mencoba untuk menggapai gagang pintu dengan tangan gemetaran. Ia meneguk air ludahnya dan memutar gagang pintu, lalu mendorong pintunya agar terbuka. Saat melihat kedalam ia tak melihat ada sepatu orang tuanya dan merasa lega.

__ADS_1


Ferisu berlari kecil menuju ke arah dapur dan mengambil beberapa makanan dan minuman untuk dibawa ke kamarnya. Setelah itu ia mengurung dirinya di dalam kamar, tak turun untuk makan malam bersama keluarganya.


Setiap malam akan ada suara berisik di rumahnya, suara yang cukup intens dari kamar orang tuanya. Pertengkaran, kekerasan, perselingkuhan, semuanya terjadi di dalam rumah itu. Terkadang Ferisu juga mendapatkan kekerasan dari kedua orang tuanya.


Hingga suatu malam mereka makan malam bersama. Perasaan canggung diikuti oleh suasana yang sepi menyelimuti ruang makan. Sampai suara dentuman besar memecahkan kesunyian itu. Sang ayah memukul meja dengan keras hingga membuat makanan di atasnya tumpah.


"Apa ini!? Kau pikir aku bisa makan sampah ini ******!?" teriaknya memaki makanan yang dimasak oleh istrinya.


"Apa kau bilang bajingan!?" balas ketus sang istri.


"Mulai lagi..." gumam Ferisu lirih sembari melihat kedua orang tuanya saling melempar kata-kata kasar. Ferisu meneguk seteguk ludah dan mencoba memberanikan dirinya. "A-apa kalian bisa berhenti bertengkar?" ujarnya dengan gemetar.


Kedua orangnya berhenti berbicara dan melihat ke arah Ferisu. "Apa yang kau ingin kan bocah sialan!?" saut sang ayah.


"Ya! Kau itu anak yang tak kami inginkan!" sambung sang ibu dengan tatapan penuh kebencian. Pada awalnya mereka menikah bukan karena perasaan cinta, melainkan paksaan dari orang tua mereka.


Saat itu mereka sepakat untuk tidak memiliki anak, namun, tiba-tiba sang istri hamil. Tentu saja kedua keluarga senang akan hal itu dan menyuruhnya untuk menjaga baik-baik anak yang ada di dalam kandungan tersebut.


Setelah lahir, Ferisu sudah tak menerima yang namanya cinta dan kasih sayang. Hal itu membuatnya sedih hingga terukir di wajahnya yang masih polos.


Pada malam itu, Ferisu sudah tak dapat menahan perasaan sakit yang ada di dadanya. Bendungan yang selama ini menahan perasaan itu mulai retak dan hancur.


"Hei, bergantilah denganku." Terdengar suara sama di dalam kepala Ferisu, suara itu sama persis dengan suaranya.


"Siapa?"


"Aku adalah dirimu, aku akan menghilangkan semua penderitaan yang kau rasakan saat ini. Bergantilah denganku."


Ferisu yang sudah merasa tertekan dan hancur saat itu, mengiyakan saran dari suara itu. Kemudian sikapnya berubah drastis. "Hahah!" Tertawa kencang sembari turun dari kursi. Ia berjalan menuju ke rak piring dan mengambil pisau.


"A-apa yang ingin kau lakukan dengan pisau itu?"

__ADS_1


Ferisu tak menjawab pertanyaan itu dan berjalan mendekati kedua orang tuanya dengan tatapan dingin. Kejadian itu berlangsung dengan sangat cepat, dan saat tersadar Ferisu sudah melihat kedua orang tuanya terkapar di lantai dengan kubangan darah.


"A-apa yang... aaaarrrgghh!"


__ADS_2