Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain

Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain
Chapter 41 : Hilang Kendali


__ADS_3

Di hutan para elf, kerajaan Elverne. Sosok monster yang berasal dari zaman para dewa muncul dan mencoba untuk memotong pohon dunia. Ferisu mencoba untuk menghentikannya, namun, monster itu terlalu kuat hingga membelah tubuh Ferisu menjadi dua bagian.


Saat ini Lucifer sedang menahan monster itu seorang diri, namun, ia memberi tahu teman-teman Ferisu. "Berikan saja dia darah, maka dia akan bangkit lagi!" katanya sebelum pergi menghadang monster itu.


Mereka tampak kebingungan setelah mendengar hal itu. Namun, Kurumi dan Yoruka yang darahnya pernah diminum oleh Ferisu tersadar akan hal itu. Yoruka langsung menggigit tangannya hingga terluka dan mengeluarkan darah. Lalu, ia menghisap darah itu kedalam mulutnya.


Yoruka mengangkat kepala Ferisu dan memberikan darah yang ada di mulutnya. Dari mulut ke mulut. Satu tegukan... dua tegukan... tiga tegukan... Ferisu masih belum terbangun, namun, tubuhnya mulai menyatu kembali dengan darah yang mengalir.


"Berhasil!" teriak Yoruka dengan perasaan lega dicampur senang saat melihat tubuh Ferisu yang kembali menyatu. Setelah itu Kurumi melakukan hal yang sama, ia memberikan darahnya. Tegukan demi tegukan, hingga akhirnya Ferisu membuka mata secara perlahan.


"Ferisu-sama!" panggil mereka dengan perasaan lega. Ferisu bangun dan duduk bersandar pada pohon dunia. Meskipun matanya terbuka, pandangannya masih kosong seperti mata ikan mati. Warna merah matanya yang biasanya menyala terang, kini terlihat redup.


Licia mencoba mendekat, tiba-tiba tangan Ferisu bergerak dan menariknya. Secara naluri, Ferisu menggigit leher Licia dan menghisap darahnya. Kemudian Ferisu bangun berdiri dan mendekati Shiro yang masih terduduk syok. Ferisu menunduk dan menatap wajah Shiro.


"Ferisu-sama...?" gelagap Shiro dengan nada terkejut saat melihat Ferisu yang melihatnya. Lalu, Ferisu mendekat ke samping dan menggigit leher Shiro. "Eh?!" Shiro tampak terkejut dan terbangun dari lamunannya.


"Fe-Ferisu-sama!? Anda baik-baik saja?" teriaknya.


Ferisu tak menjawab pertanyaan Shiro dan hanya berfokus menghisap darahnya. Setelah selesai ia langsung berjalan pergi meninggalkan semua gadis yang darahnya ia hisap tanpa sepatah kata apapun. Sayap hitam dengan corak berwarna merah keluar dari punggungnya, berbentuk seperti sayap kelelawar.


Secara perlahan Ferisu mengibaskan sayapnya dan mulai terangkat ke atas. Dengan cepat ia terbang menuju ke arah monster itu dan menghantamnya dengan keras. Monster itu terdorong cukup kuat hingga membuatnya marah.


"Kau sudah sadar rupanya," ucap Lucifer. Namun, Ferisu tak membalas ucapannya dan pandangannya tetap kosong. Bisa dibilang, Ferisu bergerak bukan karena kehendaknya sendiri.


"Apa yang terjadi dengannya..." Lucifer bertanya-tanya kenapa Ferisu terlihat cukup aneh, disisi lain energinya meluap-luap keluar. Kekuatannya juga meningkat drastis.

__ADS_1


Menarik pedang yang ada di pinggangnya, sebuah pedang yang dapat menciptakan kabut. Ferisu menebas tubuh kelabang itu secara bertubi-tubi, setiap tebasannya mengeluarkan kabut berwarna merah. Tebasan demi tebasan, lama-kelamaan kabut merah itu menyelimuti seluruh tubuh kelabang.


Pedang kelabu yang ia pegang, mulai berubah menjadi merah. "Blood Mist : Shadow Clone—Kabut darah : klon bayangan." Ferisu menciptakan banyak klon dirinya di dalam kabut berwarna merah itu. Lalu menyerang kelabang itu dari segala arah.


Kelabang itu mulai meronta-ronta kesakitan, setiap menggerakkan kepalanya untuk menyerang Ferisu dengan sabit dan racunnya. Semua serangan itu terhalang oleh kabut merah itu. Kaki kelabang itu mulai lepas satu demi satu, hingga tubuhnya juga terbelah.


Kelabang itu tak dapat bergerak lagi, kabut merah itu juga ikut menghilang, memperlihatkan sosok kelabang dengan tubuh tercerai berai. Ferisu berdiri di atas kepala kelabang itu dan membelahnya menjadi dua. Sebuah kristal berukuran raksasa terlihat memancarkan cahaya ungu terang.


Batu sihir, atau bisa dibilang sebagai inti para monster. Sebuah kristal yang terbentuk karena berkumpulnya energi sihir pada satu titik. Batu sihir hampir sama pentingnya dengan jantung, bagi para monster.


Ferisu menghancurkan batu sihir itu dan menyerap semua energi sihir darinya. "Apa yang kau lakukan!?" teriak Lucifer saat melihat Ferisu mencoba untuk menyerap energi sihir dari batu itu.


Lucifer menembak Ferisu dengan beberapa sihir untuk mengacaukannya dalam menyerap batu itu. "Apa kau sudah gila!?" Lucifer langsung mendekat dan memukul wajah Ferisu.


Ferisu menunjukkan wajah yang begitu kesal diikuti oleh sorot mata tajam. Ia bangun berdiri dan menarik pedangnya keluar, lalu mengacungkannya pada Lucifer. "Kenapa kau menggangguku? Serangga terbang," katanya dengan sinis.


"Tentu saja, siapa lagi jika bukan?" balas Ferisu dengan nada angkuh.


"Dimana pertama kalinya kita bertemu?" Lucifer kembali mengajukan pertanyaan.


Ferisu mengangkat kedua bahunya, "entahlah."


"Jadi siapa kau?!"


Ferisu langsung bergerak dan menebaskan pedangnya ke arah Lucifer dengan wajah polos. Lucifer berhasil menghindar dengan bergerak menyamping. Lalu, Ferisu langsung mengubah arah tebasannya dari horizontal menjadi vertikal.

__ADS_1


Lucifer menarik pedang yang ada di pinggang kanannya dan berhasil menahan tebasan Ferisu. "Sial! Kau benar-benar ingin menebasku dengan serius ya!?" ketus Lucifer.


"Hmm? Kau pikir?" ucap Ferisu dengan santai-nya. Lalu mengarahkan pedangnya ke arah Lucifer.


"Apa yang mereka lakukan?" gumam Licia saat sampai di lokasi mayat kelabang. "Kenapa mereka bertarung?"


"Ada yang aneh dengan Ferisu," ungkap Yoruka saat melihat pertarungan itu. "Dia tak bergerak karena kemauannya, tapi bergerak karena emosi," ucapnya menyimpulkan apa yang ia lihat.


"Ferisu-sama, sadarlah!" Licia berteriak dengan harapan Ferisu dapat mendengarnya. Namun, karena teriakan itu sasaran Ferisu yang awalnya Lucifer berubah menjadi Licia. Ia berhenti menyerang Lucifer dan langsung melesat cepat menuju ke arah Licia dengan pedang yang siap untuk menebas.


"Cepat menyingkir!" teriak Yoruka.


Licia hampir tak bereaksi hingga tak mampu untuk menggerakkan tubuhnya. Shiro bergerak dengan cepat dan menarik Licia agar tak terkena serangan Ferisu.


Meskipun serangannya meleset, Ferisu langsung mendorong dubuhnya untuk menyerang ke arah samping. "Ferisu-sama..."


Saat ujung pedang itu hampir menebas leher Licia, tiba-tiba serangan itu berhenti. Pedangnya terlihat gemetaran. "Sial...!" Ferisu mendecakkan lidahnya dan raut mukanya terlihat begitu kesal.


"Cepatlah menjauh!" ucap Ferisu dengan nada gemetar. Tak lama kemudian Ferisu kehilangan kesadarannya dan jatuh kedalam pelukan Licia.


"Ferisu-sama?"


"Seperti nya dia kehabisan energi sihir," ucap Yoruka.


Setelah itu Ferisu dibawa ke kamarnya untuk istirahat. Ferisu tak sadarkan diri selama dua hari dan hanya terbaring di atas kasur. Di sisi lain, para elf sibuk memperbaiki kerusakan akibat pertarungan yang terjadi, serta membongkar material dari kelabang raksasa itu.

__ADS_1


Lucifer mengambil batu sihir-nya lalu pergi meninggalkan hutan elf untuk melanjutkan perjalanannya.


__ADS_2