
Di balik sebuah hutan, terdapat dinding sihir yang kuat memutari sebuah perdesaan. Di dalamnya ada ras goblin, manusia, bunny dan catsith yang tinggal berdampingan.
"Ayo cepat dan lebih kuat lagi!"
Para penduduk berkumpul di sebuah lapangan, mereka berlatih dengan giat untuk menjadi lebih kuat. Demi melindungi orang yang mereka sayangi dan mencegah kejadian buruk yang terjadi di masa lalu terulang lagi.
Para penduduk mengandalkan hasil panen dari umbi-umbian seperti ubi dan kentang. Mereka juga memancing di sungai yang berada di dekat desa untuk mendapatkan ikan, berburu hewan dan mencari buah-buahan yang tumbuh di hutan. Hasil ternak dari sapi, kambing, ayam dan bebek juga menjadi makanan yang mereka konsumsi.
"Sudah satu bulan berlalu, bagaimana keadaan Ferisu-sama dan yang lainnya?" ucap seorang goblin gayle.
"Mereka pasti baik-baik saja," saut Hanzo, kepala suku gayle yang baru. "Ferisu-sama adalah orang yang kuat!" serunya.
"Benar! Ferisu-sama juga orang yang telah membuat kita bisa hidup berdampingan seperti ini!" sambung Frank kepala suku Regrus.
Di saat mereka sedang berbincang, seorang penjaga membunyikan lonceng yang menandakan ada seseorang yang mendekat. "Semuanya cepat ambil posisi kalian! Lakukan seperti saat latihan!" teriak Frank memberikan instruksi.
"Siapa yang mendekat?" tanya Mudru (kepala suku oldrus) yang naik ke atas menara pengawas.
"Orc, jumlahnya lima puluh orang!"
"Kalian dengar itu! Para goblin redhood bersiap di posisi kalian! Persiapkan mantra serangan!" seru Hatcha (kepala suku redhood).
Di saat semua orang siap untuk pertarungan, seorang catsith berlari memasuki desa. "Berhenti! Mereka bukan musuh!" teriaknya dengan lantang.
"Apa yang kau katakan, Kuroe?" tanya Frank pada catsith tersebut.
"Akulah yang membawa mereka kesini, mereka tak memiliki niat permusuhan," jawab Kuroe.
"Apa yang kau maksud dengan membawa mereka?" Frank menuntut penjelasan.
"Sebenarnya..."
Dua hari yang lalu...
__ADS_1
Kuroe yang merupakan kurir yang bertugas untuk berdagang ke kota. Setelah selesai dengan urusan berdagang dan membeli kebutuhan untuk desa, ia sedang dalam perjalanan kembali. Di pertengahan jalan, ia melihat kelompok kesatria kekaisaran Aegim, mereka dalah kelompok yang pernah menyerang desa Heiwa.
Kuroe menghentikan langkah kudanya dan bersembunyi di balik sebuah pohon. Ia mengikat kudanya dan berjalan mengendap-endap mengikuti rombongan kesatria itu. "Apa yang mereka lalukan disini?" gumamnya sembari mengintip dari atas pohon.
"Disekitar sini seharusnya ada desa orc!" teriak seorang kesatria.
"Ahaha, kita akan pesta malam ini!" seru kesatria yang lain.
Pada saat itu seorang penyihir yang berada di antara para kesatria menyadari keberadaan Kuroe. "Diamlah! Ada yang mengawasi kita," ucapnya melirik sekitar.
Semua kesatria mulai waspada dan mengecek sekitar, dengan cepat Kuroe mengaktifkan skill yang dapat menghilangkan hawa kehadirannya. "Sepertinya hanya perasaanku saja," gumam penyihir itu.
Kuroe keringat dingin karena merasa panik saat mengetahui jika penyihir itu mengetahui keberadaanya. Meskipun merasa takut, Kuroe tetap mengikuti para kesatria itu hingga mencapai sebuah desa yang dihuni oleh para orc.
Pembantaian terjadi dengan begitu cepat, para orc yang kuat menghadang para kesatria itu dan membiarkan orc yang masih anak-anak, dan perempuan pergi dari desa. Melihat hal itu Kuroe langsung bergerak dengan cepat menghampiri orc yang melarikan diri.
"Hei!" teriaknya memangg para orc.
"Catsith!?" Para orc berhenti dan tampak takut saat melihat Kuroe. Bagi mereka yang tak bisa bertarung, catsith merupakan ras yang memiliki spesialis dalam bidang assasin.
Saat itu seorang orc general mengayunkan kapaknya ke arah Kuroe. "Jangan menghalangi kucing sialan!" teriaknya. "Cepatlah! Jangan menghentikan langkah kalian!" Semua orc melanjutkan langkahnya.
"Aku tak tahu apa yang kau ingin kan, tapi aku tak akan membiarkan mu menyerang mereka!" ujar orc itu dengan ketus. Lalu menyerang Kuroe.
"Tolong dengarkan aku dulu! Aku tak berniat menyerang kalian!" teriak Kuroe sembari menghindari setiap serangan dari orc itu.
Namun, orc itu terus menyerang Kuroe tanpa henti, sehingga mau tak mah Kuroe harus menyerang balik dan melumpuhkan orc tersebut. Dengan gerakannya yang gesit, Kuroe berputar mengambil sebuah posisi di titik buta milik orc itu dan menyerangnya.
Orc itu terjatuh dan kapaknya terlempar cukup jauh. "Kuh! Sial!" gerutunya kesal.
"Apa kau bisa mendengarkan ku sekarang?" tanya Kuroe.
"Lakukan saja semaumu! Setidaknya biarkan mereka yang lari!" balas orc itu.
__ADS_1
Kuroe menghela nafasnya, "sudah kubilang, kan? Aku tak bermaksud menyerang kalian. Sebaliknya, aku berniat untuk membantu kalian."
"Hah!? Kau pikir aku akan percaya akan hal itu!?" balas orc itu dengan ketus.
"Terserah kau mau percaya atau tidak, saat ini cukup ikuti aku. Ada sebuah desa di balik hutan yang dihuni oleh ras yang berbeda-beda, aku akan membawa kalian kesana," ujar Kuroe sembari membantu orc itu bangun berdiri.
Meskipun masih merasa curiga, orc itu merasa bisa mempercayai Kuroe setelah melihat matanya yang serius.
...****************...
"Begitulah ceritanya," ucap Kuroe.
"Baiklah, perbolehkan mereka masuk!" ujar Frank dengan lantang. Saat memasuki desa itu, para orc tampak tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Sebuah desa yang dihuni oleh empat ras yang berbeda, bagaimana mungkin itu bisa ada.
"Apa mereka mengikuti kalian?" tanya Hatcha yang turun dari atas dinding dan menghampiri Kuroe.
"Tidak, sepertinya mereka lebih berfokus pada desa para orc," jawab Kuroe.
Tak lama setelah itu sebuah gate tiba-tiba muncul di tengah desa. Semua penduduk langsung berkumpul di sekitar gate itu, para orc juga ikut dengan perasaan takut. Mereka dapat merasakan energi sihir dari makhluk yang kuat, memancar dari dalam gate itu.
Ferisu keluar dari balik gate, "lama tak bertemu, bagaimana kabar kalian?" sapanya menanyakan kabar semua orang.
"Selamat datang kembali, Ferisu-sama!" teriak semua orang menyambut kedatangan tuan mereka.
Saat melihat para penduduk yang menyambut kedatangannya dengan ceria, Ferisu melihat kawanan orc di dekat gerbang masuk desa. "Siapa mereka?" tanya Ferisu menunjuk ke arah para orc.
"Mereka orc yang saya bawa, Ferisu-sama," jawab Kuroe dengan nada gemetar.
Setelah itu Ferisu berjalan menuju ke rombongan para orc, general orc langsung menghadangnya. "Kumohon, tolong lepaskan mereka. Anda bisa melakukan apa saja padaku," ucapnya dengan gemetaran.
"Tenanglah, aku tak akan melakukan apapun pada kalian. Sebaliknya aku ingin bertanya, apa kalian mau tinggal bersama kami?" tanya Ferisu sembari mengulurkan tangannya.
Semua penduduk desa yang lain menunjukkan senyuman hangat seperti melihat keluarga baru yang akan bergabung bersama mereka. Orc general menerima uluran tangan tersebut. "Iya, kami bersedia," ucapnya dengan yakin.
__ADS_1
"Baiklah, semuanya cepatlah bereskan barang-barang kalian!" teriak Ferisu.