Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain

Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain
Chapter 38 : Hutan Elf


__ADS_3

Setelah urusan dengan para lamia dan pedang kabut selesai, mereka keluar dari lembah dan sampai di sebuah padang rumput yang luas. Kini kelompok mereka bertambah satu orang, seorang gadis berambut hitam panjang dengan mata emas. Seekor ular emas sebagai familiarnya, ia adalah sang ratu lamia, Yoruka.


Selama perjalanan Yoruka tampak mencoba untuk dekat dengan Licia, ia selalu mencoba untuk mengajaknya mengobrol dan bercerita. Mungkin itu bentuk permintaan maafnya serta keinginannya untuk berteman. Licia juga menanggapi ajakan bicara Yoruka, lama kelamaan mereka terlihat begitu dekat seperti seorang teman baik.


Shiro mendekat ke tempat Kurumi. "Hei, apa kau tak curiga dengan wanita itu?" bisiknya pelan sembari melirik ke Yoruka.


"Tidak, Yoruka-san tak punya niat jahat kok. Aku bisa jamin hal itu, aku menggunakan kemampuan mataku dan melihat ke masa depan yang cukup jauh," jawab Kurumi dengan senyuman.


"Kau melihat apa?" tanya Shiro penasaran.


"Ferisu-sama, Licia-san, Yoruka-san dan beberapa gadis lain tersenyum dan tertawa bersama di sebuah ruang makan yang luas," jawab Kurumi.


"Tapi, hal itu bisa berubah, kan?" Shiro bertanya lagi untuk mendapat kepastian.


"Iya, masa depan bisa diubah tergantung bagaimana kita melakukannya," jawab Kurumi.


Shiro dan Kurumi, Licia dan Yoruka, mereka terlihat begitu senang ketika mengobrol bersama. Di bagian paling belakang barisan, Ferisu memandangi mereka dengan senyum kecil di wajahnya. "Padahal mereka bertengkar hebat sebelumnya, namun sekarang menjadi teman baik," gumamnya dalam hati.


Ferisu mengangkat wajahnya ke atas, memandangi langit biru yang cerah. Ia menyipitkan matanya karena merasa silau ketika melihat ke arah mentari. Lalu menundukkan kepalanya, melihat jalan yang ia tapaki. Saat itu Ferisu berhenti berjalan.


"Ada apa Ferisu-sama?" tanya Licia saat melihat Ferisu berhenti berjalan.


Ferisu hanya berdiri mematung dengan pandangan ke arah bawah. Matanya terlihat begitu serius dan mengerutkan dahinya seperti sedang berfikir keras. "Makhluk apa yang bergerak di bawah tanah?" gumamnya pelan.


Shiro mendekati Ferisu dan melihatnya dari bawah. "Ada apa, Ferisu-sama? Wajah Anda terlihat begitu pucat," katanya dengan nada bertanya.


Ferisu menggelengkan kepalanya, "Tidak, bukan apa-apa," jawabnya dengan ragu. Sudah cukup lama Ferisu berada di dunia Envend, namun, ia tak pernah merasakan rasa intimidasi sekuat itu. Ini kali pertamanya ada makhluk yang membuat Ferisu merasa takut.


Ferisu mencoba untuk tak memikirkannya lalu melanjutkan perjalanan. Mereka menelusuri padang rumput yang luas hingga mencapai ke perbatasan hutan yang rimbun. Saat hendak memasuki hutan, sebuah anak panah melesat dan menancap ke tanah, tepat di depan kaki Ferisu.


"Sepertinya kita tak disambut di sini," ucap Ferisu pelan sambil melirik dahan-dahan pohon.

__ADS_1


Seorang elf wanita keluar dari balik pohon dan menghampiri pendatang yang mencoba masuk ke hutan. Ia berjalan sembari mengarahkan panahnya. "Pergilah! Kalian tak diperbolehkan masuk ke hutan ini!" katanya dengan nada mengusir.


"Rui-chan!" Licia berlari mendekat ke arah elf yang mengarahkan panah tersebut. Tampak wajah kaget terukir jelas ditunjukkan oleh elf tersebut.


"Li-Licia-sama!? Apa benar itu Anda?" jawabnya dengan tak percaya. Licia mengangguk pelan, lalu elf bernama Rui tersebut menurunkan busur dan panahnya.


Licia langsung berlari memeluknya dengan penuh senyuman dan perasaan bahagia karena bisa bertemu lagi dengan sahabatnya.


"Anu, Licia-sama, siapa mereka?" tanya Rui dengan waspada.


"Ah, laki-laki itu bernama Ferisu, dia orang yang telah menyelamatkanku. Gadis kucing itu namanya Shiro, yang kelinci namanya Kurumi, dan satu lagi ratu lamia namanya Yoruka." Licia menjawab pertanyaan Rui dengan santai dan memperkenalkan semua orang yang bersama dengannya.


"Meskipun mereka teman-teman Anda, tetap saja mereka tak diperbolehkan masuk ke dalam hutan," tegas Rui dengan tak enak hati.


"Tapi..."


"Maaf, tapi itulah hukumnya."


Shiro dan Kurumi saling menatap satu sama lain dengan kebingungan. "Dunia fantasi?" kata mereka.


"Ah, tidak. Bukan apa-apa," ucap Ferisu sembari memejamkan matanya. Selama memejamkan matanya Ferisu menyadari keberadaan elf yang lain sedang memerhatikan dari dalam hutan. "Apa kalian bisa keluar? Aku hanya ingin mengembalikan Licia, tak ada niatan permusuhan sama sekali," ucapnya.


"Eh, apa? Siapa yang datang?" tanya semua orang yang ada disana.


Seorang elf wanita keluar dengan dua pengawal yang ikut bersamanya. "Nenek!" teriak Licia, lalu berlari ke pelukan sang nenek.


"Benar-benar cucu bodoh, seenaknya keluar dari pelindung hutan," ucap sang Nenek dengan begitu khawatir.


"Maafkan aku..." Licia tampak begitu menyesal dan setetes air mata jatuh ke pipinya.


Disisi lain, sang nenek melirik ke arah Ferisu dengan tatapan curiga. "Akulah pemimpin dari hutan elf, Ratu dari kerajaan Elverne, Olivia." Olivia sang ratu elf, neneknya Licia memperkenalkan dirinya.

__ADS_1


"Iblis, aku tak tau kau berasal dari ras apa. Sepertinya kau tak macam-macam dengan cucuku. Jika urusan-mu sudah selesai, kau bisa pergi," ucap Olivia dengan nada mengusir.


"Nenek! Ferisu-sama adalah penyelamatku! Bagaimana Nenek bisa mengusir penyelamatku dengan begitu tidak hormat begitu! Aku ingin membalas budi dengan benar!" bantah Licia yang tak terima dengan ucapan neneknya.


Ferisu menunjukkan wajah datar.


Sudah kuduga pasti aku tak akan diterima oleh para elf. Di antara banyaknya ras, elf adalah ras yang sangat waspada. Di antara elf, sepertinya Licia saja yang agak ceroboh.


Ferisu bergumam dalam hatinya, lalu melirik ke arah tiga wanita yang berdiri di dekatnya.


"Begitu-kah? Sepertinya cucuku ini sedikit merepotkanmu, Ferisu-dono," ucap Olivia dengan wajah yang tampak kesal.


"Aku tak akan melakukan apapun, cukup perboleh kan aku masuk ke desa saja," balas Ferisu dengan sopan.


"..." Olivia menatap Ferisu dengan penuh kecurigaan. "Silahkan jawab, apa yang kau incar?" tanyanya.


Ferisu diam sejenak. "Jika ini sama dengan dunia fantasi yang ada dalam novel dan komik, seharusnya itu ada," gumamnya dalam hati.


"Aku menginginkan pohon dunia," jawab Ferisu dengan lantang.


Olivia tersentak, begitu pula dengan elf yang ada di sekitarnya. "Pergi! Alasan mu kesini tak masuk akal!" teriak Olivia dengan penuh rasa permusuhan.


"Ah, bukan berarti aku ingin menghancurkan atau membawa pohon itu pergi. Aku hanya ingin melihatnya saja," balas Ferisu dengan tenang.


Olivia masih tetap menunjukkan wajah yang begitu kesal, namun, Licia menatap Neneknya dengan wajah sedih. "Boleh yah? Aku jamin, Ferisu-sama tak akan berbuat hal yang merugikan kita," ucapnya memohon.


"Ngh! Baiklah! Dua hari, aku hanya mengizinkan mu untuk tinggal selama dua hari! Biar ku ingatkan, desa ini tak akan menyambutmu dengan ramah!" ujar Olivia dengan berat hati, lalu berbalik pergi masuk kedalam hutan.


Licia langsung menghampiri Ferisu dengan penuh senyuman. "Syukurlah, Ferisu-sama," ucapnya.


"Ini semua berkatmu, Licia," balas Ferisu dengan senyum.

__ADS_1


"Aku senang Ferisu-sama dan yang lainnya diperbolehkan masuk. Kalau begini terus, bisa-bisa aku tak mau pisah dengan Ferisu-sama," ucap Licia dengan senyum lebar penuh kebahagiaan.


__ADS_2