
Lamia, sosok manusia setengah ular. Mereka memiliki tubuh setengah manusia dengan bagian kaki yang menyerupai tubuh ular. Lamia bertarung dengan cakar tajam mereka dan lilitan kuat dari tubuh ularnya yang dapat meremukkan tubuh musuhnya.
Medusa, siapa yang tak kenal dengan nama ini? Salah satu dari mitologi yunani yang terkenal, seorang gadis berparas cantik dengan rambut ular. Jika kalian menatap matanya secara langsung, kalian bisa menjadi batu dalam sekejap.
Namun, di dunia ini (Envend) Medusa merupakan nenek moyang para lamia. Salah satu sosok yang paling kuat dalam ras lamia, wujudnya seperti manusia pada umumnya. Namun, ia memiliki seekor ular emas yang menjadi pelayannya. Memiliki kemampuan pembatuan dengan tatapan matanya yang memunculkan sinar berwarna merah kehitaman, ular itu juga memiliki racun yang mematikan.
Di bagian pintu goa, Ferisu menyuruh ketiga gadis yang bersama dengannya untuk duduk diam di pintu goa. Sedangkan dia akan berjalan memasuki goa untuk bertemu dengan para lamia itu.
Ferisu berjalan masuk menuju kedalaman goa, semakin dalam goa menjadi lebih gelap. Namun, kegelapan itu tak terlalu mengganggu karena Ferisu dapat melihat dalam kegelapan. Setelah jalan yang sempit terlewati, Ferisu sampai di sebuah ruangan yang cukup luas, seluas kamar ruangan kamar. Di hadapannya terdapat jalan bercabang.
"Hmm... jika menggunakan deteksi tentu saja jalan kanan akan membuatku bertemu dengan para lamia dengan lebih cepat, tapi jalan kiri ini..." Ferisu berpikir sejenak untuk memilih arah yang akan ia pilih.
Di sisi kanan, adalah tempat para ras lamia berkumpul, sedangkan di sisi kiri, ia merasakan energi sihir yang aneh namun tak ada satupun makhluk hidup disana.
Pada akhirnya Ferisu memutuskan untuk pergi menuju ke tempat para lamia tinggal. Dalam perjalanan menuju ke sana Ferisu menghilangkan hawa keberadaannya langkah demi langkah agar para lamia tak menyadari kedatangannya.
Hingga akhirnya ia sampai di sebuah ruangan yang sangat luas, di sana ada begitu banyak lamia yang berkumpul dan mengobrol satu sama lain. Tepat di samping kiri dan kanannya ada dua lamia yang menjaga pintu masuk, namun mereka tak menyadari keberadaan Ferisu yang menggunakan skill kamuflase dan penghilang hawa kehadiran.
Atau itulah yang dipikirkan olah Ferisu.
Seorang lamia yang berada di atas batu, melemparkan sebuah tombak ke arah Ferisu.
Ferisu menghindari tombak itu dengan mendorong dirinya ke arah tengah ruangan dan menabrak salah satu lamia yang sedang berjalan. "Sial!" gerutunya ketika skillnya menghilang dan wujudnya terlihat oleh para lamia.
__ADS_1
Seorang lamia yang tepat berada di belakangnya, lamia yang ia tabrak barusan. Ferisu berputar dan menahan pergelangan tangan lamia itu dengan rencana untuk menyanderanya. "Jangan bergerak! Jika tidak, aku akan membunuhnya!"
Ferisu mengancam para lamia agar tak menyerangnya dengan seorang sandra yang berada di tangannya. Namun, apa yang dilakukan para lamia? Mereka tak peduli dengan sandranya dan tetap bergerak menyerang ke arah Ferisu.
"Cih!" Ferisu melepaskan sandranya dan meloncat tinggi menjauh dari semua lamia yang hendak menyerang ke arahnya. Saat ini, Ferisu sedang dalam ke adaan yang kurang baik. Energi sihirnya belum pulih setelah membuat ledakan besar untuk menghilangkan kabut sebelumnya.
Sesaat ketika mengambang di udara, salah satu lamia melesat dengan begitu cepat. Ia menggerakkan ekor ularnya seperti sebuah cambuk dan menghantam Ferisu dengan begitu kuat sehingga membuatnya terhempas ke dinding goa.
"Ugh!"
Dinding goa yang terkena menjadi retak dan berlumuran darah akibat hancurnya tubuh Ferisu. "Huft~ huh... kalian benar-benar ingin membunuhku yah?" ucap Ferisu dengan lirih, lalu bangun berdiri dengan sempoyongan.
Semua lamia yang ada di sekitar terlihat begitu terkejut. "Bagaimana dia masih hidup setelah menerima luka separah itu?"
Ferisu menggerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan hingga membuat sebuah bunyi. "Kretek!"
"Kenapa wajah kalian terlihat kaget seperti itu?" tanya Ferisu dengan sorot mata yang tajam.
Semua lamia tampak waspada dan tak ada yang berani menatap mata Ferisu.
"Ada apa ribut-ribut di dalam goa?!" Suara seorang wanita terdengar dengan lantang menanyakan apa yang terjadi. Seorang wanita dengan rambut hitam menjulang panjang hingga pinggang, mengenakan gaun berwarna putih dengan corak emas. Di sisinya terdapat seekor ular emas yang memiliki sepasang sayap kecil.
Semua lamia yang berada di sana tampak begitu menghormati wanita itu. Seorang lamia pun datang menghampirinya dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini.
__ADS_1
"Heh~ sepertinya kau bukan manusia biasa yah," ucap wanita itu dengan senyum penuh makna. Lalu, ia menatap Ferisu dengan mata emasnya yang mulai bersinar merah kehitaman.
Ferisu yang merasa ditatapi spontan membalas tatapan itu, namun, ia merasakan ada yang aneh dengan kakinya. "A-apa yang... pembatuan!?" gumamnya saat melihat kedua kakinya mulai menjadi batu.
Dengan cepat Ferisu menciptakan sebuah pedang darah dan menebas kedua kakinya. Wanita itu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh pria yang sedang sekarat tersebut.
Nafas Ferisu mulai terengah-engah akibat kelelahan dan kehabisan energi sihir, kakinya pun tak bisa beregenerasi dengan cepat.
Wanita itu berjalan secara perlahan mendekati pria yang dipenuhi oleh luka dan tampak tak berdaya itu dengan santainya seolah dia sudah menang. Saat berada tepat di depannya, wanita itu menunduk dan menatap mata pria itu sembari memegang dagunya.
Ferisu membalas tatapan wanita itu dan menangkap kedua bahunya. Lalu, ia menarik wanita itu kedalam dekapannya dan menggigit bagian tengah antara bahu dan leher wanita tersebut.
"Akh! A-apa yang kah lakukan!?" teriak wanita itu dengan kaget. Ia meronta mencoba untuk melepaskan dekapan pria itu, namun, semakin lama kekuatan pria itu semakin menguat.
"Lepaskan!" teriak wanita itu dengan panik. Ular emas yang ada di dekatnya langsung menerkam Ferisu, mencoba untuk menggigitnya. Namun, dalam sekejap Ferisu langsung menghilang dari tempat itu dan berdiri di tengah-tengah ruangan.
"Heh~ tak kusangka darah ular cukup enak untuk diminum," ucap Ferisu dengan angkuh dan tersenyum sinis melihat ke arah wanita yang berada di balik ular emas bersayap.
"Kisama! Berani-beraninya kau meminum darah ratu!" teriak seorang lamia yang terlihat cukup berbeda, seperti seorang jendral jika dilihat dari sisi manusia.
"Terus kenapa?" jawab Ferisu seolah tak peduli.
Lamia itu terbawa emosi dan hendak menyerang Ferisu, namun, sang ratu memerintahkannya untuk berhenti dan menjauh dari pria itu.
__ADS_1