Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain

Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain
Chapter 34 : Lembah Berkabut


__ADS_3

Setelah menolong para lizardman yang terluka, mereka memandu Ferisu ke desa dimana mereka tinggal. Namun, saat sampai disana semua lizardman mengacungkan tombak mereka pada Ferisu.


Hanz berjalan mendatangi kepala desa yang berada di dalam kerumunan lizardman. Ia menjelaskan situasinya dan siapa orang yang datang bersama dengan mereka. Setelah mendengar penjelasan dari Hanz, kepala desa mengerti dan menyuruh semua lizardman untuk menurunkan tombak mereka.


"Maaf atas ketidak sopanan kami, dan terima kasih karena telah menolong kerabat kami," ucap kepala desa sembari menundukkan kepalanya.


"Ehm, tak perlu memikirkannya," saut Ferisu.


Kepala desa lizardman membawa mereka menuju ke rumahnya. Seorang lizardman yang merupakan istri kepala desa membawakan air dan makanan. Air yang jernih dan ikan bakar yang baru saja selesai dimasak.


"Walaupun kami bersikap ramah karena kalian telah menolong keluarga kami, bukan berarti kami bisa mempercayai kalian begitu saja," ucap kepala desa dengan serius.


Ferisu diam termenung menatap gelas berisikan air dengan tatapan kosong. Ia masih memikirkan pria tua yang mengetahui nama lengkapnya. Apa dia seorang reikarnator seperti dirinya? Tapi, kenapa dia bisa mengetahui nama lengkap Ferisu. Jika itu keluarganya, hanya ada dua orang yang terpikirkan oleh Ferisu. Ayahnya atau kakeknya.


"Ferisu-sama?" panggil Licia lirih, ketika melihat raut muka Ferisu yang aneh.


Lelaki itu mendengar panggilan itu dan menoleh ke arah gadis yang memanggilnya. "Ada apa?" tanyanya dengan heran.


"Ah, tidak... bukan apa-apa," jawab Licia gelagapan sembari menundukkan kepalanya.


"Hei, apa kami boleh menginap satu malam disini? Besok kami akan pergi," pinta Ferisu.


Kepala desa setuju dan membiarkan Ferisu dan kelompoknya untuk menginap di desa mereka untuk satu malam. Desa yang berada di tengah rawa, tempat tinggal ras lizardman. Suasananya begitu berbeda dengan kota manusia ataupun desa milik goblin dan bunny.


Rasa lembab dari rawa terasa begitu jelas, angin yang berhembus membuat suasananya menjadi dingin. Di atap salah satu rumah, Ferisu berbaring dengan santai sembari memandangi langit malam yang dipenuhi oleh bintang. Saat ini pikirannya tetap tertuju pada pria tua yang memanggilnya dengan nama lengkap.


"Huft~ sekarang bukan waktunya memikirkan hal itu, namun tetap saja perlu kupikirkan. Musuhku saat ini tak lain dan tak bukan adalah kekaisaran itu," gumamnya.

__ADS_1


Ferisu memejamkan matanya, mencoba merilekkan tubuhnya. Dari pinggir atap rumah terlihat dua buah tangan yang mencengkram atap rumah. Secara perlahan kepalanya muncul dan tersenyum ketika melihat Ferisu yang membuka matanya sedikit dan melirik ke arahnya.


"Apa aku membangunkanmu?" ucap Licia pelan.


"Tidak, lagian aku juga tidak tidur," jawab Ferisu, lalu kembali memejamkan matanya.


Licia berjalan pelan dan duduk tepat di samping Ferisu. "Apa aku boleh duduk disini?" tanyanya.


"Kau sudah duduk disana, kan? Untuk apa bertanya lagi?" jawab Ferisu dengan dingin.


"Ahahaha..." Licia hanya bisa tertawa canggung ketika mendengar jawaban itu. Orang yang tepat berada di sampingnya saat ini adalah orang yang sangat aneh, membicarakan tentang perdamaian dunia, ras yang hidup berdampingan. Namun, saat ia tahu jika Ferisu adalah seseorang yang dikirim oleh para Dewa, hal itu menjadi cukup membuatnya memaklumi pikiran Ferisu yang berbeda.


Licia melirik wajah Ferisu yang diterangi oleh cahaya bulan, lalu tersenyum kecil. "Apa peperangan ini akan berakhir, atau mungkin masih tetap berlanjut?" gumamnya pelan.


Malam berakhir dan pagi hari pun tiba. Ferisu dan yang lainnya sedang membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan.


"I-ini apa?" tanya kepala desa dengan heran.


"Saat ini aku sedang dalam perjalanan untuk membangun tempat yang bisa ditinggalin oleh berbagai macam ras. Jika kalian ingin bergabung, pecahkan saja bola itu maka aku akan segera datang kesini," jawab Ferisu. "Oh iya, jika kalian sedang dalam bahaya jangan ragu untuk memecahkan bola itu, aku akan segera datang dan menolong kalian."


"Ah i-iya..." Kepala desa tak tahu harus menjawab apa dan hanya bisa mengiyakan kata-kata Ferisu.


Setelah itu Ferisu dan kelompoknya melanjutkan perjalanannya menuju ke dungeon dewi malapetaka. Setelah keluar dari wilayah rawa, mereka sampai di sebuah lembah yang memiliki kabut tebal.


"Dari rawa menjadi lembab berkabut..."


Pergerakan mereka mulai melambat akibat kesulitan untuk melihat jalan. Kabut yang begitu tebal membuat segalanya menjadi sulit. Licia mencoba untuk meniup kabut itu menggunakan sihir angin, namun tidak berefek apapun seolah sihirnya diserap oleh kabut itu.

__ADS_1


"Bohong... kabutnya tak menghilang ataupun tertiup sedikitpun?!" teriak Licia tak percaya.


"Berhentilah menggunakan sihir, kabut ini sepertinya menyerap energi sihir," ucap Ferisu yang menyadari hal itu.


"I-iya..." Licia dan yang lainnya menuruti ucapan Ferisu dan tak menggunakan sihir sedikitpun. Namun, Ferisu berdiri diam dengan tekanan energi sihir yang begitu besar seperti bom yang bisa meledak kapanpun.


Yang lainnya terkejut akan hal itu, padahal dia sendiri yang melarang menggunakan sihir, tapi dia menggunakan sihir yang begitu besar.


Setelah energi sihir yang begitu besar terpadatkan ke satu titik, Ferisu melepaskannya ke arah depan hingga membuat sebuah ledakan yang cukup besar. Ledakan itu membuat kabut yang menyelimuti mereka hilang seketika. Tapi, bukan hilang secara permanen, kabut itu hanya hilang sementara untuk menyerap energi sihir yang meledak di tempat itu.


Akibat ledakan itu, Ferisu bisa melihat sekitarnya dengan sedikit leluasa. "Kita akan bergerak lebih cepat, selama kabutnya masih menghilang!" ujar Ferisu, lalu ia berlari dengan cepat.


Setelah berjalan cukup jauh, kabut mulai kembali menutupi penglihatan mereka. Namun, Ferisu melihat sebuah goa dan bergerak menuju ke arah sana.


"Goa ini, tak dimasuki oleh kabut itu?" gumam Kurumi melirik sekitar goa.


"Lihat! Kabutnya berhenti di pintu goa," ucap Shiro sembari menunjuk ke arah pintu goa.


Meskipun merasa ada yang aneh, Ferisu mencoba untuk menenangkan dirinya sembari mendeteksi area sekitar. Saat itu ia merasakan ada sekitar puluhan makhluk hidup yang tinggal di kedalaman goa.


"Semuanya, waspadalah! Bukan kita saja yang berada dalam goa ini," ucap Ferisu mengingatkan semua orang.


"Energi sihir ini..." Saat merasakan energi sihir yang berada di kedalaman goa, Licia menyadari makhluk apa yang tinggal disana.


"Apa kau tau sesuatu?" tanya Ferisu saat melihat raut muka Licia yang terlihat terkejut.


"Iya... makhluk yang tinggal dia goa ini, dari energi sihirnya tak salah lagi, mereka adalah ras lamia!" jawab Licia dengan begitu yakin dengan apa yang ia rasakan.

__ADS_1


__ADS_2