Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain

Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain
Chapter 43 : Melepas Kutukan


__ADS_3

Di pinggir danau yang berada di tengah hutan, Ferisu menceritakan soal masa lalunya yang berkaitan dengan dirinya yang terlihat aneh saat melawan kelabang itu.


"Begitulah, tanpa kusadari aku telah membunuh kedua orang tuaku dengan tanganku sendiri," ucap Ferisu dengan nada sedih sambil menatap tangan kanannya.


Ke empat gadis itu hanya bisa diam setelah mendengar kisah yang menyedihkan itu. Licia memeluk Ferisu dari belakang. "Tidak apa-apa, terimakasih karena telah menceritakan nya pada kami," bisiknya lembut. Ketiga gadis yang lainnya juga mendekat dan memeluk Ferisu.


Tak lama kemudian datang Olivia. "Hmm... baru bangun langsung bermesraan dengan ke empat gadis sekaligus," katanya.


"Nenek?"


"Licia, ini mungkin akan menyakitkan apa kau mau mendengarnya?" ucap Olivia dengan serius namun, wajahnya juga menunjukkan kesedihan secara bersamaan.


"Ada apa?" sela Ferisu. "Aku tak terlalu suka situasi canggung seperti ini, katakan saja," ungkapnya dengan santai.


Olivia menghela nafasnya, "apa kau tak punya hati? Dasar iblis!" Olivia tampak kesal dengan ucapan Ferisu, namun ia mencoba untuk menenangkan diri. "Orang tua-mu, sepertinya tak memiliki waktu yang lama lagi, kondisi mereka semakin buruk. Mungkin hanya akan bertahan beberapa hari lagi," ungkap Olivia dengan berat hati.


Licia tampak syok saat mendengar hal itu. Bangun berdiri dan berlari dengan perasaan panik menuju ke tempat kedua orang tuanya. "Apa yang kau maksud?" tanya Ferisu karena penasaran saat melihat Licia yang terlihat begitu panik. "Apa kedua orang tuanya sakit?"


Olivia menunjukkan raut muka tak senang. "Mereka terkena kutukan," jawabnya. "Licia nekat keluar dari hutan karena untuk mencari obat untuk mengangkat kutukan kedua orang tuanya," jelas Olivia.


"Kutukan? Kutukan macam apa?" sela Yoruka bertanya karena penasaran.


Olivia mulai menceritakan bagaimana kedua orang tua Licia dapat terkena kutukan itu. Kala itu, elf sedang berperang melawan para iblis. Kedua orang tuanya adalah petarung paling hebat di kalangan prajurit elf.


Ayahnya yang merupakan seorang raja yang telah di akui oleh artifak pedang suci, harta negara. Ibunya sang ratu juga terpilih oleh panah suci. Pertempuran itu terjadi karena para iblis ingin menguasai pohon dunia.

__ADS_1


Peperangan itu hampir membakar hangus hutan, namun, para elf berhasil menghalau dan memukul mundur para iblis. Pemimpin para iblis bertarung sengit dengan kedua orang tua Licia. Meskipun mereka berhasil mengalahkan iblis itu, namun, saat di detik terakhirnya iblis itu menghabiskan semua energi sihirnya untuk memberikan kutukan tingkat tinggi pada kedua orang tua Licia.


"Begitulah ceritanya," ujar Olivia.


Setelah mendengar hal itu, Ferisu bangun berdiri dan berjalan ke arah kota. "Kau mau kemana?" Olivia menghentikan langkah Ferisu dengan cara memegang pundaknya.


"Melihat kedua orang tuanya," jawab Ferisu dengan serius. Olivia menatap mata Ferisu, lalu menghela nafasnya. "Baiklah, aku akan menghantarmu kesana," ucapnya.


Meskipun masih merasa benci terhadap ras iblis, Olivia sadar jika Ferisu memang berbeda dari ras iblis yang pernah menyerang mereka. Olivia membawa Ferisu dan yang lainnya menuju ke istana, tepatnya ke ruangan raja dan ratu terbaring di atas kasur.


Di ruangan itu terlihat dua orang yang terbaring lemah dengan noda hitam seperti sulur yang merambat di seluruh tubuh mereka. Licia terlihat begitu khawatir dan berteriak mencoba untuk memanggil kedua orang tuanya.


Ferisu mendekatinya dan memeluknya dari belakang, "tenanglah!"


"Ferisu-sama..." Licia menoleh kebelakang dan melihat wajah Ferisu yang begitu dekat dengannya. "Tapi, mereka..." ucapnya dengan nada sedih.


"Eh?"


Ferisu menggigit leher kanan milik Licia dan meminum darahnya. Olivia yang melihat hal itu tampak panik. "Apa yang kau lakukan!?"


Yoruka menghadangnya, "tenanglah, Ferisu hanya memulihkan energi sihirnya lewat meminum darah, itu tak akan berdampak buruk pada Licia."


"Fe-Ferisu-sama...?" rintih Licia mencoba memanggil Ferisu.


"Ya, maaf karena meminum darahmu secara tiba-tiba," saut Ferisu. Lalu ia berjalan selangkah untuk melihat kondisi kedua orang yang terbaring di atas ranjang.

__ADS_1


Ferisu memejamkan matanya, lalu membukanya lagi secara perlahan. Matanya yang berwarna merah tiba-tiba berubah menjadi warna ungu terang. Saat ini Ferisu sedang menggunakan salah satu skill yang ia terima dari dewa, Magic Creation — Penciptaan Sihir.


Skill itu memang dapat menciptakan sihir apapun sesuai dengan imajinasi milik pengguna, namun saat pertama kali sihir itu tercipta energi sihir (mana) yang dikeluarkan akan sangat banyak. Itulah alasan kenapa Ferisu selalu kehabisan energi sihir setiap kali menggunakan sihir baru.


Salah satu sihir yang dapat mengangkat kutukan, Holy Magic : Purification — Sihir Suci : Pemurnian. Namun, kutukan yang dimiliki oleh kedua orang tua Licia sangat kuat, kalau begitu aku juga harus menciptakan Dark Magic : Dispel Curse — Sihir Kegelapan : Menghilangkan Kutukan.


Pola-pola sihir mulai terbentuk di hadapan Ferisu, lalu setelah sihir itu tercipta dengan baik. Pola-pola itu mulai berputar dan masuk kedalam tubuh Ferisu. "Dark Magic : Dispel Curse!" Ferisu merapalkan mantra nya dan sebuah cahaya berwarna ungu kehitaman mulai memancar dari sekujur tubuh kedua orang tua Licia.


Sulur-sulur hitam yang ada di sekujur tubuh mereka mulai menghilang secara perlahan. Meskipun begitu mereka terlihat begitu kesakitan, hingga berteriak dan meronta-ronta. Lalu setelah semua sulur hitam itu menghilang, "Holy Magic : Purification!"


Sihir pemurnian digunakan oleh Ferisu untuk memurnikan tubuh mereka yang terlah membusuk akibat kutukan, serta menghilangkan semua sumber kutukan yang tersisa. Wajah kedua orang tua Licia mulai terlihat cerah kembali.


Ferisu-pun terduduk dengan nafas terengah-engah karena kehabisan energi sihir. "Menciptakan dua sihir tingkat atas benar-benar menguras energiku," gumamnya.


Olivia yang melihat kejadian itu terbelalak. "Bohong... bagaimana mungkin iblis bisa menggunakan sihir suci..." gumamnya tak percaya. Namun, tanpa ia sadari tetesan air mata terjatuh di pipinya. Olivia merasa senang dan lega setelah melihat kutukan yang diderita oleh anaknya berhasil diangkat.


Licia langsung memeluk Ferisu dengan erat. "Terima kasih! Terima kasih Ferisu-sama!" katanya dengan air mata yang mengalir.


"Ahaha, tak perlu berterima kasih, aku hanya ingin melakukannya," saut Ferisu sembari mengelus rambut Licia dengan lembut.


Tak lama kemudian kedua orang tua Licia membuka mata mereka secara perlahan. Olivia langsung menghampiri mereka dan memegang tangan mereka dengan air mata yang mengalir. "Syukurlah... syukurlah..." gumamnya dengan penuh perasaan lega dan bahagia.


"Ibu! Ayah!"


Ferisu memegang kedua pundak wanita yang tengah merasa bahagia karena keluarga mereka membuka mata kembali. "Tenanglah, mereka masih memerlukan istirahat, tolong berikan makanan yang mudah di cerna seperti bubur," ucap Ferisu.

__ADS_1


"Hu'um, terima kasih... dan maaf karena sikapku sebelumnya," saut Olivia.


Ferisu tersenyum,"tak apa, itu adalah hal yang normal."


__ADS_2