
Satu minggu telah berlalu, saat ini mereka menetap sebentar di sebuah padang rumput dan mendirikan tenda. Bukan tanpa alasan, untuk dua hari mereka akan berlatih terlebih dahulu dan melanjutkan perjalan kembali.
Semua orang yang bisa bertarung berbaris, sedangkan yang tidak bertarung berfokus untuk mengsupport, seperti menyiapkan makanan dan sebagainya. Goblin yang tak ikut bertarung hanya suku Oldrus, sebagian manusia, dan beberapa ras bunny.
Mereka semua dipecah, yang masing-masing berisi sepuluh orang per-kelompok. Isi kelompok juga campuran dari tiap ras, hal ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan mereka terhadal ras lainnya.
"Baiklah, kita akan mulai latihannya!" teriak Ferisu dengan lantang. Menarik perhatian semua orang yang ada di sana.
Shiro mengangkat tangannya. "Ferisu-sama, apa yang akan kami lawan?" tanyanya karena di padang rumput itu tak ada satupun monster.
Ferisu tersenyum kecil saat Shiro menanyakan hal itu. Ia berbalik dan mengangkat tangannya ke arah depan, menciptakan sebuah lingkaran sihir berwarna merah menyala. Angin berhembus kencang, muncul kilatan listrik berwarna merah darah dari lingkaran itu.
Makhluk berbulu hitam dengan corak merah, memiliki taring panjang bagaikan pisau, mata yang merah menyala begitu mengintimidasi. Raungannya membuat semua orang terdiam membeku, setiap kakinya memiliki cakar yang begitu tajam dan bisa membela logam bagaikan kertas.
"Summon familiar : Bloodfang Tiger!"
Ferisu menoleh ke arah para petarung yang siap untuk berlatih, lalu menunjuk ke arah harimau berukuran raksasa yang ada di belakangnya. "Kalian akan berlatih dengannya."
"Eh? Eeeee!!" Semua orang berteriak kaget karena ucapan Ferisu barusan. Monster itu sudah masuk ke dalam tier rank-S. Mana mungkin mereka bisa melawannya.
"Mustahil, mustahil, mustahil! Kami tak mungkin bisa melawan makhluk itu!"
"Tak perlu khawatir! Monster ini adalah familiarku, dia tak akan membunuh kalian. Jadi bertarunglah dengan serius! Monster yang menanti kita di hutan kematian lebih kuat dari harimau yang ada di harapan kalian saat ini!"
Setelah mendengar kata-kata itu, mereka semua baru ingat dengan tujuan mereka. Hutan kematian yang dihuni oleh berbagai macam monster berbahaya, tentunya ada yang lebih kuat dari harimau itu. Mereka semua menghela nafas panjang dan membulatkan tekadnya masing-masing. Mata mereka terlihat mulai serius, sebuah tatapan yang bersiap untuk pertarungan hidup dan mati.
Setiap kelompok akan bertarung secara bergantian melawan Bloodfang Tiger, mau bagaimana-pun mereka harus bertambah kuat. Demi bisa mengikuti tuan yang mereka layani, demi teman-teman mereka yang telah pergi meninggalkan mereka, dan demi mencapai tujuan mereka.
__ADS_1
Ferisu berjalan ke pinggir dan menonton pertarungan tersebut sembari memerhatikan semua kelompok. Setiap orang yang berbakat, dan tingkatan kekuatan mereka. Pelatihan ini digunakan untuk mengetahui tingkatan setiap individu, dan setelah itu mereka akan dikelompokan sesuai dengan tingkat kekuatan mereka.
Yang paling mencuri perhatian adalah kelompok para pemimpin tiap suku dari goblin. Tak diragukan lagi Gayle, Regrus, dan Redhood sangatlah kuat, meskipun mereka tetap kesulitan melawan harimau tersebut.
Hari menjelang sore dan akhirnya kelompok terakhir akan bertarung melawan harimau itu. Licia, Shiro, Kurumi dan sisa kelompok lainnya. Berbeda dengan kelompok sebelumnya, kelompok mereka memiliki kelas yang berbeda.
Serangan dari Shiro begitu cepat dengan akurasi yang hebat, ia bisa memberikan luka gores pada harimau tersebut. Licia juga membantu dari jarak jauh dengan panah yang di isi dengan sihir. Di sisi lain, Kurumi menjadi ahli strategi dengan memanfaatkan kemampuan mata miliknya, yang bisa memprediksi beberapa detik masa depan.
"Hebat! Mereka benar-benar berbeda dengan kelompok yang lainnya, terlebih lagi ketiga gadis itu!" ujar semua penduduk yang menonton latih tanding tersebut.
"Ya, meskipun begitu..."
"Energi sihirku terserap cukup banyak untuk mempertahankan harimau itu dari pagi hingga sekarang. Seperti yang diharapkan dari monster rank-S konsumsi energi sihirnya gak ngotak! " gumam Ferisu dalam batinnya.
Saat mata hari terbenam pelatihan dihentikan dan Ferisu membatalkan sihir pemanggilannya dan terduduk kelelahan. "Huft~ sepertinya aku harus meningkatkan kekuatanku lagi..." Menghela nafas berat Ferisu mengangkat wajahnya ke atas melihat langit yang mulai gelap.
Tengah malam, suasana yang begitu sunyi dengan hembusan angin dingin yang membuat tubuh menggigil. Ferisu berjalan seorang diri membuka sebuah gate menuju ke ibu kota Urushia. Ia pergi ke mansion yang menjadi markas para pedagang budak. Mansion itu begitu sepi, seperti rumah hantu.
Ferisu berjalan menelusuri setiap ruangan mencari tempat pada pedagang itu menyimpan persenjataan mereka. Saat melewati ruang tamu, terdengar suara beberapa orang yang sedang berbincang.
"Gadis bodoh itu, bisa-bisanya mati di rumah sendiri."
"Tapi, siapa yang melakukannya? Apa dia pembunuh bayaran?"
"Tidak, dilihat dari caranya membunuh kurasa dia hanya orang yang tak sengaja datang kesini."
"Dengan kata lain, mereka menangkap orang yang salah?"
__ADS_1
"Benar."
Ferisu masih berdiam diri di balik dinding, menguping pembicaraan mereka. "Apa mereka bagian dari organisasi itu?" gumamnya dalam hati.
Salah satu dari mereka beranjak dari kursi dan berjalan menuju ke pintu keluar dari ruangan tersebut. Ferisu masih tetap berdiam diri, menunggu orang itu di sebuah tikungan lorong yang ada di dalam mansion.
Langkah kakinya mulai mendekat, ketika orang itu melewati lorong. Ferisu, langsung menyerang dan menghempaskan orang itu kelantai.
"Akh!" Orang itu mencoba bangun, namun, ia melakukan kesalahan yang amat fatal yakni, menatap mata lelaki yang menyerangnya.
Dengan hipnotisnya Ferisu mulai menggali informasi dari orang tersebut. Orang itu merupakan salah satu anggota Eight Eyes dari cabang petualang, mereka orang-orang yang bertugas dalam pertarungan. Ferisu juga mendapatkan informasi mengenai ruangan yang menyimpan senjata, meskipun senjata yang ada di ruangan itu terbilang standar Ferisu tetap mengambil semuanya.
"Oke waktunya kembali." Ferisu membuka gate dan kembali ke kemah dan meletakkan semua senjata yang ia ambil di tengah-tengah lapangan yang di jadikan tempat latihan.
Orang-orang yang sedang berjaga terkejut saat mendengar suara besi yang saling bersentuhan dan terjatuh dengan keras ke tanah. Mereka mengira ada serangan musuh dan langsung berlarian menuju ke sumber suara. Namun, saat sampai disana, mereka melihat Ferisu yang sedang menyapu tangannya di depan tumpukan senjata.
"Tu-tuan?"
"Ah, apa aku mengagetkan kalian?"
"Apa yang sedang Anda lakukan di tengah malam begini?"
"Dilihat saja sudah tahu, kan?"
"Apa, ini untuk latihan kami?"
"Benar" Ferisu tersenyum simpul. "Tadi ada orang baik yang memberikannya padaku."
__ADS_1