Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain

Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain
Chapter 23 : Di Balik Senyum


__ADS_3

Di siang hari yang cerah, Ferisu berpisah dengan Lucy dan Alfred. Saat ini, ia sedang menemani seorang gadis muda berbelanja.


"... kenapa aku melakukan ini?" gumam Ferisu dengan nada bingung. "Terlebih lagi... kenapa orang-orang menatapku dengan kasian, seperti mau bilang 'kasian sekali mana masih muda' apa aku melakukan sesuatu yang salah disini?"


Mengehela nafasnya pelan, Ferisu terus berjalan mengikuti gadis dari belakang sambil membawa barang belanjaannya. Saat berpapasan dengan seorang kesatria wanita, terdengar suara yang samar berbisik. "Hati-hatilah, gadis itu adalah bunga dahlia hitam."


Ferisu berhenti berjalan dan melihat ke arah kesatria yang berbisik padanya. "Dia, kesatria yang waktu itu, kan?" gumam Ferisu mengingat wajah kesatria yang pernah menghentikan para pedagang budak yang mengejar Lucy.


"Bunga dahlia hitam, yah... entahlah, aku tak paham bahasa bunga," gumam Ferisu sembari melanjutkan langkahnya.


Gadis itu selalu tersenyum dengan manis sepanjang perjalanan, hingga sore hari-pun tiba. Karena belanjaannya begitu banyak, Ferisu memasukkannya kedalam penyimpanan dimensi. Sebuah kereta kuda datang menjemput gadis itu.


"Oni-san, ayo naik," ajak gadis itu dengan lembut.


"Iya..."


Ferisu menaiki kereta kuda itu dengan perasaan yang cukup ragu. Tapi, secara bersamaan ia juga penasaran, kenapa semua orang menatapnya dengan penuh rasa kasian. Bunga dahlia hitam juga membuatnya penasaran.


Dahlia hitam adalah bunga berwarna merah anggur gelap yang mungkin terlihat indah bagi sebagian orang, tetapi memiliki arti yang sangat negatif. Dahlia hitam melambangkan kejahatan dan ketidakjujuran. Bunga ini juga sering melambangkan pengkhianatan, malapetaka, dan emosi negatif lainnya.


"Untuk sekarang, mari kita ikuti alurnya," batin Ferisu sembari tersenyum simpul.


Suara tapak kaki kuda mulai terdengar, kereta itu mulai bergerak secara perlahan. Di dalam kereta itu hanya ada Ferisu dan gadis yang ia temani belanja.


"Ada apa oni-san?" tanya gadis itu dengan heran.


"Ah, tidak... aku hanya penasaran kenapa kau mengajakku berbelanja? Kita tak saling kenal, kan?" jawab Ferisu dengan polos.


"Oni-san bukan orang kota ini, kan?"


"Iya, aku baru tiba kemarin."

__ADS_1


"Oni-san pasti dari sebuah desa dan hendak mencari pekerjaan di ibu kota, apa aku salah?" ucap gadis itu.


Begitu yah, jadi begini alurnya. Dia mengira aku seorang anak kampung yang datang ke ibu kota untuk mencari sebuah pekerjaan. Jadi dia datang kepadaku untuk menawari bekerja pada keluarganya... tapi, ada yang tidak beres...


"Iya, seperti yang kau katakan," jawab Ferisu dengan senyum simpul.


Tanpa Ferisu sadari ia sudah sampai di sebuah mansion yang cukup megah. Ada begitu banyak pelayan yang menyambut kedatangan gadis itu dengan begitu hormat. "Selamat datang kembali, Nona."


Ferisu berjalan mengikuti gadis itu, memasuki mansion besar tersebut. Salah satu pelayan datang menghampirinya.


"Tuan, silahkan ikuti saya. Saya akan menghantar Anda ke kamar," ucap pelayan itu dengan sopan.


"I-iya..."


Ferisu masuk kedalam sebuah kamar yang cukup luas, dekorasi yang terlihat begitu mahal, sudah jelas ini kediaman seorang bangsawan. Meskipun dekorasi dan semua hal yang ada dirumah ini sangat indah, ada satu hal yang membuatnya aneh.


Aroma yang begitu dikenali oleh Ferisu, tercium dengan jelas. Benar, itu adalah aroma darah segar. Ferisu keluar dari kamarnya sambil melihat ke kiri dan ke kanan memastikan tidak ada orang disana. Karena tak ada satu orang pun disana ia berjalan mengikuti aroma dari darah tersebut.


Saat Ferisu ingin membuka pintu tersebut.


"Ah, oni-san ternyata kamu disini." Terdengar suara gadis yang Ferisu kenali memanggilnya dengan wajah yang tersenyum manis.


"Eh, ah, iya... apa ada yang bisa kubantu?" saut Ferisu dengan nada terkejut.


"Ini waktunya makan malam," ujar gadis itu dengan ramah.


Gadis itu menarik tangan Ferisu dengan lembut dan menuntunnya ke ruang makan. Berjalan mengikuti gadis itu, sesekali Ferisu menoleh ke arah belakang menatap ke pintu hitam yang menjadi sumber dari aroma darah.


Sebuah ruangan yang besar dengan meja panjang yang dipenuhi oleh makanan yang terlihat begitu mewah. Para pelayan menyiapkan kursi untuk diduduki oleh gadis itu dan juga Ferisu.


Selain mereka berdua ada dua orang lagi yang ikut makan disana, orang tua gadis itu. Seorang pelayan mengambilkan sepotong daging dan memberikannya pada Ferisu. Daging itu berwarna merah seperti warna darah, apa itu belum dimasak?

__ADS_1


Ferisu hanya tersenyum simpul dan memerhatikan daging merah tersebut. Di sisi lain, semua keluarga gadis itu makan dengan lahap menyantap daging yang semerah darah tanpa menyisakan satu suapan.


Daging ini... apa ini dimasak dengan benar?


Ferisu cukup ragu untuk memakannya, lalu ia mengalirkan energi sihir ke arah mata untuk menganalisis daging apa yang ada di atas piringnya itu.


Steak daging manusia, dimasak setengah matang dengan bumbu barbeque.


Daging manusia?! Ah, jadi begitu... dia mengajak orang baru yang sampai di kota ini dengan senyum manisnya. Lalu, setelah orang itu lengah dan percaya padanya. Ia akan dijebak dan dimasukkan kedalam ruangan dibalik pintu hitam itu, yah...


"Ada apa, oni-san?" tanya gadis itu dengan lugu ketika melihat Ferisu yang hanya diam menatapi daging yang ada di depannya.


"Ah, sebenarnya aku tak terlalu suka makan daging. Aku akan makan sayuran saja dan roti," jawab Ferisu dengan senyum simpul.


Makan malam itu berakhir dan Ferisu kembali ke ruang kamarnya. Berbaring diatas kasur sembari memandangi langit-langit kamar, ia sesekali menghela nafasnya.


"Huft~ kurasa cukup untuk pura-pura jadi anak baiknya," gumamnya saat menyadari jika ada seseorang yang mendekat ke arah kamarnya.


Suara ketukan pintu terdengar sebanyak tiga kali. "Apa oni-san sudah tidur?" ucap gadis yang ada dibalik pintu tersebut.


"Ah, tidak, aku belum tidur," jawab Ferisu sembari berjalan membuka pintu kamar. "Ada apa?" tanyanya dengan senyum kecil.


"Sebenarnya... aku sedikit kesepian, apa oni-san bisa menemaniku sebentar?" ucapnya dengan mata berbinar-binar.


"Tentu," jawab Ferisu dengan senyum simpul.


Ferisu berjalan mengikuti gadis itu, arahnya dikenali, arah menuju ruangan dengan pintu hitam. Apa dia mau langsung melakukannya?


Gelombang aroma darah mulai muncul kembali di udara malam yang dingin. Makin lama makin tajam, tapi aroma itu tak berasal dari balik pintu ruangan hitam. Bawah tanah? Aroma itu berasal dari arah bawah yang tercium secara samar-samar. Bukan berarti dibalik pintu itu tak ada bau darah.


Aroma darah dari balik pintu itu sudah berbeda, tidak segar lagi, berbeda dengan yang ada di bawah tanah.

__ADS_1


__ADS_2