
Ketika Ferisu tengah berada dalam perjalanan menuju ke hutan kematian, Gure memberi tahu padanya tentang keberadaan saudaranya. Gure, merupakan pecahan dari sebuah pedang sihir yang di ciptakan oleh dewa Circe (dewa sihir). Pedang itu digunakan oleh Dewi Freya saat zaman perang antar dewa di dunia Envend.
Usai peperangan, pedang itu hancur atau lebih tepatnya kekuatannya terpecah menjadi tujuh bagian. Mereka terpencar ke seluruh penjuru dunia, orang yang dipilih sebagai tuan akan mendapatkan kekuatan pedang tersebut.
Saat setelah Gure memberitahukan hal itu, Ferisu turun kebawah dan mendarat di sebuah hutan. Namun, hawa yang ada di hutan itu tampak aneh, pepohonan yang membusuk, dedaunan dan rumput yang layu bahkan ada yang kering. Tanah yang tandus, hutan itu terlihat sudah terlihat seperti tanah mati.
"Apa yang terjadi disini?" gumam Ferisu sembari menyentuh dahan pohon yang telah membusuk.
"Ini salah satu dari kekuatan saudaraku Cursed Sword of Decay—Pedang Pembusukan Terkutuk," ujar Gure.
"..."
Pedang kutukan, seperti namanya pedang itu memiliki kemampuan kutukan yang kuat. Kutukannya dapat membuat pembusukan pada setiap benda yang di tebas olehnya. Sekalinya terkena, sel-sel yang ada di dalam tubuh makhluk hidup akan berhenti berfungsi, daging menjadi busuk dalam sekejap.
"Dengan kata lain, matinya hutan ini akibat dari pedang itu?" ungkap Ferisu menginginkan kepastian.
"Benar, Tuan," jawab Gure.
"Tapi, bagaimana dia bisa sampai ke hutan ini? Apa kalian bisa bergerak sesuka hati?" Ferisu menuntut penjelasan.
"Ya, kami dapat berubah wujud menjadi monster. Karena pada dasarnya kami semua terbuat dari monster kuat," jelas Gure.
Sword of Nothingness (Gure) terbuat dari material monster bernama Natra Cinerius. Monster ini memiliki bentuk seperti udang karang dengan cakar berupa api biru, cangkangnya berwarna perak dengan mata berwarna merah. Natra Cinerius dapat menciptakan kabut tebal yang bisa membuat benda disekitarnya berubah menjadi abu dengan cara mengonsumsi energi sihir nya hingga membuatnya menghilang.
Cursed Sword of Decay, terbuat dari material monster yang bernama Undead Hydra. Rupanya seperti naga dengan tiga kepala yang masing-masing memiliki racun yang mematikan. Pembusukan, kelumpuhan, dan cairan asam.
Saat Gure sedang menjelaskan tentang hal itu, terdengar raungan monster dari kedalaman hutan. "Suara itu!"
"Sepertinya dia berada dalam wujud monsternya, benarkan?" terka Ferisu.
__ADS_1
"Iya, tak salah lagi. Energi sihir ini adalah miliknya," jawab Gure dengan yakin.
Ferisu mulai bergerak dengan cepat menuju ke arah monster yang merupakan perwujudan dari pedang sihir. Semakin ia mendekat, udara semakin busuk hingga membuat Ferisu berhenti dan menutup hidungnya. "Sial! Baunya sangat menyengat!" gerutunya.
"Tuan, gunakan kekuatanku!"
Ferisu menarik Gure keluar dari sarungnya dan menegaskannya secara vertikal ke arah depan, sehingga menciptakan jalan berkabut yang menghilangkan semua bau busuk yang menyengat.
Hutan hijau mulai terlihat di arah depan, hutan yang belum terkena kebusukan. Ferisu naik ke atas dahan dan meloncat terbang ke udara. Saat itu ia melihat seekor naga berkepala tiga berjalan sembari menyemburkan nafas racun dari setiap kepalanya.
"Apa yang dia incar?" gumam Ferisu, lalu mengeluarkan sayapnya hingga mengambang di udara.
"Tuan, sebagai sesama kami sebenarnya tak memiliki tujuan apapun. Saat ini dia bergerak karena insting monsternya," jelas Gure.
Ferisu mengamati monster itu, "jika dia berjalan lurus ke arah sana maka..." Saat melihat lurus ke arah depan, Ferisu merasakan energi sihir kehidupan. "Sebuah desa?" gumamnya.
"Ada apa?"
"Sihir tanaman tak akan berpengaruh padanya," jelas Gure. "Mereka semua adalah dryad, Undead Hydra adalah lawan yang sangat buruk untuk mereka. Sihir yang mereka rapalkan hanya akan menguras tenaga mereka saja."
Ferisu turun dengan cepat seperti meteor yang jatuh dan menghantam tanah. "Hentikan semua rapalan kalian!" ujarnya.
"Iblis!?"
"Jadi kau yang membawa monster itu kesini!" para dryad menuduh Ferisu-lah yang membawa monster itu.
"Entah kenapa rasanya dejavu," gumam Ferisu saat mendengar tuduhan para dryad. "Pokoknya hentikan saja, sihir kalian tak akan berpengaruh pada makhluk itu," jelas Ferisu.
"Jika tak berpengaruh pada makhluk itu, berarti itu berpengaruh padamu!" Salah seorang dryad menggunakan sihir tanaman berupa akar yang menjalar dan menahan pergerakan Ferisu.
__ADS_1
Akar itu memiliki duri yang tajam, jika orang yang terkena mencoba untuk melepaskan diri, lilitannya akan menjadi kuat dan duri-duri itu akan menusuk tubuh.
Ferisu memejamkan matanya dan memusatkan energi sihir di seluruh tubuhnya, "impact!" Ledakan sihir tercipta hingga menghancurkan semua akar yang melilit tubuhnya.
Tak lama setelah itu, sebuah semburan asam dari salah satu kepala Hydra tertuju pada Ferisu. Dengan cepat ia menarik pedang dan menebaskannya kebelakang, menciptakan sebuah penghalang kabut yang dapat menetralkan serangan tersebut.
"Tunggu, kenapa monster itu menyerangmu?" tanya seorang dryad dengan heran.
"Bukan aku yang membawanya, aku melihatnya berjalan sembari membusukkan hutan. Jadi aku mengejarnya," jawab Ferisu.
"Hei! Berhentilah!" Gure mencoba menggunakan telepati kepada hydra.
"..."
Hydra terdiam sejenak, bukan karena telepati dari Gure, melainkan karena serangannya menghilang. Kemudian dua kepala yang lain juga menyemburkan nafas mereka, pembusukan dan racun. Sekali lagi, Ferisu menahan serangan itu dengan kabut.
Hydra itu tampak merasa kesal, ia meraung dengan keras. Ketiga kepalanya menyembur secara bersamaan, secara terus menerus. Meskipun serangan itu bisa di netralkan oleh kabut. Namun, untuk menciptakan kabut itu energi sihir milik Ferisu juga terkuras.
"Jika ku lepaskan, semua orang yang ada di belakangku akan terkena serangan itu," gumam Ferisu sembari menoleh kebelakang. "Cepatlah pergi!" pintanya dengan lantang.
Semua dryad masih tetap diam disana, hingga ada seorang yang berjalan pergi. Tak lama setelah itu mereka mulai pergi, menuju ke pusat hutan dimana ada sebuah taman bunga yang begitu indah.
Setelah para dryad pergi, Ferisu melepaskan perisai kabutnya dan langsung mendorong dirinya kesamping menghindari semburan naga kepala tiga tersebut. Pepohonan yang terkena serangan itu seketika membusuk dan mati.
"Haha, aku tak tau apa diriku masih bisa beregenerasi setelah terkena itu," gumam Ferisu saat melihat efek dari semburan hydra.
Ferisu mulai berlari memutari hydra, sedangkan naga itu tetap diam di tempat dengan kepala yang bergerak mengikuti Ferisu. Ia menyemburkan nafasnya kembali, mencoba untuk mengenai Ferisu.
Setelah sampai di bagian belakangnya Ferisu mencoba untuk naik ke atas tubuhnya, namun, ekor hydra tersebut mulai bergerak dan menyerang Ferisu seperti sebuah cambuk. "Sial!" gerutu Ferisu meloncat mundur, lalu membuka sayapnya dan terbang ke atas.
__ADS_1