
Setelah menghancurkan satu dari delapan organisasi Eight Eyes, Ferisu kembali menuju ke guild petualang. Di depan pintu guild, sudah ada dua orang yang menunggunya.
"Lucy, Alfred, maaf karena meninggalkan kalian begitu saja," ucap Ferisu sembari melambaikan tangannya memanggil dua orang yang berdiri di depan pintu guild.
Lucy dan Alfred menoleh ke arah pria yang memanggilnya. "Kau siapa?" tanya Lucy dengan wajah kebingungan.
"Apa mungkin kau, Ferisu?" ujar Alfred memastikan.
"Eh? Tidak-tidak, Ferisu itu punya rambut silver dan mata merah, kan?" sambung Lucy tak percaya.
"Apa kau ini benar-benar bodoh? Aku menggunakan sihir untuk mengubah warna rambut dan mataku," jelas Ferisu.
"Apa ada sihir semacam itu?" tanya Lucy dengan wajah yang begitu terkejut.
"Sepertinya kau perlu belajar lagi tentang sihir, Lucy," jawab Ferisu sembari menghela nafas.
"Ma-mau bagaimana lagi, aku bukan-nya otaku yang suka baca novel dan komik bergenre fantasi!" ketus Lucy karena merasa jika Ferisu sedang mengejeknya.
"Ngomong-ngomong aku juga bukan otaku, aku hanya seorang petani," sambung Alfred sembari mengangkat tangan.
Apa hanya aku yang otaku disini?
"Ah sudahlah, bagaimana misi kemarin?" tanya Ferisu mengalihkan topik pembicaraan.
Alfred dan Lucy mulai menceritakan apa saja yang mereka lakukan kemarin semenjak Ferisu pergi. Sepertinya, hubungan mereka menjadi lebih erat ketika sedang mengerjakan misi tersebut.
Saat sedang asiknya menceritakan hal tersebut, mereka terhenti ketika melihat raut muka Ferisu yang seperti terkejut. "Ada apa Ferisu?" tanya Alfred heran.
"Kita harus kembali ke desa sekarang!" teriak Ferisu dengan cukup panik.
Melihat raut muka Ferisu yang tak biasa, Lucy dan Alfred langsung mengikutinya berlari keluar dari ibu kota. Mereka bertiga pergi menuju ke tempat para catsith dan gadis elf yang sebelumnya.
"Ah, Tuan..." sambut mereka saat melihat Ferisu datang.
Tak menjawab sambutan itu, Ferisu langsung membuka sebuah gate yang terhubung ke desa. "Kalian masuklah setelah aku masuk!"
__ADS_1
Ketika sampai di sisi lain dari gate, desa Heiwa. Terlihat pemandangan yang penuh dengan warna merah ke kuningan, warna api yang menyala di mana-mana, asap hitam mengepul di langit dan aroma darah segar yang tercium dimana-mana.
"A-apa yang terjadi... ," gumam Alfred dengan wajah yang begitu terkejut dengan apa yang ia lihat.
Beberapa saat yang lalu...
Desa yang begitu damai di kedalaman hutan yang menjadi perbatasan antara wilayah manusia dan iblis. Desa Heiwa, sebuah tempat yang dihuni oleh tiga ras yang berbeda, manusia, goblin dan bunny.
Pagi yang cerah, semua penduduk desa melakukan pekerjaan mereka seperti biasanya. Suku goblin Oldrus membuat obat-obatan, suku goblin dan Gayle Regrus berpatroli, suku goblin Redhood mengajarkan sihir. Manusia bertani dan merawat hewan ternak, dibantu oleh ras Bunny.
Pada saat itu kepala suku Gayle yang baru dan beberapa rombongannya sedang keluar dari desa, berpatroli di sekitar sekalian berburu monster. Saat itu mereka berhenti di dahan pohon karena mendengar langkah kaki kuda.
"Ada apa ketua?"
"Shh.. ada suara langkah kaki kuda, dan itu cukup banyak."
Kepala suku menyuruh anggotanya untuk berpencar mencari tahu soal suara itu. Pada saat itu mereka melihat sekumpulan pasukan berzirah, menunggangi kuda dan memegang sebuah bendera dari salah satu negara manusia. Pasukan itu memiliki seratus orang.
"Manusia?!" batin kepala suku Gayle terkejut melihat pasukan itu.
"Tak kusangka ada goblin disini," gumam seorang kesatria mendekat ke arah goblin yang terkena panah.
Goblin itu bangun berdiri secara perlahan dan menahan rasa sakit, mencabut panah yang menancap di kakinya. Tak menjawab ucapan kesatria itu, ia mengeluarkan pisau yang sudah dilumuri racun.
"Heh? Apa kau mau bertarung?" ujar kesatria itu dengan nada angkuh.
Goblin itu bergerak dengan begitu cepat, menyerang kesatria itu dari belakang. Kesatria itu tak bergerak dari tempatnya berdiri, ia menarik pedangnya keluar dan menusukkan-nya ke arah belakang, mengenai goblin itu secara tepat.
"Apa kau kira bisa memberikan luka padaku?" ucapnya dengan senyum mengejek.
"Sial..." Goblin itu mendecakkan lidahnya dan memuntahkan segumpal darah. "Setidaknya, aku akan membuatmu..." ucap lirih goblin tersebut dengan senyum kecil.
Darahnya yang mengalir ke pedang kesatria, goblin itu menggunakan sihir petir yang membuat dirinya sebagai sumber listrik. Ia mengumpulkan semua energi sihirnya, serangan bunuh diri.
"Aaaarrrgghh!" Kesatria itu berteriak kesakitan akibat aliran listrik yang begitu kuat menyentrum dirinya, lalu melemparkan pedangnya ke arah sebuah pohon.
__ADS_1
Pohon yang terkena seketika disambar oleh sebuah petir dan hangus tak bersisa. Semua kesatria yang melihat itu terkejut.
"Apa-apaan itu? Seharusnya goblin jenis itu tak memiliki kekuatan sihir sebesar ini... ," ucap seorang penyihir dalam pasukan.
"A-apa... yang kau... maksud... ?" ucap kesatria yang terkena sentruman dengan terbata-bata.
"Goblin yang kau hadapi berasal dari suku Gayle, goblin jenis ini memang memiliki kemampuan layaknya assassin, tapi kemampuan sihir mereka tak sekuat ini. Jika benar ada, itu pasti goblin dari jenis Redhood," jelasnya.
"Jadi yang ingin kau katakan, goblin itu tak normal, atau mungkin ada yang mengajarinya?" Komandan pasukan mengangkat suaranya untuk memastikan penjelasan dari penyihir tersebut.
Penyihir itu mengangguk pelan. "Kalian semua dengar itu! Sekarang tingkatkan kewaspadaan kalian! Kita ada di hutan perbatasan, sesuatu yang normal di sini tak bisa kita anggap normal!" teriak komandan dengan lantang memberi tahu semua pasukannya, agar tak mengalami kejadian yang sama.
"Para goblin itu bergerak ke satu arah, mungkin itu desa mereka," ucap penyihir.
"Aku mengerti, kita akan bergerak ke arah sana!"
Pasukan itu kembali bergerak menuju ke arah desa Heiwa.
Di sisi lain, para goblin yang mengawasi sekitar langsung melaporkan tentang pasukan itu. Namun, tak lama setelahnya pasukan itu sudah sampai di dinding yang tengah dibangun.
"Dinding...? Apa ini benar desa goblin?" gumam komandan kesatria. "Tak ada waktunya untuk bimbang, serang mereka!"
Serbuan dari pasukan kesatria itu benar-benar mengacaukan desa yang damai itu. Pertarungan sudah tak bisa dihindari, para goblin, manusia, bunny, yang bisa bertarung langsung menghadang pasukan itu.
"Goblin, manusia dan bunny? Bagaimana mereka tinggal di satu tempat yang sama?" gumam pimpinan penyihir dengan heran.
Walaupun serangan itu secara tiba-tiba, penduduk desa Heiwa bisa bertarung dengan cukup seimbang dengan para kesatria. Hingga komandan mereka turun tangan, satu tebasan pedangnya bisa menghempaskan begitu banyak orang hanya dari angin tebasan pedang. Situasi langsung menjadi terbalik.
Kurumi yang mengingat tentang botol yang diberikan oleh Ferisu langsung berlari ke rumahnya untuk memecahkan botol berisikan cairan merah tersebut. Salah seorang kesatria melihatnya dan mengejarnya.
Saat sampai dirumah, Kurumi masuk ke kamarnya mengambil sebuah botol yang berada di atas meja. Saat tangannya meraih botol itu, tiba-tiba sebuah pedang menusuk perutnya hingga tembus ke bagian depan.
"Akh!" Dengan nafas yang berat dan rasa nyeri dari tusukan itu, Kurumi mengangkat tangannya dan menghempaskan botol itu dengan sekuat tenaga hingga pecah.
"Ka-kak... kumohon... cepatlah kembali ke de-sa..."
__ADS_1