Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain

Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain
Chapter 47 : Dryad Dan Fairy


__ADS_3

Di sebuah hutan, tepatnya hutan tempat tinggal para dryad. Seekor monster undead berbentuk naga dengan tiga kepala menyerang dan membuat kerusakan parah pada hutan tersebut. Para dryad pergi menjauh dan mengungsi ke titik pusat hutan dimana ada sebuah taman bunga yang dihuni oleh ras fairy.


Dryad yang merupakan ras penjaga hutan hidup secara berdampingan dengan ras fairy. Saat para dryad berlarian menuju ke tempat para fairy tinggal, para fairy sudah berkumpul dengan wajah yang terlihat murung.


"A-apa yang terjadi?" tanya mereka, karena penasaran dengan apa yang terjadi pada hutan.


"Hutan sedang diserang oleh monster undead naga berkepala tiga," jawab para dryad.


"Jadi, aura yang mengerikan ini berasal dari monster itu..." gumam seorang fairy, "tapi, kenapa dia berhenti?" tanyanya.


"Seorang iblis datang dan bertarung melawannya," jelas seorang dryad dengan singkat.


Semua fairy membisu setelah mendengar hal itu. Iblis katanya? Apa hal itu bisa dipercaya? Manusia dan iblis hampir sama, mereka selalu memicu peperangan. Ras barbar yang hanya tahu merusak dan membunuh.


"Aku akan pergi melihatnya..." kata seorang fairy, lalu ia mengepakkan sayapnya dan terbang ke arah lokasi pertarungan.


"Tunggu, Shiori!" panggil seorang dryad yang lari mengikuti arah perginya fairy itu.


"Miki?" gumam Shiori saat mendengar seseorang memanggil namanya.


...****************...


Di sisi lain, Ferisu tengah terbang sembari menghindari setiap tembakan racun dari hydra. "Sial!" gerutunya kesal.


Monster bertipe undead hanya bisa di kalahkan dengan cara menghancurkan core atau dengan sihir suci. Ferisu terbang turun dengan cepat seperti elang yang hendak menangkap mangsanya.


"Harusnya ini bisa dipakai... Holy magic : Purification!"


Sinar cahaya kuning ke emasan muncul dari telapak tangan kanan Ferisu dan menyinari tubuh hydra. Suara air yang manjadi uap terdengar samar diikuti dengan asap putih dari tubuh undead hydra yang terkena dampak purification.

__ADS_1


Naga itu mulai meraung, menandakan jika dirinya merasakan dampak dari sihir tersebut. Lalu ia mulai menyemburkan nafas racunnya ke segala arah secara acak.


"Cih! Aku harus segera menyelesaikan ini, jika tidak hutan nya akan—" Ferisu bergumam kesal saat melihat naga itu menyerang dengan acak, namun perhatiannya langsung teralih karena melihat dua orang yang tengah bergerak mendekat ke arah hydra.


"Apa yang mereka lakukan?!" Ferisu terbang dengan cepat menuju ke arah dua orang itu.


Begitu pula dengan undead hydra itu, ia juga menyadari keberadaan dua orang yang mendekat dan segera menyemburkan tiga racun yang berbeda ke arahnya.


"Awas!" Ferisu menghantam semburan racun itu dengan sihir angin dan mengumbar arahnya. "Apa kalian tak apa?" tanyanya sembari mengendalikan sihirnya.


"Uh... hu'um, terima kasih," jawab mereka dengan canggung.


Hydra itu meningkatkan kekuatannya hingga semburannya menjadi seperti sebuah tombak yang dihunuskan dengan sekuat tenaga. Secara perlahan sihir Ferisu mulai terpukul mundur, "sial... karena dia seekor undead, energi sihirnya tak terbatas!"


Ferisu mendorong tubuhnya kebelakang dan menarik dua wanita yang bersembunyi dibalik tubuhnya dan pergi menjauh dari jangkauan serangan hydra tersebut.


"Hei, Gure ada apa dengan saudara-mu itu!?" Ferisu melakukan telepati dengan pedangnya dan menuntut penjelasan soal undead hydra tersebut.


"Hmm... untuk sekarang kita harus mundur dulu, energi sihirku juga seudahh cukup terkuras," Ferisu meningkatkan kecepannya menuju ke pusat hutan, tempat dimana para dryad dan fairy berkumpul.


Saat setelah sampai di tempat para dryad dan fairy, Ferisu menurunkan kedua wanita yang ia bawa. Nafasnya terengah-engah dengan energi sihir yang mulai menipis. "Menggunakan kabut dan terbang benar-benar menghisap energi sihirku," gumamnya lirih.


Dan dalam keadaan yang sedang lemah itu, para fairy dan dryad memancarkan aura permusuhan para Ferisu. Namun, Miki dan Shiori menghentikan mereka semua. "Semuanya tolong dengarkan!"


Miki dan Shiori menceritakan jika Ferisu telah menolong mereka dari serangan hydra itu. Aura permusuhan itu mulai mereda, meskipun masih ada beberapa orang yang memancarkannya.


"Aku tak peduli kalian mau menganggapku musuh atau bukan, setidaknya aku tak ada niatan untuk melawan kalian," ujar Ferisu. "Bukankah lebih baik kita fokus ke satu hal yang pasti?" sambungnya melirik ke arah hydra yang mulai berjalan mendekat.


"Dia benar!" seru Shiori.

__ADS_1


"Iya," tambah Miki.


Waktu terus berjalan dan hydra itu semakin mendekat dengan layunya pohon sekitar. "Apa ada di antara kalian yang bisa memberikan ku darah?" ujar Ferisu.


Tentunya semua dryad dan fairy menjadi bingung akan hal itu. Darah? Kenapa dia menginginkan darah? Meskipun begitu ada seorang yang mengangkat tangannya dab berjalan mendekat ke arah Ferisu.


"Aku bisa memberikan mu darah, apa dengan itu kau bisa mengalahkan makhluk itu?" ucap Miki menuntut kepastian.


"Iya, setidaknya ada peluang," jawab Ferisu.


"Baiklah, jika itu yang kau katakan," Miki membulatkan tekadnya dan mempercayai kata-kata Ferisu.


Ferisu mulai meminum darah dari Miki yang merupakan seorang dryad. Rasa darah yang begitu alami dengan bau alam yang segar. Sangat berbeda dengan darah yang ia minum selama ini. Setiap darah memiliki rasa yang berbeda-beda meskipun ada beberapa yang terasa sama.


Setelah selesai Ferisu diam berdiri menghadap ke arah undead hydra yang tengah berjalan. Ia tak menarik pedang yang ada di pinggangnya keluar, namun menciptakan pedang darah. Lalu, pedang itu mulai di selimuti oleh cahaya kuning ke emasan, menciptakan sebuah energi suci yang kuat.


"Blood Sword, enchant holy magic : Sacred Blood Sword — Pedang darah suci."


Ferisu mulai mengambil posisi kuda-kuda, seperti sebuah anak panah yang siap untuk ditembakkan. Matanya menyala terang dengan penglihatan jarak jauh, mencari titik dimana batu sihir milik undead hydra berada.


"Ketemu!" Saat berhasil menemukannya, Ferisu membuka sayapnya dan melesat dengan cepat seperti peluru. Mengarahkan pedangnya ke arah depan seperti sebuah tombak, ia berhasil mengenai titik lemah monster itu. Namun, serangannya tak mencapai batu sihirnya karena terhalang penghalang sihir yang melindungi batu itu.


"Sial... jangan meremehkanku!" Tangan kirinya menarik Gure dan menciptakan kabut untuk menyelimuti penghalang tersebut. Lalu, secara perlahan penghalang itu mulai terkikis dan akhirnya Ferisu berhasil menghancurkan batu sihir tersebut.


"Gyyaaa!!!" Hydra itu meraung dan tubuhnya mulai bercahaya, lalu cahaya itu mulai meredup dan mengecil. Berkumpul ke satu titik, dan terbentuk sebuah pedang hitam ke unguan. Tertancap di tanah.


"Tuan, dia sudah kembali ke wujud pedangnya," ucap Gure.


Ferisu tengah mengatur nafasnya karena menciptakan sebuah sihir baru sangat menguras energi miliknya. "Huft~ hah.. iya, aku tahu," balasnya dengan nafas terengah-engah.

__ADS_1


Ferisu berjalan mendekati pedang itu dan memegang gagangnya.


__ADS_2