Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain

Reinkarnasi Menjadi Vampir Di Dunia Lain
Chapter 22 : Kebetulan Yang Gila


__ADS_3

Ketika latihan sihir selesai dengan berhasilnya Lucy dalam menembakkan sebuah sihir tanpa rapalan. Ferisu menanyakan sesuatu yang membuat keadaan menjadi hening.


"Lucy, dari mana kau tahu tentang reaksi oksidasi?"


Langit sore yang merah mulai memudar saat matahari terbenam. Bulan mulai terbit dan bintang-bintang bersinar di langit yang gelap seperti permata yang bertebaran. Di kegelapan malam, Lucy mengatakan sesuatu yang membuat suasana hening semakin hening.


"Sebenarnya... aku seorang reinkarnasi..."


Ferisu dan Alfred terdiam setelah mendengar itu, tapi Lucy melirik Ferisu dan menatapnya dengan serius. "Kamu juga... seorang reinkarnasi, kan?" katanya dengan suara tegang. 


"Iya... aku juga orang yang bereinkarnasi," jawab Ferisu dengan raut muka yang serius.


"T-tunggu! Jadi kalian berdua bereinkarnasi juga?!" Alfred berseru dengan nada terkejut.


"Juga... maksudmu, kau juga seorang reinkarnasi?" ujar Ferisu melirik ke arah Alfred.


Alfred duduk melunak karena kaget dengan apa yang didengarnya. Kemudian menatap langit berbintang dengan perasaan lega. Sama dengan Lucy.


Sementara itu, Ferisu berdiri mematung, menatap bintang-bintang yang berkelap-kelip di kegelapan langit malam. "Sungguh... sungguh kebetulan yang gila..." gumamnya. 


Sementara waktu tak ada satupun orang yang berbicara, mereka semua mencoba untuk menenangkan dirinya masing-masing.


"Lucy, bagaimana kau tahu kalau aku seorang reinkarnasi? Ah, apa itu soal reaksi oksidasi?" Ferisu bertanya karena penasaran.


Lucy menggelengkan kepalanya. "Bukan... bukan karena hal itu... tapi, saat aku mendengar namamu, aku teringat dengan nama seorang siswa yang dikabarkan menghilang di depan pintu rumahnya," jawab Lucy menceritakan tentang apa yang ia tahu.


"Berita yah," gumam Ferisu.


"Iya, di dalam berita itu. Seorang siswa, pekerja kantoran, supir truk dan seorang petani dikabarkan menghilang," ucap Lucy.


"Petani... itu mungkin aku," ucap Alfred dengan lirih.


Ferisu bertepuk tangan begitu keras sehingga Alfred dan Lucy harus memandangnya. "Mengapa merasa muram sekarang? Sekarang kita hanya harus hidup di dunia ini, bukan? Apakah aku salah?"


Alfred dan Lucy saling memandang, lalu tersenyum dan mengangguk pelan. Keduanya berdiri dengan wajah penuh semangat. 

__ADS_1


Malam berlalu dengan cepat dan pagi hari-pun tiba. Mereka bertiga keluar dari penginapan dan pergi menuju ke guild petualang.


"Huft~ sepertinya kita perlu meningkatkan rank kita dulu agar kartunya tak dicabut dengan mudah," gumam Ferisu sembari melihat langit yang cerah.


Ketika masuk kedalam guild petualang, mereka menjadi pusat perhatian bagi petualang yang ada di dalam. Wajah baru yang tak pernah mereka lihat. Saat dimeja resepsionis mereka bertiga langsung mendaftar membentuk sebuah party bernama Two Sides.


Setelah berhasil mendaftar Ferisu langsung bertanya pada resepsionis tentang misi yang paling sulit dan cara untuk menaikkan rank mereka dengan cepat. Resepsionis itu hanya tersenyum, lalu memberikan sebuah quest pengumpulan tanaman herbal.


"..."


"Apa ada yang salah Tuan?" tanya resepsionis itu dengan polos.


"Apa ada misi penumpasan monster?" tanya Ferisu.


"Hmm? Maaf, tapi inilah misi yang paling cocok untuk pemula," jawab resepsionis itu dengan nada yang sedikit mengejek.


"Baiklah," Ferisu menerima quest itu dan keluar dari guild.


Saat berada di depan gerbang kota, Ferisu memberikan lembaran quest itu pada Alfred dan Lucy. "Kalian kumpulkan-lah tanaman itu, aku punya urusan lain," ucapnya langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan cepat.


"Sial!"


Ferisu langsung bersembunyi dibalik tembok, sembari mengintip ke arah tembakan sihir tersebut.


Disisi lain...


"Dia berhasil menghindar, yah."


"Dilihat dari kekuatannya, sepertinya dia iblis tingkat tinggi," simpulan seseorang.


"Iya, kau benar Noel," saut yang lainnya.


Di balik sebuah gang, terdapat dua orang wanita yang mengenakan zirah berwarna putih dengan corak emas. Kesatria kerajaan, saat ini mereka sedang berpatroli dan secara kebetulan melihat Ferisu yang meloncati bangunan. Aura sihirnya terasa sedikit ketika dimalam sebelumnya.


Karena itulah, saat ini ada begitu banyak kesatria yang berpatroli dimana-mana. Mereka memperkirakan jika iblis mengirimkan seorang penyusup ke ibu kota.

__ADS_1


"Mungkin saja dia salah satu anggota Eight Eyes, Yuna, sepertinya kita harus melaporkannya pada ketua," ucap Noel.


"Aku setuju soal itu, Noel," saut Yuna.


Kedua kesatria itu langsung bergerak menuju ke arah pos penjagaan untuk melaporkan hal itu.


Di menara jam yang merupakan bangunan tertinggi di kota. Ferisu meningkatkan kewaspadaannya, lalu ia melihat ke sekitarnya. "Sial... aku ceroboh, seharusnya aku tak mengeluarkan sihirku semalam," gumamnya.


Pada saat itu, Ferisu mengaktifkan mantra yang mengubah warna rambut dan matanya. Dia tampak seperti dirinya yang dulu, sama seperti saat dia menjadi manusia yang hidup di bumi. Rambut hitam seterang langit malam dan mata biru seterang langit cerah. 


Ia turun dari menara jam dan membaur dengan orang-orang. Menekan energi sihirnya, lebih tepatnya ia memakai sebuah sihir manipulasi. Sihir itu berkerja untuk mengubah jenis energi sihir miliknya dan menyamakannya seperti energi sihir milik manusia yang ada di dunia ini.


Ferisu berjalan menuju ke pusat kota, lalu melihat sekitar dan berjalan menuju ke arah istana kerajaan. Disana ada begitu banyak kesatria yang menjaga pintu gerbang.


Apa benar ada sebuah organisasi gelap yang beroperasi di ibu kota? Kota ini terlalu damai, bahkan ada begitu banyak kesatria...


"Hei, hei oni-san, apa mau coba makan sesuatu yang manis?" ucap seorang wanita yang tiba-tiba mendekat ke arah Ferisu.


"Hmm?" Ferisu menoleh ke arah wanita yang memanggil dirinya.


Seorang wanita cantik dengan mata hijau zamrud. Rambut pirang sepanjang pinggang, terurai lembut saat tertiup angin. Gadis itu tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya. 


"Eh? Apa kau baru saja berbicara padaku?" tanya Ferisu dengan nada kaget.


"Iya, apa kamu mau menemaniku berbelanja?" ucap gadis itu dengan senyum manis.


Ferisu menoleh ke kiri dan ke kanan, ia bingung kenapa gadis ini datang kepadanya. Dari penampilan, ia terlihat seperti seorang putri bangsawan. Tapi, tak terlihat satupun pengawal bersamanya.


"Baiklah," terima Ferisu.


Ferisu berjalan disamping gadis yang terlihat begitu riang tersebut, ia berlari dan mampir ke berbagai toko untuk melihat dagangan di toko tersebut. Namun, ada sesuatu yang tak mengenakan, Ferisu merasakan tatapan orang-orang tertuju padanya. Bukan sebuah tatapan benci atau iri, tetapi sebuah tatapan kasian, empati.


"Kasian sekali, padahal dia masih muda."


"Iya, wajahnya juga cukup tampan, tapi sayang sekali."

__ADS_1


Ferisu yang merasakan tatapan orang-orang, melihat ke segala arah dan semua orang langsung mengalihkan tatapan mereka. "Ada apa?" gumam Ferisu heran.


__ADS_2