
Saat merasakan darah yang dimasukkan kedalam botol tertumpah ke tanah, Ferisu langsung tersadar dan berlari membuka sebuah gate yang terhubung ke desa. Saat itu keadaan desa begitu kacau, lautan api ada dimana-mana, semua bangunan rusak, ada begitu banyak noda darah dan orang-orang yang tergeletak di tanah.
"A-apa yang terjadi...?" gumam Alfred dengan lirih, wajahnya begitu terkejut.
"Fe-Ferisu...?" panggil Lucy saat melihat raut wajah Ferisu yang begitu kesal. Serta aura membunuhnya yang meluap-luap keluar.
Ferisu masih diam mematung dengan emosi yang meluap-luap melihat apa yang terjadi pada desa. Saat itu secara samar ia mendengar suara Kurumi yang begitu lemah.
Dengan cepat Ferisu langsung berlari menuju ke arah suara itu dan melihat Kurumi yang tergeletak tak berdaya dengan darah yang bergenang di kamarnya. Ferisu langsung mendatanginya, mengangkatnya secara perlahan dan memeriksa sekujur tubuhnya.
Bukan menggunakan sihir pemulihan, Ferisu menggunakan skill regenerasi miliknya untuk menyembuhkan Kurumi. Darah-darah yang bergenang dibawah mulai bergerak, mengalir kembali masuk kedalam tubuh Kurumi.
Darah itu dialiri oleh sihir milik Ferisu, sehingga membersihkannya dari kotoran apapun. Luka yang terbuka, mulai tertutup secara perlahan hingga tak meninggalkan bekas.
"Ka... Kak?" ucap Kurumi lirih.
"Tidurlah dulu, aku akan mengurus sisanya," balas Ferisu dengan pelan dengan senyum yang terlihat sedih.
Ferisu mengangkat Kurumi secara perlahan dan membaringkannya di atas kasur. Kemudian ia langsung keluar dari rumah itu sembari menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya.
Alfred dan yang lainnya berlarian mendatangi Ferisu yang sedang berdiri di depan sebuah rumah.
"A-ada apa Ferisu?" tanya Alfred dengan nafas terengah-engah.
"Kalian berpencarlah, cari semua orang yang masih hidup. Aku akan langsung datang kesana untuk menyembuhkan mereka," pinta Ferisu dengan tatapan yang serius.
Mereka semua langsung berpencar ke seluruh penjuru desa mencari semua orang yang masih bernafas. Mau itu goblin, manusia, ataupun bunny. Setiap ada yang menemukan orang yang masih bernafas, mereka akan berteriak dan Ferisu langsung bergerak ke arah sana dengan cepat dan menyembuhkan orang-orang dengan regenerasi.
"Itu... bukan sihir pemulihan, kan?" tanya gadis elf yang hanya berbunyi dalam batinnya.
__ADS_1
"Tolong cari yang lain lagi," ujar Ferisu setelah selesai menyembuhkan orang yang terluka, Ferisu langsung pergi dengan cepat dari sana.
"I-iya!"
Gadis itu masih merasa heran diikuti rasa penasaran pada pria yang menolongnya dari para pedagang budak. Ia juga melihat goblin yang tergeletak sudah tidak memiliki luka lagi, bahkan tak ada bekas luka sedikitpun.
Gadis itu langsung berdiri dan berlari mencari penduduk lain yang masih bernafas. Satu demi satu, setiap penduduk yang masih bernafas diselamatkan dan dikumpulkan ke alun-alun desa.
Hari menjelang sore dan akhirnya semua orang terbangun. Meski dengan regenerasi, mereka tetap kehilangan tenaga, ini lebih mending dari pada kekurangan darah. Karena menggunakan sihir penyembuhan, itu hanya berfungsi untuk menutup luka dan tidak mengembalikan darah yang hilang.
Disisi lain, Ferisu terlihat begitu kelelahan karena begitu banyak mengeluarkan energi sihirnya untuk meregenerasi luka-luka dari para penduduk.
"K-kami masih hidup?!" teriak para penduduk yang bangun dengan terkejut. Mereka memeriksa sekujur tubuhnya dan tak ada luka satupun.
Ferisu bertepuk tangan dengan kuat hingga mencuri semua perhatian penduduk desa. "Tenanglah! Aku tahu kalian kebingungan, semua luka sudah kusembuhkan, namun, mau sekuat apapun kekuatanku, aku tetap tak bisa menghidupkan yang telah mati," ujar Ferisu dengan lantang.
Hampir setengah penduduk desa telah kehilangan nyawanya, di antara mereka juga ada mayat dari musuh yang menyerang. Meskipun jumlah mereka bisa dihitung dengan jari.
Ferisu langsung meninggalkan alun-alun desa berjalan menuju ke arah rumahnya. "Jadi rumahku juga terkena dampaknya, yah..." gumam Ferisu saat melihat rumahnya yang sedikit hancur.
Saat membuka pintu, pintu itu langsung hancur. "Setidaknya bagian dalamnya tak terlalu kena," gumamnya.
Perasaan sedih, lelah dan marah menjadi satu. Ferisu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu dan berbaring miring di sana. Wajahnya tampak lesu, menatap meja yang ada di depannya, lalu matanya tertutup secara perlahan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di alun-alun desa, semua orang masih berkumpul.
"Baru kali ini aku melihat tuan Ferisu, menunjukkan wajah sedih seperti itu," ucap Mudru.
__ADS_1
"Iya, kau benar," sambung Hatcha.
Semua orang menjadi murung setelah mendengar hal itu.
"Permisi... dimana rumah tuan kalian?" tanya gadis elf.
Semua mata penduduk langsung tertuju padanya. "Apa ada hal yang ingin kau bicarakan dengan Tuan?" tanya Mudru sang kepala suku Oldrus.
Gadis elf itu mengangguk pelan, Mudru bangun berdiri. "Biarkan saya menghantarkan Anda kesana," ucapnya dengan sopan.
Sesampainya di sana, di balik pintu rumah yang sudah hancur, terlihat seorang laki-laki yang tertidur di atas sofa. "Apa kamu bisa membiarkan kami berdua?" tanya elf itu.
Mudru mengangguk dan berjalan pergi dari rumah itu, ia kembali ke alun-alun desa untuk menenangkan warga yang lainnya. Gadis itu masuk kedalam rumah, mendekat secara perlahan ke seorang laki-laki yang tengah tertidur.
"Rambut silver, mata merah, kemampuan regenerasi tinggi, siapa dia?" gumam gadis itu memerhatikan Ferisu.
Walaupun masih curiga, elf itu merasa tenang ketika berada di dekatnya. Secara perlahan ia mengangkat kepala Ferisu dan duduk di sofa, membaringkan kepala Ferisu di atas pangkuannya dengan lembut. Gadis itu mengusap rambut silver laki-laki yang ada di pangkuannya dengan lembut.
Wajah yang sedih, mulai berubah dan terlihat rileks. Menyadari keberadaan seseorang yang menyentuhnya, Ferisu membuka matanya secara perlahan.
"Oh, kamu sudah bangun?" ucap gadis itu dengan lembut. Lalu tersenyum hangat sembari mengusap rambut Ferisu.
"Elf?" gumam Ferisu melihat wajah gadis itu.
"Benar, aku elf yang kamu selamatkan dari para pedagang budak itu, namaku Licia," ucap gadis itu memperkenalkan dirinya.
"Apa yang kau inginkan?" balas Ferisu dengan dingin.
"Eh? Tidak, aku gak punya maksud apapun. Ibuku sering melakukan hal ini ketika aku sedang sedih," jawab Licia tersenyum.
__ADS_1
Ferisu memejamkan matanya kembali, perasaan hangat, nyaman bisa dirasakan olehnya. Namun, perasaan itu juga mengingatkannya dengan kenangan pahit, kenangan yang membuatnya membuang perasaannya dan menutup hatinya dari siapapun. Meskipun begitu, bukan berarti dia kehilangan kepedulian terhadap sekitar, ia hanya kurang bisa untuk mempercayai seseorang.
Karena kurangnya kepercayaan desa ini jadi hancur, ia hanya melakukan apa yang diinginkan olehnya, namun tak berjalan lancar karena kurangnya kepercayaan.