
Setelah memasuki hutan, Ferisu dan yang lainnya tiba di alun-alun kota yang berada di kedalaman hutan. Di sana ada begitu banyak elf yang menyambut kedatangan sang ratu dengan begitu hormat. Mereka juga terkejut dan senang ketika melihat Licia kembali dengan selamat. Meskipun, tatapan permusuhan tetap terarahkan pada rombongan Ferisu.
Mereka di bawa oleh dua pengawal ratu menuju ke sebuah rumah yang cukup besar. Mereka diberikan kamar masing-masing untuk beristirahat, sedangkan Licia ikut bersama neneknya menuju ke istana.
"Jadi, Licia-san itu putri dari kerajaan elf yah?" ucap Yoruka dengan nada bertanya. Shiro dan Kurumi menggelengkan kepalanya, karena mereka juga tak mengetahui hal itu.
Lalu, Yoruka melirik Ferisu. "Apa? Aku juga tak tau soal ini kau tau?" ucap Ferisu. Yoruka menunjukkan wajah yang cemberut, lalu berlari kecil dan memeluk lengan kanan Ferisu sambil tersenyum.
"Kenapa kau memelukku?" tanya Ferisu dengan nada dingin. Yoruka hanya membalas pertanyaan itu dengan senyuman.
Ferisu hanya menghela nafasnya dan menengok ke arah depan. Saat sampai di depan rumah tempat mereka akan tinggal, salah satu pengawal menghampiri Ferisu dan mendekatkan mulutnya pada telinga Ferisu. "Ikutlah bersama kami," bisiknya.
Ferisu mengangguk pelan. "Yoruka, bisa lepaskan? Aku punya hal penting yang harus diurus," ucap Ferisu sembari mengelus kepala Yoruka dengan lembut.
"Baiklah..." Yoruka melepaskan dekapannya dengan wajah cemberut. "Apa kau lebih memilih Licia?" tanyanya dengan sedih.
"Hmm? Apa yang kau katakan?" balas Ferisu dengan wajah kebingungan.
"Ahem!" Kurumi mengeluarkan suara yang mencuri perhatian mereka. "Yoruka-san, tak perlu menghawatirkan soal itu. Tak hanya kamu dan Licia-san, nanti akan ada begitu banyak gadis yang bersanding dengan Ferisu-sama," ucapnya dengan senyum penuh makna.
Ferisu menunjukkan wajah datar saat mendengar hal itu. "Apa itu yang kau liat dari masa depan?" tanya Ferisu untuk memastikan. Kurumi mengangguk dengan senyum yang terukir di wajahnya.
"Aku sudah melihat tanda-tandanya, Ferisu-sama sudah mulai terbuka dengan orang-orang. Tidak seperti dulu," ucap Kurumi.
Kurumi memberitahukan semua ciri-ciri wanita yang akan ditemui Ferisu kelak. Mendengar semua itu Ferisu hanya bisa diam membisu karena tak percaya. "Bukankah itu terlalu banyak?" ucapnya dengan canggung.
__ADS_1
Kurumi menggelengkan kepalanya. "Poligami adalah hal yang normal untuk orang yang memiliki kekuatan dan kuasa," ucapnya dengan tersenyum.
"Haha..." Ferisu hanya bisa tertawa canggung mendengar hal itu, lalu menghela nafas panjang. "Yasudah, aku akan pergi bersama mereka," ucapnya menunjuk ke arah dua pengawal elf.
Setelah itu Ferisu ikut bersama dua elf itu menuju ke istana kerajaan Elverne, yang berada tepat di sebelah pohon dunia. Sebuah pohon yang telah hidup selama berabad-abad, dari zaman para dewa.
"Pohon ini benar-benar besar," gumam Ferisu saat melihat pohon dunia. Ia berjalan mendekati pohon tersebut dan hendak menyentuhnya, namun, para elf yang ada di sekitar tempat itu langsung mengacungkan anak panahnya ke arah Ferisu.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Olivia yang tiba-tiba muncul.
"Seperti yang kau lihat, aku hanya ingin menyentuh pohon ini," jawab Ferisu.
Olivia mengangkat tangan kanannya ke atas, lalu semua elf menurunkan busur mereka. "Sentuhlah, terus pergi dari sini," ucap Olivia dengan tatapan sinis.
Ferisu menghiraukan tatapan itu, lalu ia menyentuh pohon itu dengan tangan kanannya. Matanya terbelalak ketika merasakan sensasi aneh saat tangannya menyentuh pohon itu. "Apa itu?" gumamnya pelan.
"Kumohon, tolong!" terdengar suara wanita bergema meminta pertolongan di dalam kepala Ferisu.
Ferisu tak mendengarkan ucapan Olivia, ia tetap berdiam diri menyentuh pohon dunia. "Apa yang perlu kutolong?" tanyanya.
"Tolong, ada monster berbahaya yang mendekat ke sini, tolong hentikan dia!"
"Aku mengerti," jawab Ferisu dengan senyuman. Lalu ia berbalik dan berjalan menjauh dari pohon dunia. Ia menurunkan tubuhnya dan menyentuh tanah, getaran itu menjadi semakin kuat diikuti oleh energi sihir yang begitu besar.
"Iblis sialan! Apa yang kau rencanakan!?" ketus Olivia yang berjalan mendekat Ferisu.
Ferisu memejamkan matanya, mencoba merasakan keberadaan monster yang dimaksud oleh pohon dunia. "Hawa keberadaan ini... jadi makhluk yang kurasakan waktu itu..." Saat merasakannya Ferisu tersadar jika monster yang dimaksud adalah makhluk yang membuatnya keringat dingin sewaktu dalam perjalanan ke hutan elf.
"Dia terhenti?!" gumam Ferisu dengan raut muka terkejut.
__ADS_1
"Apa yang kau gumamkan dari tadi!?" Olivia bertanya dengan kesal karena dari tadi ia selalu diacuhkan.
"Cepat evakuasi semua orang, ada monster berbahaya yang mendekat ke sini!" jawab Ferisu dengan sorot mata tajam.
"A-apa kau yang membawanya kesini!?" tanya Olivia dengan nada menuduh.
"Dia mengincar pohon dunia," jawab Ferisu dengan tenang. Lalu, ia memusatkan energi sihir ke tanah. Mengarahkan energinya menuju ke tempat monster itu berada, lalu menciptakan sebuah tombak batu yang mendorong monster itu keluar dari dalam tanah.
-Groaaarrr!!
Terdengar raungan yang begitu kencang dari perbatasan hutan, tepatnya di luar dinding penghalang hutan. "Kau dengar itu? Cepat evakuasi semua orang!" teriak Ferisu dengan serius.
"Hah!? Kenapa juga aku harus mendengarkan ucapan iblis sepertimu!? Kami akan menghadapi monster itu dengan kekuatan kami sendiri!" jawab Olivia yang tak terima dengan ucapan Ferisu.
"Huft~ aku mengerti, jadi harga diri kalian lebih tinggi dari nyawa orang-orang," balas Ferisu dengan rasa kecewa. "Yah, aku juga gak peduli. Asalkan kalian tak menggangguku," Ferisu berjalan pergi meninggalkan Olivia dan bergerak keluar hutan.
Saat mendengar ocehan itu, Olivia merasa geram. "Cih! Iblis keji seperti kalian... beraninya bicara soal nyawa orang-orang!" gerutunya dengan penuh rasa kesal. Olivia menghela nafasnya untuk menenangkan diri.
"Semuanya dengar! Ada seekor monster berbahaya yang mengincar pohon dunia! Semua kesatria elite elf akan pergi bertarung, lokasinya berada di luar hutan. Monster itu sedang berusaha menghancurkan dinding pelindung!" teriak Olivia memberikan perintah pada semua elf yang ada di seluruh kota.
Pada saat itu Licia, Kurumi, Shiro dan Yoruka berlarian menghampiri Olivia di depan istana. "Apa yang terjadi Nenek?" tanya Licia dengan panik.
"Kalian cepat evakuasi!" balas Olivia.
Suasana tiba-tiba berubah menjadi hening, sebuah hawa kehadiran yang mengerikan bisa dirasakan oleh semua orang. "Mustahil... dinding pelindungnya hancur?" gumam Olivia dengan wajah yang terlihat begitu pucat.
"Monster macam apa yang memiliki hawa kehadiran yang begitu mengerikan seperti ini?" Yoruka melihat ke arah luar hutan. Saat itu ia tersadar, "dimana Ferisu!?" teriaknya dengan panik.
"Iblis itu, pergi untuk melawan monster itu. Ah, mungkin sebenarnya dia lah yang membawanya, kan?" balas Olivia yang masih menuduh Ferisu.
__ADS_1
"Hah!?" Yoruka tak terima dengan kata-kata Olivia.