
Di saluran pembuangan bawah tanah, Ferisu berjalan mengikuti aroma darah yang tercium secara samar-samar karena tercampur oleh aroma busuk yang lebih tajam.
Hingga ia melihat sebuah cahaya obor yang bergerak mendekat ke arahnya. Ferisu langsung bersembunyi di balik celah dinding yang ada. Langkah kaki dari dua orang yang memegang obor itu kian makin mendekat.
Ketika Ferisu berpapasan dengan dua orang itu, sebuah pukulan melesat dengan cepat menghantam perut. Mengakibatkan dua orang itu pingsan, tak sadarkan diri. Ferisu menggunakan sihir tanah yang mengekang kedua orang itu dengan kuat.
Menunggu dua orang itu sadarkan diri. Ketika mereka membuka mata, Ferisu langsung menatap mereka dan mengaktifkan skill hipnotisnya. Tatapan yang kosong, seperti mata ikan mati. Kedua orang itu tengah berada dalam pengaruh hipnotis.
"Baiklah, jawab pertanyaan-ku dengan baik," ucap Ferisu.
Ferisu menggali informasi dari kedua orang tersebut. Wajah mereka berdua tampak tak asing, penjaga gerbang mansion.
Mansion ini merupakan salah satu persembunyian dari organisasi Eight Eyes, cabag perdagangan budak. Semua pekerja, pelayan, penjaga, merupakan anggota dari organisasi gelap tersebut. Setiap malam, mereka akan keluar untuk mencari orang yang keluyuran dan menangkap, menculiknya.
"Apa kalian juga menangkap ras selain manusia?"
"Iya... elf, catsith, harpy, dan masih banyak lagi..."
Setelah mendengar hal itu Ferisu menebas kepala dua orang itu dan berjalan menuju ke arah penjara yang mengurung orang-orang yang diculik. Tak berjalan secara perlahan dan hati-hati lagi, Ferisu bergerak dengan cepat dan menghabisi setiap orang yang ia temui di jalan.
Ruangan yang gelap sangat menguntungkan bagi Ferisu karena bisa melihat dalam kegelapan, di sisi lain musuhnya kesulitan karena tak bisa melihat dengan jelas.
Sebuah pintu besi yang cukup besar, pintu itu tak terkunci. Ferisu mendorongnya, membuka pintu itu secara perlahan. Ruangan yang ada dibaliknya begitu terang, dan aroma darah tercium tajam. Setelah banyaknya orang yang ia bunuh saat berjalan ke ruangan ini, tempat itu menjadi sepi.
Hidung Ferisu mengendus bau darah itu, lalu mengikutinya menuju ke sebuah ruangan. Terdengar teriakan seorang gadis, dan beberapa tawa laki-laki. Di balik jeruji besi terlihat seorang gadis bertelinga kucing yang diikat dengan rantai sedang dicambuk. Kepala keluarga dari mansion, pemimpin cabang pedagang budak.
__ADS_1
Ferisu berjalan dengan santai, mendekat ke arah mereka. "Selamat pagi," sapanya dengan senyum simpul.
"Siapa kau!?" teriak orang-orang yang ada disana. Mereka mengeluarkan senjata dan mengarahkannya pada Ferisu.
"Aku? Aku hanya mangsa yang menjadi pemangsa," jawab Ferisu dengan santai.
Orang-orang itu saling menatap satu sama lain karena tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh pria berambut silver di hadapan mereka.
"Hmm? Kalian tak perlu mengerti, jadi matilah..." Ferisu bergerak dengan cepat, membentuk sebuah pedang darah dan menebas orang-orang itu, satu demi satu, tak menyisakan satu-pun orang.
"Manusia itu... benar-benar rapuh dan mudah sekali mati... ," gumam Ferisu saat melihat setumpuk mayat yang berlumuran darah.
Ferisu berjalan memasuki sel penjara itu, mendekat ke seorang gadis kucing yang memiliki tatapan kosong, seakan ia ingin mati. Ferisu mengangkat tangannya lalu menyentuh kepala gadis itu, mengalirkan energi sihirnya yang membuat kemampuan regenerasi milik gadis itu meningkat pesat, menyembuhkan semua luka yang ada di tubuhnya.
"Apa kau sudah sadar?" tanya Ferisu dengan senyum hangat.
Ferisu mengulurkan tangannya, "Apa kau bisa berdiri?"
Gadis itu menerima uluran tangan itu dan bangun berdiri secara perlahan. Kakinya gemetaran karena tak memiliki tenaga yang cukup banyak untuk berdiri. Ferisu yang menyadari hal itu langsung mengangkat gadis itu, menggendongnya seperti seorang putri.
Ferisu berjalan menuju ke tempat orang-orang yang ditawan, para budak. Di leher mereka terdapat sebuah kalung yang diberikan sihir khusus agar tak membantah perintah orang yang membuat kontrak.
Ferisu menurunkan gadis yang ia gendong secara perlahan, menyandarkannya ke dinding. Di dalam penjara itu ada sekitar sebelas orang, tujuh manusia kucing, satu elf, dan tiga manusia.
Ferisu memegang tiang besi jeruji tersebut lalu membengkokkannya secara paksa, membuat sebuah jalan agar bisa masuk. Semua orang yang ada di dalam-nya tampak ketakutan ketika melihat Ferisu.
__ADS_1
Ferisu melirik semua orang yang ada di dalam penjara, lalu membisikkan sesuatu dan secara tiba-tiba, kalung yang ada di leher mereka seketika lepas, membebaskan semua orang.
Ferisu berbalik arah, keluar dari penjara tersebut dan kembali mengangkat gadis kucing itu. "Kalian sudah bebas, jadi pergilah kemanapun kalian mau," ucapnya.
Saat Ferisu melangkah pergi, semua orang yang ada di dalam penjara keluar dan memanggilnya. Ferisu berhenti melangkah dan menoleh kebelakang, melihat mereka semua menunduk mengucapkan rasa terima kasih secara tulus.
"Tak udah dipedulikan, aku hanya kebetulan lewat sini," ucap Ferisu mengabaikan mereka dan terus berjalan.
Orang-orang itu juga mengikuti Ferisu dari belakang, mereka memegang obor agar bisa melihat untuk ras manusi, berbeda dengan ras catsith yang bisa melihat dalam gelap, sedangkan ras elf menggunakan sihir untuk melihat dalam gelap.
Mereka terus berjalan hingga akhirnya melihat sebuah cahaya yang ada di ujung lorong. "Apa kalian mau tinggal di desaku?" tanya Ferisu tanpa menoleh ke belakang.
"Tapi, kami bukan manusia," jawab para ras catsith.
"Aku harus kembali ke desa elf," jawab gadis elf.
"Maaf, tapi kami bertiga harus kembali ke keluarga kami," ucap tiga orang manusia.
Ferisu berhenti berjalan lalu menghadap kebelakang. "Jika kalian mau tinggal tak masalah, lagi pula, desaku itu ditinggalin oleh berbagai macam ras. Untuk gadis elf, aku akan menghantarmu nanti, kau tak ingin tertangkap lagi, kan? Kalian bertiga juga bebas untuk kembali ke keluarga kalian."
Setelah keluar dari lorong itu, mereka ada di luar dinding kota. Ketiga manusia itu berpisah dan langsung berjalan pergi memasuki ibu kota untuk bertemu dengan keluarganya.
"Kalian tunggulah disini, dan jangan membuat sesuatu yang memancing perhatian para manusia di kota ini. Aku harus kembali dulu, aku meninggalkan kedua temanku begitu saja karena datang ke tempat orang-orang dari organisasi perbudakan itu," ucap Ferisu sembari merubah warna rambut dan matanya.
Sebelum pergi meninggalkan delapan manusia kucing dan satu gadis elf di hutan, Ferisu memberikan makanan dan minuman pada mereka.
__ADS_1
Ferisu masuk kembali ke ibu kota dan berjalan menuju ke guild petualang. Di depan pintu itu ada dua orang yang berdiri, seperti menunggu seseorang datang.