
Part 11: Sepi
Azka Aldric Kesepian
Kakiku sunguh penat sehabis bermain basket tadi. Peluh keringat membasahi baju sekolah yang sedang kukenakan. Bagian terbaiknya, kelasku menang melawan kelas sebelah. Mereka mengajak kami untuk bertanding basket. Teman-temanku yang lain sudah menuju ke kelas, kecuali pria penyendiri di sana. Ia duduk di sana hingga waktu yang tidak bisa diterka. Farel sempat melihat kami bermain basket. Aku tahu ia juga pandai bermain basket. Ia yang telah mengenalkan basket padaku sewaktu SMP.
Tampangnya tetap saja datar saat melihat kami merayakan kemenangan. Sebenarnya kemenangan ini juga miliknya. Ia juga anggota kelas kami. Ia berhak merayakan bersama kami. Bahkan Alvia menarik tangannya saat kami menang. Namun, ia menolak. Ia hanya tersenyum kepada Alvia.
Benar kata Cessa, Farel lebih banyak tersenyum akhir-akhir ini. Terutama ketika ia di dekat Alvia. Kurasa yang membuat Farel berubah itu adalah kehadiran Alvia.
Jangan-jangan kau menyukai....
Alvia sudah duduk dengan manis di kursinya. Ia menjadi pembatas antara aku dan Farel. Sering kali aku dan Farel saling bertatapan saat ingin mencuri pandang pada Cessa. Ia juga sering kudapati melihat Alvia untuk sejenak. Mungkin itulah naluri alami seorang pria ketika wanita cantik berada di sekitar mereka,
"Alvia," sapaku sejenak. Ia melempar senyum padaku.
"Hai Azka, congrats ya kalian menang. Kamu keren tadi," kata Alvia untuk memujiku. Pipiku seketika terasa hangat dan memerah dipuji olehnya. Aku segera duduk di kursi.
"Oh ya Azka, kalau seseorang diculik, bagaimana perasaannya?" Tiba-tiba Alvia menanyakan hal yang tidak-tidak padaku.
"Ya, pastinya cemas. Kok nanya yang begituan, sih?" tanyaku.
"Barusan aku ngelihat artikel tentang penculikan gitu." Ia tertawa kecil lalu melanjutkan membaca buku catatannya.
Aku hanya bisa tertawa mendengar pertanyaan aneh dari Alvia. Kenapa ia menangakan hal seperti itu padaku? sepertinya ia tertarik dengan hal yang seperti itu.
Farel menunjukkan batang hidungnya di pintu kelas. Seperti biasanya, para wanita kelas berebut tuk melihatnya. Tapi tetap saja Farel tidak akan pernah peduli akan hal itu. Hanya satu yang ia pedulikan, dirinya sendiri.
Alvia tersenyum padanya. Farel membalas dengan senyum tipis khasnya. Walaupun tipis, ia tetap terlihat tampan dengan senyuman itu.
Baju Farel tampak lusuh. Entah apa yang ia kerjakan. Bisa jadi ia kembali dipalak oleh anak-anak nakal IPS itu. Biasanya ia pergi ke perpustakaan untuk menangkan diri dahulu jika gejala depresinya kembali muncul. Namun, kali ini sepertinya ia tidak ke perpustakaan dahulu. Ia langsung ke kelas. Berarti apa yang dikatakan Cessa benar, gejalanya kini tidak terlalu sering muncul.
Bel pulang bernyanyi ria menghibur setiap murid nan lelah. Aku mengepal tangan karena jam pelajaran matematika yang panjang akhirnya berakhir. Sudah tiga jam aku menunggu bel ini untuk mengakhirinya. Sungguh memuakkan jika kita memperlajari sesuatu yang tidak kita sukai. Aku menyandang tas lalu pergi ke pintu kelas.
Kulihat Alvia sudah berjala terlebih dahulu sambil menyandang tas merah jambunya.
"Alvia, tunggu dong," panggilku. Namun, ia malah berlari meninggalkanku seakan tidak mendengarkan teriakan panggilanku. Aku hanya menggaruk-garuk kepala melihat tingkahnya itu.
Hari ini aku tidak membawa kendaraan. Biasanya aku membawa mobil ke sekolah dan terkadang membawa motor jika mobil tidak bisa kugunakan. Hari ini mobil sedang dipakai oleh papaku keluar kota, sedangkan motorku sedang dirawat di sebuah bengkel dekat rumah. Mau tidak mau aku menggunakan transportasi umum yang tersedia. Untung saja sekolah ini berada di pusat kota, jadi cukup mudah untuk menggunakan transportasi umum.
Aku menapaki trotoar yang setiap beberapa meter ditumbuhi oleh pohon-pohon nan tokoh. Angin nan berhembus menerbangkan daun-daun hingga terhempas ke kerasnya jalanan beraspal. Aku sering melihat Farel berjalan di sepanjang trotoar ini. Ia selalu berjalan kaki saat pergi maupun pulang sekolah. Rumahnya cukup dekat dari sini.
Kendaraan lalu-lalang bergantian tanpa henti. Sebuah mobil menepi di belakangku. Biasanya jarang kendaraan yang berani menepi di sini karena jalanan ini memang dilarang untuk menepi. Aku terus saja berjalan seiring dengan bunyi pintu terbuka dari mobil itu.
Seseorang menarikku dari belakang. Memaksaku untuk mengikuti tarikan tangannya.
"Apa ini?" kataku memprotes. Aku melepaskan tarikan tangannya. Mataku terbelalak dengan apa yang kulihat. Bukan pria maupun wanita. Namun, seseorang dengan kostum panda.
Inikah yang dimaksud dengan penjahat badut di luar negeri itu? tiba-tiba aku teringat dengan artikel-artikel media sosial yang sering aku lihat sebelumnya.
"Siapa kau?" Aku menariknya lalu mencoba membuka kepala panda yang membungkus wajahnya.
Ia cukup cekatan melepaskan tanganku. Ia dengan cepat mengunci tanganku ke belakang hingga aku tidak bisa bergerak lagi. Aku berusaha melawan. Namun, kuncian itu semakin kuat hingga membuatku kesakitan.
"Ini penculikan. Lepasin nggak? Aku anak Jendral. Jangan macam-macam." Aku berusaha berbohong. Ia membuka pintu dan langsung menendangku untuk masuk ke dalam.
Aku menatap orang yang juga berada di dalam mobil ini. "
Farel? Kau kok bisa di sini?" tanyaku. Kutatao ia dalam-dalam.
__ADS_1
'Oh kau yang ngelakuin ini kan?" tanyaku berkali-kali.
Ia tetap dengan gaya dingin yang kadang membuatku merasa jijik padanya.
Farel menghela nafas lalu berkata, "Kau tanya sama penculiknya itu. Aku juga korbannya."
Orang yang menculikku membuka kepala panda berbulu itu. Rambut panjangnya tergerai saat membuka topengnya. Matanya bulat lengkap dengan bulu matanya yang lentik. Wangi parfum itu menyeruak ke hidungku.
"Alvia? Kamu kok--" Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku. Aku masih tidak percaya Alvia yang melakukannya.
"Pakai kostum ini cukup panas yah! Yuk, kita jalan-jalan dulu." Ia menjalankan mobilnya perlahan.
"Ada apa ini?" tanyaku lagi.
Ia hanya tertawa mendengar perkataanku. Farel yang ada di sampingku hanya tersenyum mendengar tawa Alvia.
"Aku cuma kepingin bersama dua orang paling kece di sekolah," kata Alvia. Ia kembali tertawa dengan tawa khasnya. "Enggak kok, aku cuman pingin tau sesuatu yang kalian sembunyikan dari aku. Sekalian membuat kalian berdamai," ucap Alvia lagi.
Aku dan Farel saling bertatapan. Tatapan kami saling beradu siapa yang paling kuat. "Pasti kau yang menyuruhnya, kan? Aku tau itu."
Aku mengancam Farel. Farel hanya tertawa sinis. Aku tau ancaman apapun tidak akan berlaku bagi orang bermental baja sepertinya.
"Kau bilang aku yang ngelakuin ini? kau mau kubogem lagi dengan tanganku. Kau orang pertama yang kena ini di Pekanbaru!" Ia menunjukkan kepalan tangannya yang kuat.
Aku sempat menelan ludah mendengar ancamannya. Lagi-lagi aku teringat akan masa lalunya yang keras. Aku telah salah mengancam orang.
"Udah jangan kelahi. Aku mau kita bertiga senang-senang hari ini," kata Alvia.
Senyumnya membuatku diam. Terlihat manis dan cantik. Tak ada satu pun wanita yang akan bisa menandinginya. Kulihat Farel melipat tangannya lalu bersandar. Matanya melebar menatap Alvia. Garis wajahnya samar-samar menyiratkan sebuah senyum.
Farel mengetuk pundakku dua kali lalu berbisik, "Biar aku saja yang menjelaskannya padanya nanti, kursasa ia perlu tau."
Aku mengangguk mengerti. Perkataannya terkesan serius. Memang memperlihatkan sifat aslinya yang selalu serius akan segala hal.
"Bukit Bintang?" tanyaku pada Alvia. Aku baru tahu tempat indah ini ada di Pekanbaru. Alvia dengan cepat berlari menyambut pemandangan di sana. Tas gitar nan ia sandang bergoncang-goncang saat ia berlari.
Di ujung penglihatan kami hanyalah pemandangan Kota Pekanbaru yang menawan. Gedung pencakar langit yang jika dari dekat terlihat menjulang begitu tinggi. Di atas ini bangunan terlihat kecil, seperti miniatur bangunan yang sering kulihat di pameran-pameran mengenai Kota Pekanbaru. Awan-awan sore seperti kapas putih nan mengambang di udara. Terlihat putih dan sedikit menguning pada awan di sebelah barat.
Aku berjalan sejajar dengan Farel. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku. Auranya terlihat dingin dan misterius. Tidak seperti Farel yang kukenal dulu.
"Maaf soal luka di bibir kau itu." Ucapan Farel memecah keheningan di antara kami.
"Ya, aku tau, kok. Aku mengerti perasaanmu ketika sahabatnya diusik sama orang lain. Sama sepertiku kau yang membelaku dulu," jawabku. Seketika aku mengingatkan Farel mengenai masa lalu yang pernah menghampiri kami berdua.
"Kau memang pengingat yang baik Azka." Ia perlahan tersenyum lalu berlari menuju tempat Alvia sedang membuka tangan tuk merasakan angin yang berhembus.
Tempat ini cukup ramai oleh para muda-mudi yang ingin menikmati sore. Pedagang minuman dan makanan berjejer menjajakan dagangannya. Tempat duduk penuh oleh pengunjung yang datang. Wangi asap sate Pariaman tercium harum saat asapnya mengarah ke arah kami. Bunyi gitar Alvia mulai berbunyi, menuntun kami untuk duduk mendengarnya.. Melod-melodi yang ia mainkan terdengar harmoni ketika bercampur dengan suasana sore yang indah.
Kami duduk bertiga sambil mendengarkan alunan musik gitar milik Alvia. Tangannya terlihat cekatan mengganti setiap kunci gitar yang ia mainkan.
"Kita akan menunggu senja di sini," kata Alvia.
"Menunggu senja? Seperti menunggu hujan milik Farel?" tanyaku. Farel tersenyum tipis mendengarnya.
"Iyaa, setiap orang punya obsesinya masing-masing, Kalau Azka?" tanya Alvia. Aku berpikir sejenak apa sebenarnya obsesiku. Mataku mengarah ke atas untuk berpikir.
"Ah, kelamaan kamu mikirnya. Sekarang ceritakan apa yang terjadi pada kalian dan depresi yang kamu bilang Farel. Apa maksudnya?" pinta Alvia.
Aku dan Farel saling bertatapan sejenak. Aku ingin menjawab, tapi kurasa lebih bijak jika Farel saja yang menjelaskan semuanya.
__ADS_1
"Farel, jelaskan," pintaku pada Farel. Ia mengangguk lalu merebut gitar di tangan Alvia. Ia menunjukkan kemampuan bermain gitarnya yang ia dapatkan saat kami di SMP dulu.
Ia bercerita diiringi dengan bunyi gitar yang ia mainkan.
"Saat itu masih SMP. Aku Aku dan Farel dulu berteman. Oh bukan teman, bisa kubilang bersahabat. Ia dulu hanyalah anak culun yang nggak tau apa-apa. Apapun masalahnya ia mengadu padaku."
Ia tersenyum menatapku. Alvia tampak penasaran mendengar cerita Farel yang akan mengungkap masa lalu kami.
"Sahabat? Kok bisa?" tanya Alvia dengan cepat.
"Aku belum selesai bicara Alvia. Dulu kami sama-sama SMP di Jakarta. Saat itu aku tidak seperti yang kamu lihat sekarang. Aku dulu orang yang paling disegani di sekolah, bahkan sama anak dari sekolah lain. Aku dan Azka sering berkelahi dengan anak-anak di luar sana untuk membantu teman-teman kami yang sering mendapat masalah dari anak-anak nakal luar sekolah," kata Farel.
Aku tertawa mendengarnya. Benar kata Farel, saat itu kami memang benar-benar liar. Alvia menatapku heran.
"Farel yang ajarin aku untuk berkelahi," kataku padanya sambil tertawa. Ia membalas tawaku lalu kembali menyimak cerita Farel
"Dan persahabatan kami hancur semenjak tahun 2014, tepatnya kami sudah kelas X SMA. Pada saat itu kami sedang tawuran dan Azka kena balok di kepalanya hingga masuk rumah sakit. Alvia mau tau apa yang terjadi saat itu?" tanya Farel. Alvia menggeleng tidak tahu.
"Aku nyelamatin Azka di kedai, trus aku masuk penjara beberapa hari karena ditangkap polisi. Setelah aku bebas Farel datang ke tempat ngumpul kami dan bilang kalau dia nggak mau lagi berkawan dengan kami, terutama aku. Saat itu aku tahu, itu hanyalah perintah Papanya yang memang sedari dulu nggak setuju tentang persahabatan kami yang sedikit liar," kata Farel.
Aku menghela nafas lalu berkata kepada Alvia, "Alvia mau tahu apa yang terjadi selanjutnya? aku kena tonjok Farel untuk pertama kalinya. Tonjokan yang paling ditakuti satu sekolah malah nempel di pipiku. Butuh seminggu buat sehat," kataku sambil tertawa. Tampak Farel sangat mengingat kejadian itu. Ia ikut tertawa mendengarnya.
Farel melanjutkan ceritanya, "Lalu beberapa hari kemudian Azka pindah ke Pekanbaru dan meninggalkaku di Jakarta."
Ia menunduk sebentar. Aku khawatir jika mengingat ini akan membuat depresinya kembali kambuh.
"Farel kamu nggak apa-apa? kalau nggak kuat certain, nggak usah lanjutin," ucap Alvia yang khawatir. Tangannya menyentuh wajah Farel sambil berusaha untuk menenangkannya. Ingin sekali diriku merasakan sentuhan itu.
Ternyata Farel sudah jauh selangkah dari diriku.
"Nggak apa-apa Alvia. Aku bakal lanjutin. Ini cerita yang nggak kalian tau sama sekali, bahkan Azka sekalipun. Hanya Cessa yang tau ini."
"Tak lama sejak aku bebas dari penjara, aku sedang berada di club malam di Jakarta karena saat itu temanku sedang ulang tahun di sana. Seseorang meletakkan sepaket narkoba di sakuku dan jus yang sedang aku minum. Tiba-tiba polisi masuk dan aku ketangkap," ucap Farel dengan nada rendah.
Aku memang tidak mengentahui kejadian ini. kejadian ini terjadi setelah aku berada di Pekanbaru.
Air mata Farel tumpah tak terbendung. Untuk pertama kalinya menangis di hadapanku.
"Kamera CCTV memang memperlihatkan kalau paket narkoba itu dimasukkan oleh seseorang, namun aku terbukti makai narkoba karena jus yang kuminum itu sudah dimasukin narkoba sama orang lain. Aku kembali berurusan dengan polisi. Ayahku yang sangat marah membuat sakit jantungnya kembali kambuh hingga ia masuk rumah sakit dan--"
Aku dan Alvia terdiam mendengar Farel tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Kata itu terlalu berat untuk diucapkan untuk orang yang paling kita sayangi. Air matanya berlinang jatuh membasahi pipinya. Suara isak tak bisa ia hindari.
Alvia mendekat lalu memeluk Farel dengan hangat. Tidak aku sangka kejadian seperti itu menimpa Farel. Aku tahu Farel punya banyak musuh di luar sana, tapi tidak kusangka musuhnya sampai tega melakukan ini pada Farel.
"Ayahku meninggal dan aku nggak bisa nerima semua yang terjadi hingga membuat diriku seperti ini, Alvia. Aku depresi hingga aku nyakitin diriku sendiri. Kalau nggak karena Cessa, aku bakalan terus minum obat penenang." Tangisnya begitu deras dalam pelukan Alvia.
Alvia berusaha menenangkannya terbawa suasana haru ini. Tidak tahu kenapa aku ikut merasakannya pula. Air mataku membentuk garis di pipiku. Sekarang aku tahu seberapa berartinya Cessa bagi Farel hingga ia begitu marah ketika aku melukai hatinya.
Farel berusaha meredakan isak tangisnya dalam peluk Alvia. Ia melepaskan dekapannya.
"Ayahku ninggalin aku untuk selamanya. Akhirnya aku pindah ke sini karena di sinilah asalku. Ibuku membuka butik sendiri untuk menghidupi aku dan adik perempuanku. Aku berusaha tidak bergaul dengan orang lain karena aku takut mereka tau tentang masa laluku yang kelam. Itulah kenapa aku selalu sendiri," ucap Farel.
Aku kini membayangkan seberapa kesepiannya Farel menjalani hidupnya selama ini. Selalu hampa tanpa teman dan sahabat. Tak banyak yang ia lakukan untuk berteman. Sedangkan aku selalu saja menghindarinya karena benci akan masa lalu yang pernah kami lalui. Aku merasa salah telah menjauhinya selama ini.
"It's okay, aku di sini selalu ada untukmu Farel. Tak hanya aku, Alvia dan Cessa juga. Kau nggak akan kesepian lagi." Aku memegang bahunya.
Matanya yang basah itu menatapku. Tampak merah karena tangis dan putus asa karena hidup yang terlalu miris. Sebuah tekat yang akan kubuat untuk dirinya.
Tak akan kubiarkan kau kedinginan dalam sepimu sendiri, ucapku dalam hati.
__ADS_1
***