Rinai Hujan

Rinai Hujan
Part 21: Lebih Dahulu


__ADS_3

Part 21: Lebih Dahulu


Alvia Darsya Putri


   Senduku tak hilang oleh semua yang datang. Bahkan burung-burung yang berkicau tak juga membuatnya sirna. Pagi yang cerah membuat mereka berkicau untuk menyambut mentari yang datang. Bayang-bayang sisa rembulan masih tersisa menunggu cahaya matahari untuk menghapusnya. Rasa dingin pagi yang menusuk masih bisa kutahan oleh selapis seragam sekolah yang kukenakan.


  Kulangkahkan kaki kananku menuju motor. Pagi ini mobil tidak bisa dipakai olehku. Tidak apa juga kupakai motor untuk menikmati jalanan Pekanbaru hari ini.


Sekolah terlihat lengang oleh siswa. Pekanbaru memang masih terlalu pagi jika jam segini. Pantas saja mereka masih banyak yang tertahan dirumah. Kulangkahkan kakiku ke lapangan basket untuk mencari Azka. Tak heran jika melihat Azka bermain basket sepagi ini. Sudah menjadi sarapan sehari\-harinya sebagai sesepuh basket di sekolah.



Di lapangan basket tidak terlihat siapa\-siapa. Hanya ada angin lewat yang membuat ring basket bergoyang. Tak jauh dari sana seseorang duduk di tempat Farel biasanya menyendiri. Perempuan berhijab itu terlihat santai menikmati angin pagi nan sejuk. Hatiku tergerak mendatanginya.



"Hai, Cess," sapaku sambil duduk di sampingnya.


   Ia membalasku dengan senyumnya. Kacamata bergagang hitam itu selaras dengan mata sipit itu. Terpasang kokoh bersentuhan dengan hidung mancung Cessa. Hijab putih yang ia kenakan membungkus rambut indahnya.


"Hai, Alvia," balasnya. Tangannya yang memegang sebuah kotak makanan mendekat padaku. Dua buah roti isi menghiasi sebuah kotak makanan itu. "Mau? Ambil satu. Itu jatah Farel setiap pagi," tawarnya padaku.


   Aku tak menolak dengan tawarannya. Sebuah roti isi siap melengkapi perutku yang sudah diisi dengan sarapan di rumah.


Kugigit sebagian kecil dari roti isi itu. Terasa jelas tekstur irisan tomat beserta lembutnya telur dadar yang tengah diaduk oleh lidahku. Rasa asam tomat bersatu dengan gurihnya telur dadar terasa nikmat saat ditelan. Tak sia\-sia rasanya untuk mampir di sini dulu.



"Farel setiap pagi sarapan di sini denganmu, ya?"



"Iya , termasuk sering juga. Dia orangnya malas sarapan."



Aku menangguk perlahan. Ia begitu mengenal Farel begitu baik. Bahkan ia rela membuatkan sarapan setiap pagi untuk Farel. Sebenarnya aku ingin sekali menanyakan hal mengenai keadaan Farel sebenarnya. Aku takut ia akan terluka karena hal itu. Sebenarnya ia pun tak tahu jika aku telah menguping pembicaraan mereka kemarin.



Hatiku memberanikan diri untuk menanyakan mengenai Farel.



"Aku ingin tahu mengenai Farel, Cess. Apa benar Farel sakit karena depresinya? Dan dia kembali\-\-"


 


   Aku ingin melajutkan kalimatku, tapi terlalu sulit untuk mengatakan bahwa Farel meminum obat-obatan itu.


Cessa mengiyakan pertanyaanku. Ia mengerti akan maksud yang aku katakan.



"Dia kembali minum obat penenang. Aku khawatir dia kembali seperti dulu,"



"Tapi, kenapa kalian nyembunyiin itu dari aku?" tanyaku lagi. Hening melanda untuk beberapa detik. Cessa tak mampu berkata\-kata.

__ADS_1



"Farel sendiri yang minta nyembunyiin semua itu dari kamu. Ia nggak ingin kamu kecewa," jawab Cessa. Tangannya menutup kotak makanan yang ia bawa. Ia bergegas untuk kembali ke kelas.



Semilir angin melanda kami berdua. Menggoyangkan setiap bunga yang ada di hadapan sana. Menggetarkan masing\-masing hati nan kami punya.


   Aku tak punya daya untuk menahan Cessa untuk pergi. Aku masih ingin bertanya semua hal yang tidak aku ketahui. Terlalu banyak yang mereka sembunyikan dariku hingga aku tenggelam dalam bingungku sendiri.


"Ia mencintaiku?" tanyaku singkat. Ia langsung berdiri namun tak kunjung melangkahkan kaki. Pertanyaan itu menghalangi niat Cessa untuk pergi.



"Tanyakan aja sama Farel sendiri. Aku enggak mampu ngejawabnya," jawab Cessa. Jemarinya merapikan letak kacamatanya yang tidak betul.



Tampak rasa sedih yang terlukis dari wajahnya. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa sedih yang ia tunjukkan.


    "Maaf aku mengambil Azka dari kamu, Cess. Aku sama sekali nggak tahu. Aku sungguh minta maaf. Andai saja aku tahu--" Kata-kataku terpotong oleh kalimat Cessa.


"Aku enggak pernah menyesali itu, Alvia. Aku udah siap dengan ini. Aku siap di saat orang yang kucintai tak akan pernah lagi menggapai harapan yang aku gantungkan. Namun, aku enggak akan pernah siap dengan sahabatku yang tersakiti," jawab Cessa. Ia langsung pergi meninggalkanku di sini. Tampak segaris air mata yang mengalir di pipinya.



Aku terlalu banyak membuat tangis akhir\-akhir ini. Menyakiti Cessa dengan mengambil hati yang telah ia pilih dan merapuhkan seorang Farel yang sungguh begitu mencintaiku.


    Aku salah menilai Cessa yang pernah kuanggap sebagai saingan hingga membuatku mati dalam kecemburuan. Alih-alih melupakan penunggu hujan itu, ternyata aku malah menyakiti mereka berdua.


    Andai saja aku bertahan dan membiarkan waktu mengungkap semuanya, aku tak akan melukiskan tangis di wajah mereka.


    Aku tak tahu alasan kenapa setiap senja bagiku begitu indah. Namun itu bermula di saat senja di sore itu, di saat pundaknya yang nyaman menjadi bantal bagiku. Itu seminggu sebelum kepergiannya yang tiba-tiba. Ia adalah Zaki, pria bergitar itu.


Garis pantai yang menjalar sepanjang Kota Padang menjadi saksi bisu di saat senja itu datang. Tepi laut yang langsung menghadap ke Samudra Hindia penuh dengan pemandangan senja yang indah. Tampak mengkilau di saat mentari perlahan bergerak ke arah barat. Pantulan cahayanya pada air laut bagaikan fatamorgana di tengah air. Bergerak\-gerak seiring gelombang laut yang datang.


    Melodi yang meliak-liuk dari gitar Zaki menambah arti dari senja kali itu. Melodi itu tak lagi kudengar saat ia pergi meninggalkanku. Hanya senja di pantai itu yang dapat menggantinya.


    Kubuka jendela ini lebar-lebar. Kubiarkan angin senja memasuki ruangan yang penuh dengan bau obat ini. Kurasa keadaannya sudah semakin membaik selama dua hari ini. Rasa rinduku mengalahkan diriku karena tak melihat wajahnya. Azka tak tahu aku sedang menjenguknya. Aku tahu ia akan cemburu karena hal ini. Namun jika ia tahu, aku mempunyai alasan yang jelas apabila ia marah karena aku mendatangi Farel.


"Kenapa Alvia ke sini?" tanya Farel.



"Aku mau ngambil gitarku yang ketinggalan dua hari yang lalu. Bagaimana keadaanmu, Farel?"


     Aku mendekatinya. Wajahnya semakin pucat karena tak kunjung terkena sinar matahari. Selain itu bertahan lapangan di ruangan ber-AC sungguh tidak baik untuknya.


"Oh itu. Maaf aku ngejatuhin gitar kamu tadi. Bagian penyetel senarnya patah Alvia. Sorry banget, ya," jawab Farel.


    Kulihat keadaan gitarku, memang persis seperti apa yang dikataka oleh Farel.


    Farel kamu satu-satunya orang yang pernah ngehancurin gitar aku, geramku dalam hati. Aku juga tidak bisa marah. Kubiarkan saja.


"Nanti aku perbaiki. tenang saja," kataku.



Aku kembali menuju jendela untuk melihat senja yang cerah. Matahari semakin condong ke barat. Semakin condong seiring detak jam yang menunjukkan jam enam sore.

__ADS_1


"Cessa dengar apa yang aku bicarakan dengan Cessa dua hari yang lalu?" tanya Farel. Aku mengerti maksud dia.


"Enggak. Aku enggak dengar," jawabku.



"Kamu bohong Alvia,"



Aku diam sejenak. Sikapnya seakan memaksaku untuk mengakui hal yang sebenarnya.



"Oke\-oke, aku dengar semuanya. Semuanya yang kamu bilang ke Cessa dan semua perkataan Cessa ke kamu. Apakah kamu mencintaiku sedari dulu?" Kalimat itu tiba\-tiba saja keluar tanpa ditahan. Aku langsung menutup mulut karena tak percaya dengan apa yang kubilang.



Tiba\-tiba tib\-tiba pintu itu terbuka. Azka datang dengan langkahnya yang cepat. Ia menarik tanganku.


   "Ini udah terlalu jauh, Cess. Ayo pulang," katanya.


Farel sontak menahan tanganku. Telapak tangannya benar-benar terasa dingin.


    "Aku enggak akan sembunyi lagi, Azka. Biarkan dia tahu. Aku mencintainya."


Aku terkejut mendengar kalimatnya. Ia begitu lantang dan bersungguh\-sungguh. Namun, Azka yang naik pitam langsung memegang kerah Farel. Farel yang tak bertenaga hanya bisa diam hingga kepalan tangan itu mendarat ke wajahnya.



"Cukup, Azka, aku nggak mau lagi. Kita putus!" Kalimatku menghentikan Azka.


    Azka menatapku masih dengan amarahnya pada Farel. Nafasnya tampak tidak beraturan dan dipenuhi oleh emosi. Perlahan tangannya melepas dari kerah Farel. Farel tersungkur di lantai sambil menutup wajahnya.


Aku mendorong Azka. "Cukup Azka. Pergi kamu!"



"Alvia." Ia menyebut namaku.



"Kamu udah tahu sebelumnya kalau Farel mencintai aku dan kamu nyembunyiin itu dengan menikung sahabatmu sendiri? Kamu busuk Azka! busuk!" kataku padanya. Aku sangat geram dengan perlakuannya pada Farel.


    "Iya, semua itu benar, Alvia. Itu kenapa? Karena aku mencintai dirimu semenjak kita bertemu. Akulah yang lebih dulu cinta sama kamu, bukan dia," balas Azka. Tangannya masih terkepal. Aku tidak akan membiarkan ia menyentuh Farel lagi.


"Tapi, aku lebih dulu mencintai Farel daripada dirimu."



"Oke, kalau itu mau kamu. Kamu berhasil ngehancurin hati orang lain lagi." Ia pergi dengan semua amarahnya.


   Kupeluk Farel yang memicing kesakitan akibat pukulan dari Azka tadi. Tampak pelipis kirinya sedikit membekas. Ia segera naik ke atas tempat tidurnya sambil mengambil selimut. Ia membungkus selimut itu ke seluruh tubuhnya.


   "Alvia, tolong pergi. Aku ingin sendiri," pintanya padaku.


Ia benar\-benar membuang muka padaku.


***

__ADS_1


__ADS_2