Rinai Hujan

Rinai Hujan
Part 24: Sahabat


__ADS_3

Part 24: Sahabat


Azka Aldric Sahabat


    Aku menyendiri dalam tiga hari ini. Melewati hari dalam sunyi dan sepi. Hanya cahaya mentari dan semilir angin yang kuizinkan untuk bercengkrama. Bercerita mengenai semuanya, mengenai cinta dan patah hati. Sakit rasanya saat kubercerita hanya dijawab oleh lambaian angin. Ingin sekali aku mendengar kalimat yang membuatku sedikit bersemangat.


Aku memang tak merasa bosan di atas sini, namun aku lebih merasa bosan untuk tetap menyandang status siswa yang selama ini melekat. Kami sudah berada di ujung puncak kebosanan masa sekolah. Perujung waktu yang kami lalui, inilah saat\-saat kami menunggu untuk cepat menamatkan usaha tiga tahun di SMA.


    Tak terasa dua minggu lagi kami akan menjalani Ujian Nasional. Rasanya hatiku berdegup kencang saat membayangkan bagimana suasana UN yang benar-benar membosankan. Di sisi lain semangatku membara untuk cepat melakukannya.


Terdengar suara pintu yang terbuka dari belakangku. Aku menoleh, ternyata itu Farel. Ia berjalan ke arahku. Tidak seperti biasanya ia mampir ke sini untuk melihatku, apalagi semenjak kejadian itu. Aku seakan tak berani untuk menatap matanya. Aku takut ia akan membalas balik.



"Nggak perlu setegang itu Azka," katanya saat berdiri di sampingku. Setengah senyumnya terlempar pada hamparan pemandangan kota yang terlihat.


   "Aku minta maaf," kataku tanpa beban.


"Iya, aku ngerti, kok. Aku juga salah karena enggak pernah bilang kalau aku juga menyukainya."


__ADS_1


Aku mengangguk pelan. Kutatap wajahanya. Tak ada terlukiskan kata dendam di sana. Datang dengan damai dengan lapangnya dada tak bertepi. Aku merasa jahat karena selalu berpikiran negatif padanya.


    "Farel, Alvia udah lama menyukaimu. Cuma aku ngerebut dia biar rasa cintanya kepadamu hilang sirna. Namun aku gagal. Alvia tetap aja pertahanin perasaaannya."


Farel tertawa kecil. Ia cukup jarang menampakkan tawanya itu. Cukup rahasia dan hanya diperlihatkan pada orang tertentu saja.


     "Hmm, rasanya senang saat tahu orang yang kita cinta juga membalas mencintai. Sudahlah, jangan terlalu lama ngebuat Cessa menunggu lama. Cessa udah cukup merasakan sakit karenamu," balasnya.


Aku membalas tawanya. "Nggak ada alasan lagi untuk merasakan cemburu di antara kita. Kau jangan merasa cemburu pada Alvia."



"Ah, kau juga. Jangan lagi cemburu melihat Cessa bersamaku. Jangan hal yang lama terulang lagi. Dan jangan lagi sia\-siakan dia. Dia baik untukmu."


Rasa penat melanda tubuhku. Inilah saatnya untuk balik ke rumah. Hari sudah cukup senja untuk menikmati semuanya di atas sana. Mungkin itu berbeda dengan Alvia. Bagi Alvia, semakin senja semakin terpaku untuk bertahan lama. Itulah yang kadang kusukai dari wanita senja itu.



Aku berlajan menuju mobilku. Parkiran sekolah kami cukup luas untuk menampung semua kendaraan para murid. Letaknya berada tepat di belakang sekolah. Walaupun ini sekolah elit, namun tetap saja para murid lebih memilih mengendarai sepeda motor. Mungkin saja lebih praktis untuk jalanan Pekanbaru yang sering macet tatkala pagi yang sibuk.


__ADS_1


Kulihat seseorang berdiri di depan mobilku. Ia menatapku yang sedang berjalan menuju ke sana. Badan tegap namun tak lebih tinggi dari diriku. Aku yakin ia tak dari sekolah sini, mungkin saja bukan anak sekolahan. Selapis baju Polo dan celana jeans melekat pada tubuhnya.


    "Kau Azka, kan? Aku mencari Farel," kata pria itu. Wajahnya terlihat maskulin lengkap dengan rambut rapi tersisir ke belakang.


"Dia sedang enggak ada. Menyingkir dari mobilku," jawabku sedikit kasar. Aku sudah cukup sering mendengar pertanyaan seperti ini dulu. Orang\-orang banyak mencari Farel yang acap kali bermasalahan dengan orang luar.



"Oh, begitu. Bilang sama dia, Jangan dekatin Alvia," balasnya. Aku terkejut saat ia menyebut nama Alvia.


    "Emang kau siapa hingga bisa ngelarang Farel buat dekatin Alvia?"


Ia mendekat dua langkah lalu berkata, "Aku Zaki. Alvia nggak pernah cerita?"



Pria itu melangkah pergi. Aku hanya terdiam melihat dirinya memasuki sebuah mobil. Setahuku Alvia pernah menyebut sebuah nama.


   "Enggak salah lagi, dia pria itu." Aku mengepal tanganku dengan keras.


Dua hari berikutnya Farel datang padaku. Matanya tampak sembab dan memerah. Tangannya mengepal menahan sesuatu. Aku yakin ada yang tak beres dengannya. Tangannya menarik keras kerahku.

__ADS_1


"APA BENAR ALVIA MENCINTAIKU?"


***


__ADS_2