Rinai Hujan

Rinai Hujan
Part 30: Mengejar kembali


__ADS_3

Part 30: Mengejar kembali


Farel Bintang


   Pasang surut perasaan menghempas bagai ombak abadi. Menyulut rasa hingga ke akarnya, lalu kembali bergulung membawa sakit. Ingin kudekap sesaat dirinya untuk mengucapkan selamat tinggal. Namun, aku terlalu cepat mengikhlaskan dia untuk pergi. Air mata itu membayangi diriku yang tengah goyah.


Berhari\-hari tanpanya membuatku sepi. Kesunyian itu memanggil\-manggil diriku untuk bergelut di dalamnya. Hatiku bagai membeku tanpa kehangatan cinta. Tangan ini tak lagi bertemu sentuhan lembut tangannya. Senyuman yang pernah menghiasi, kini hanya kenangan masa lalu belaka. Terhapus tak pernah terlukiskan lagi.



Salahkah aku mengikhlaskan? Salahkah aku membenci setengah hati?


   


    Hatiku berbelah menjadi dua. Memberi kesempatan bagi cinta dan benci untuk bersemi bersamaan. Mencari arti cinta yang sebenarnya.


Cahaya yang nyata bagi cinta yaitu di saat orang yang mencintai membalas mencintai. Kini angin rinai hujan yang berbadai itu mengembus hingga memadamkan cahaya tersebut. Meredupkan rasa cinta di masing\-masing kami. Rasaku hilang di saat rasa benci menutupinya dan perasaan Alvia memudar saat diriku tak menggapai harapan yang gantungkan.



Bukankah itu impas? Ia merasakan apa yang kurasakan.



Separuh mata diriku menatap mentari senja yang bersinar kuat. Rintikan hujan terlalu lemah untuk menciptakan kebahagiaan. Gemericik hujan datangnya hanya sesaat. Sesingkat lebah nan hinggap pada setiap bunga. Aku tak sempat menikmatinya.



"Senja mengingatkanku atas Alvia," kataku pada Cessa.



Kami sedang berada rooftop sekolah yang menjadi tempat Azka mengasingkan diri. Aku merasa dekat dengan mentari jika di atas sini. Menyentuhnya walaupun aku tahu aku akan terbakar.

__ADS_1



"Cinta selalu mengingatkan kita akan hal yang manis. Tak peduli seberapa besar sakit yang pernah terasa."



"Cessa, apa aku salah mengabaikan Alvia?"



"Farel nggak salah. Kamu cuma butuh waktu untuk merenungkan semunya. Kamu nggak pernah ada maksud untuk mengabaikan Alvia," jawabnya.



"Aku rasa, aku masih cinta dia."



"Ya, kamu masih cinta sama dia. Waktumu sudah cukup untuk merenungkan. Sekarang kamu bisa ngejar dia kembali." Ia menyentuh tanganku. Hal yang biasa ia lakukan di saat menenangkan diriku.




Pemandangan perkotaan di hadapan terlihat memukau. Landmark Kota Pekanbaru dapat dilihat dari sini. Andai saja kubisa terbang bersama burung di sana, aku bisa melihat dunia dengan jelas.



Seseorang datang dari belakang. Tidak perlu menebak, hanya satu orang yang menjadi penguasa di atap ini.



"Udah berduaannya," kata Azka sambil menyelip di antara kami. Tangannya melebar untuk merangkul aku dan Cessa. Aku tahu, Azka dan Cessa sudah menyelaraskan janji mereka yang sempat terhambat oleh kesalahpahaman. Kepingan cinta yang sempat terpisah, kini kembali direkatkan karena saling percaya.

__ADS_1



"Oh iya, yang udah jadian ini," kataku sambil tertawa.



Azka membalas tawaku. Rangkulannya pada leherku bertambah kuat.



"Alvia bilang sama aku, jika Farel nggak menganggap dia lagi, jangan salahkan dia untuk kembali pada Zaki. Kamu ikhlas merelakan Alva yang selama ini kamu perjuangkan sampai kita pernah kelahi?"



Aku menatap wajahnya. Ia tampak serius, tak bercanda. Matanya yang sipit bergerak menatap balik diriku. "Kapan dia bilang?" tanyaku.



"Tepat pada hari ini. Zaki sudah memberikan peringatan padaku. Ia mengirim SMS lagi. Zaki bilang berterimakasih karena kau melepas Alvia untuknya. Dan hari ini ia bakal benar\-benar ngerebut Alvia darimu. Kau bodoh, Farel."



"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanyaku.



"Kejar dia sekarang!"



Kata\-katanya memberiku semangat untuk kembali merebut Alvia. Aku tahu bahwa terlalu banyak luka dan tangis yang terlukis oleh perjuangan cinta ini. Namun, aku tidak akan membuat semua sakit itu menjadi hal yang sia\-sia. Cinta akan masih menjadi milikku, selama benih itu masih tertanam dalam hati.


__ADS_1


Alvia, kamu nggak akan pernah pergi lagi dariku.


***


__ADS_2