
Part 19: Beraromakan
Senja
Farel Bintang
Aku terbangun di ruangan putih dengan sedikit aroma parfum ruangan. Letak TV di ruangan ini tak seperti letak TV di kamarku. TV itu terletak pada dinding dan cenderung naik hingga membuat siapa saja menaikkan dagu jika ingin menontonnya. Terdengar olehku suara tawa khas kartun Spongebob nan tengah terputar di TV. Biasanya adikku selalu menontonnya tatkala pagi menyambut. Mungkin saja ia lupa mematikan TV itu saat ia berada di sini.
Tak jauh di sebelah kananku, terdapat sebuah jendela yang langsung menunjukkan kepadaku matahari senja yang tengah tersenyum. Jendela itu sengaja diminta terbuka agar diriku leluasa menghirup udara senja. Tak kupedulikan kadang tercium aroma tipis asap yang selalu ada di Pekanbaru. Kali ini aku tengah menunggu senja tak seperti biasanya. Tentu saja tanpa dirinya, penunggu senja pertama yang pernah aku kenal.
Tetesan cairan infuse memecah keheningan yang sedang menghantui diri. Berbunyi tenang mengisi setiap sudut ruangan. Selangnya memanjang hingga tertancap pada tangan kiri. Rasanya tidak sakit saat memasangnya, namun cukup membuatku menggigit bibir karena disuntik dua kali.
Kekosongan pergi saat suara gagang pintu terbuka. Entah siapa yang datang setelah adik dan ibuku pulang untuk mengurus rumah sebentar.
Wanita bermata sipit itu berjalan menggunakan kacamata bergagang hitam. Hijabnya yang berwarna biru begitu menyatu dengan pakaian yang sedang ia kenakan. Semerbak parfum menyeruak ke hidung tatkala ia meletakkan sesuatu di sampingku. Sekantong besar yang berisi berbagai macam makanan ringan ia letak di meja.
"Untuk apa sebanyak itu?" tanyaku pada Cessa. Ia tak langsung menjawab. Ia menatapku terlebih dahulu dan mendekat.
"Aku dan Sarah bakal jagain kamu malam ini. Tentu aja kami nggak mau mati kelaparan. Oh iya, kamu nggak boleh minta. Cek darah kamu positif tifus." Cessa menyentuh dahiku untuk mengecek suhu tubuhku yang dari tadi pagi selalu panas.
__ADS_1
Cessa menyalakan TV yang langsung tertuju pada kartun Spongebob yang masih berlanjut. Ia sepertinya tertarik dengan kartun itu dan langsung duduk di samping kakiku. Dengan santai ia melipat kaki sambil menatap layar TV tanpa mempedulikan diriku yang sedang terbaring sakit.
Aku berusaha meraih tangannya. Ingin sekali kuceritakan semuanya yang membuatku kembali terpuruk. Ia mungkin terpuruk, namun hatinya bagikan baja. Terlalu kokoh hingga tak rapuh menghadapi badai yang menerjang. Aku nan rapuh kembali hancur dan sedang berusaha memupuk semangatku yang telah terbawa hilang.
"Cessa, aku tak bisa tidur empat hari ini. Pikiranku kembali kacau kaya dulu. Kayanya depresi itu kembali datang, Mimpi buruk itu kembali datang," kataku.
Ia turun dari tempat tidur dan langsung mencari kursi untuk mendenga ceritaku.
"Kamu cuma butuh kekuatan kamu lagi Farel. Selama ini kamu bisa ngelewatin semuanya. Bahkan lebih berat dari masalah ini," balas Cessa. Ia menggenggam tanganku erat, seakan sedang memberikan kekuatan itu padaku.
Ia langsung berdiri. Matanya tak sanggup untuk melihatku.
"Aku udah tahu kok, aku lihat sendiri obat itu di kamarku. Tes darah kamu juga nunjukin kalau kamu sedang mengkonsumsi obat itu. Kenapa sih kamu minum itu? Aku udah bilang, kan?" tanya Cessa dengan nadanya meninggi.
Seketika air mataku menetes. Kembali kulihat masa suramku ketika diriku tengah terikat dengan obat itu. Kecanduanku akan obat penenang membuat diriku tersiksa. Badanku semakin lemah hanya untuk menghilangkan pikiranku untuk sementara.
Saat itu benar-benar buruk. Aku tak menyangka aku pernah menjadi pecandu obat-obatan seperti itu.
"Kamu nggak tahu keadaan aku, Cess. Depresi itu menyiksa aku. Empat hari aku nggak tidur karena gejala depresi itu datang lagi. Cuma itu yang bisa buat aku sedikit tenang."
__ADS_1
Plak!
Tangan itu menempel di pipiku. Ia menamparku dengan keras. Terasa sakit dan membekas.
"Kamu udah janji sama aku kalau kamu mau sembuh dan nggak akan minum obatan lagi. Kamu nggak pernah mikir apa yang akan terjadi sama tubuh kamu. Kamu bisa over dosis," balas Cessa padaku.
Matanya tampak berkaca dan perlahan garis air matanya mengalir sepanjang pipinya. Kurengkuh tangannya lalu kubiarkan ia jatuh ke tubuhku. Aku memeluknya erat.
"Kenapa aku harus cinta sama Alvia, bukannya sama kamu yang selalu peduli sama aku? Dan kenapa kamu nggak bisa cinta sama aku dan malah memilih Azka yang sama sekali nggak pernah peduli tentang kamu, Cessa?"
Aku menangis dalam pelukannya meneriakkan kedua nama yang tengah menjadi badai dalam hidupku. Cessa tak menjawab. Ia membiarkan diriku menumpahkan segala air mata yang tertahan selama ini.
Desahan nafasnya perlahan kudengar.
"Cinta nggak pernah memilih bersama siapa ia akan berlabuh. Tinggal kita yang memutuskan untuk bertahan atau memperjuangkan," kata Cessa perlahan. "Ia pernah mencintaiku Farel dan aku masih melihat tatapan yang sama seperti pertama kali ia berkata padaku."
Angin senja bertiup pelan memasuki ruangan. Kubiarkan ia bergerak untuk mengusir semua permasalahan. Aroma senja yang ia bawa kemari memberikan makna baru menunggu senja kali ini, sedikit dihiasi air mata dan emosi.
Air mata yang tumpah membuang perlahan beban yang ada selama ini, lalu datanglah secercah senyum yang melukiskan keceriaan di masing wajah kami.
Kadang itu sering terjadi dalam persahabatan. Tak ada sahabat seperti kami yang selalu dekat tanpa dibumbui oleh benih cinta. Tuhan menjaga itu agar kami tetap bersama.
"Assalamua'alaikum."
Seseorang datang memanggil. Suaranya terdengar beraromakan senja.
__ADS_1
***