
Part 7 : Sahabat Terbaik
Farel Bintang POV
Kakiku melangkang untuk pulang. Hiruk pikuk anak murid bergemuruh saat mendengar bel pulang nan merdu. Hendak rasanya aku berteriak senang menyambutnya, namun menurutku aku terlalu besar untuk melakukannya. Hanya senyumku yang menunjukkan keceriaanku saat mendengar merdunya bell pulang.
Tas ransel yang kusandang bergoncang saat kuajak melangkah. Menimbulkan bunyi khas buku\-buku yang saling bergeseran. Kadang pundakku merasa penat karena ransel besar ini. Setiap hari diriku selalu membawa buku berlebih. Memang sudah terbiasa seperti itu sejak kecil. Namun, hanya sedikit yang mampu kuajak membaca. Setidaknya masih ada yang menempel kepalaku meski hanya sedikit.
Rumahku tidaklah jauh dari sekolah. Hanya beberapa belokan dari sekolah hingga sampai ke pagar rumahku. Aku tidak pernah membawa kendaraan ke sekolah. Lebih menyenangkan bagiku untuk berjalan di pagi nan dingin sambil menikmati burung\-burung yang saling bersahutan memanggil.
Kendaraan\-kendaraan siswa sudah memacu kencang di jalanan. Kadang motor\-motor itu menunjukkan romantisme yang akan mereka kenang di masa SMA. Satu motor berdua dengan pasangan, atau satu mobil berdua dengan pasangan selalu jadi momen yang mereka tunggu\-tunggu. Namun, aku lain dari mereka yang selalu berharap ada wanita yang akan menemaniku menapaki trotoar kota, yang akan kulindungi saat ada kendaraan yang melintang dan merangkul tanganku dengan lembutnya.
Senyumku berakhir di gerbang sekolah. Jalanan sudah mulai berdebu. Murid mobil anak\-anak kaya itu sudah berbunyi dengan keras. Anak\-anak nan gila kesombongan, pikirku sejenak saat melihat tingkah mereka yang tak menghargai pengguna jalan seperti kami.
Suara klakson motor berbunyi tertuju padaku. Tas ransel warna merah jambu itu mengingatku akan seseorang. Ia menepi, namun tetap dengan helm berkaca tak tembus pandangnya. Perlahan ia membuka helm retro miliknya.
"Hai penunggu hujan, kok sendirian?" katanya dengan keras. Suara wanita itu terhalang oleh keributan kendaraan jalanan. Aku tidak bisa mendengarnya dengan baik.
Aku mendekat, "ternyata kamu, Alvia. Sudah kubilang aku suka sendiri. Pulang sana, aku juga mau pulang."
Kakiku kembali melangkah meninggalkannya. Aku tidak suka jika ada yang mengganggu perjalananku. Ia tampak tercengang melihat tingkahku yang seolah-olah mengabaikannya.
Namun, ada yang aneh dengan perasaan ini. Aku tidak pernah merasakan hal yang seperti ini saat mengabaikan seseorang. Hal yang selalu kulakukan ini tiba-tiba terasa janggal ketika kulakukan padanya. Terngiang-ngiang tatapan kecewanya saat kupinta ia untuk segera pulang. Aku berbalik dan....
"Apa-apaan ini?" Aku terkejut melihatnya tersenyum saat berhasil memasangkan helm tepat ke kepalaku. Pengaman helm berbunyi saat ia pasang padaku.
"Tunjukkan aku Kota Pekanbaru. Aku anak baru di sini," katanya sambil tersenyum.
"Ahhh tidak, aku mau pulang Alvia." Aku melepaskan pengaman helm. Namun tangan Alvia menghalanginya. Jelas terasa olehku garis-garis tangan Alvia nan lembut. Seketika aku terasa bergetar tak karuan. Perlahan aku memasangnya kembali. "Baiklah, untuk kali ini aja."
Ia memandangiku aneh.
"Kenapa? Aku nggak pandai bawa motor," kataku. Jangankan motor yang kubawa, sepeda aja aku tidak pandai mengendarainya.
"Ganteng-ganteng tapi nggak pandai bawa motor, gimana sih?" Ia kembali tertawa sambil memasang helmnya kembali. Tak seperti orang kebanyakan, aku diboncengi oleh seorang wanita.
Kami berkeliling Kota Pekanbaru nan sibuk. Sangat jelas terasa detak sebuah kota metropolitan yang tak pernah berhenti. Terdengar begitu riuh hiruk pikuk jalanan nan dilanda kemacetan perempatan. Para pekerja sudah mulai pulang ke rumah masinh-masing. Pedagang asongan lampu merah masih saja bersemangat untuk mendapatkan lembaran rupiah yang mungkin tak seberapa. Bagitu pula para pengamen yang menyanyikan lagu-lagu jalanan nan kadang menyentil keadaan sosial saat ini.
Banyak landmark Kota Pekanbaru yang sudah kami lalui. Perpustakaan wilayah, Kantor Walikota, Kantor Gubernur, Tugu Zapin, dan masih banyak lagi. Semuanya ada di pusat kota. Aku menjelaskan satu per satu tempat yang dilalui kepada Alvia. Perlahan kami sudah meninggalkan pusat kota. Gedung-gedung tinggi kini berganti dengan ruko-ruko pedagang cina.
"Pekanbaru itu indah," kataku.
"Ah masa?"
__ADS_1
"Coba aja kamu lihat sendiri. Orang melayu itu ramah-ramah. Yaa, walaupun orang Pekanbaru nggak pakai bahasa Melayu. Rata-rata mereka pakai bahasa Minang."
"Ngerti bahasa Minang, kan?"
"Hahahah, ngerti dong."
Tak tahu kenapa perlahan senyumku melebar saat melihat senyumnya yang menawan. Rasa senang, damai, dan bahagia bercampur aduk menjadi satu. Tak pernah gairahku berada di titik seperti ini atau aku hanya terlalu terbiasa dengan hari-hariku yang datar sehinggaku tak pernah merasakan ini.
Aku bisa merasakan darahku mengalir deras setiap saat. Jantung yang biasanya beralunan normal, kini berpacu seiring pandanganku padanya. Ingatan-ingatan buruk akan hantu masa laluku yang kadang-kadang terlintas begitu saja, kini tak ada lagi. Apa yang terjadi dengan tubuh ini?
Kami berhenti di sebuah pondok jagung bakar dipinggir jalanan Sudirman. Bau jagung bakar nan harum menyeruak ke hidungku. Dahagaku menggebu-gebu saat kelapa-kelapa muda itu berusaha memanggilku.
"Yuk, kita menunggu senja kali ini di sini," ucap Alvia. Lalu ia memesan jagung bakar serta kelapa muda.
Kami duduk di sebuah kursi kayu lengkap dengan meja bundar yang terbuat dari kayu. Angin senja bertiup lambat membawa asap bakaran arang meliuk-liuk di udara. Langit barat sudah terlihat jingga. Mentari juga perlahan menyembunyikan dirinya sambil memanggil rembulan tuk menerangi malam nan dingin. Aku merasakan momen sebuah senja yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
"Apa Farel baik-baik aja tadi? Aku lihat kamu diapa-apain sama anak IPS yang nakal itu ya?" tanya Alvia tiba-tiba.
Satu kelapa muda segar datang menghampiri kami. Dua pipet di masukkan untuk kami minum berdua. Hangatnya jagung bakar pun tak bisa kutolak. Tanganku perlahan mengambilnya dengan tanganku.
Pertanyaan Alvia baru saja memmbuatku terkejut. Bagaimana ia tahu tentang hal itu? Benar kata Alvia, aku diganggu oleh anak IPS yang lain yang membuat emosiku memuncak. Saat itu gejala-gejala depresiku kembali muncul. Barulah diriku menenangkan diri di perpustakaan. Tempat itu sudah biasa kudatangi ketika gejala-gejala itu muncul.
"Iya, tadi aku digangguin, tapi udah biasa kok," kataku pelan lalu menggigit hangatnya jagung bakar ini.
"Biasa? Jadi udah sering?" tanya alvia, namun kali ini dengan nada tinggi.
"Lumayan, tapi biar ajalah, ikhlas aja," jawabku.
Kalau bukan karena depresiku ini, mungkin saja mereka yang menggangguku sudah kugantung di atas tiang basket. Mereka saja yang tidak tahu masa laluku yang keras.
"Kalau aku hajar, mereka ntar nangis."
"Sok ah kamu."
"Kenapa kamu suka senja?"
"Sore menyimpan rahasia di baliknya. Ia lihai menyembunyikannya bagi para penikmat senja." Tiba-tiba Alvia berkata-kata. Cukup indah tuk didengar. Sepenggal kalimat yang menyadarkan aku akan sebuah senja.
"Alvia, kamu juga pandai membuat kata-kata. Apa arti dari kalimatmu?" tanyaku.
"Rahasia itu harmoni yang kita rasakan sekarang. Hanya orang tertentu saja yang bisa membuka tabirnya. Farel merasakannya, kan?" jawab Alvia.
Aku berpikir sejenak. Harmoni ini, damainya melankoli senja, dan warna senja yang indah, aku merasakan semuanya. Inikah rahasia senja yang dimaksud oleh Alvia.
"Ya aku merasakannya wahai penunggu senja." Aku tertawa saat memberikan julukan kepada Alvia.
"Penunggu senja? Sebutan yang bagus. Kalau Farel adalah penunggu hujan, sedangkan aku penunggu senja, kita bisa menyaksikan keindahan hujan di senja hari." Aku mengangguk mendengar kalimatnya.
Aku bisa merasakan indahnya menyaksikan hujan di senja hari. Langit senja nan jingga berubah gelap kelabu. Rinai hujan turun perlahan membasahi hati setiap orang yang menikmatinya. Sungguh nikmat sekali apabila ditemani oleh Alvia.
"Ceritakan tentang keluargamu. Bagaimana dengan ayahmu?" tanya Alvia. Aku terkejut mendengarnya. Pertanyaan yang sangat sensitif jika bersinggungan mengenai Papa.
Aku tidak ingin mengamuk di sini. Gejala itu mulai muncul. Kepalaku sedikit terasa sakit. Ingatanku akan masa lalu seketika terlintas.
__ADS_1
Hanya satu yang tak ingin terlintas, yaitu suara Papaku yang akan terngiang di telingaku. Aku tidak ingin itu. Hanya akan mengundang rindu dan perih yang menjadi satu. Aku menyentuh kepalaku yang terasa sakit. Nafasku mulai tidak beraturan.
"Farel, kamu baik-baik aja kan? Kamu sakit?" Ia heran tingkahku yang sedang menahan gejala kecemasanku. Suaranya tersamarkan oleh suara-suara aneh yang mulai berngiang di telingaku.
"Farel, dasar kamu anak......" Suara khayal dari Papaku berngiang. Namun kalimat itu tidak sepenuhnya terdengar. Terpotong oleh sentuhan tangan Alvia di wajahku.
Nafasku tidak karuan saat menatap mata Alvia. Matanya tampak bening hingga diriku bisa melihat bayang-bayangku di sana. Pandangannya teduh oleh kedua alis tebal yang menaunginya. Matanya memberikan damai pada diriku. Seketika gejala itu hilang sirna.
Begitu saja? tanyaku dalam hati saat menyadari gejalannya ini hanya sebentar.
"Farel, kamu baik aja aja, kan?" tanya Alvia lagi. Kini aku benar-benar tersadar dari khayalan yang sempat terlintas tadi. Semuanya hilang sirna.
"Iya, aku baik-baik aja. Sedikit pusing di kepala," jawabku. Alvia mengangguk mengerti. Kami segera pulang ke rumah masing-masin.
Malam harinya aku mengunjungi seseorang. Pria itu tidaklah terlalu tua. Mungkin umurnya masih empat puluhan. Namun terdapat beberapa helai rambutnya nan telah memutih. Tutur katanya tedengar lembut jika bicara bersama seseorang. Mungkin itulah bawaan pekerjaannya. Selalu memberikan pengertian dengan lemah-lembut.
Matanya tampak lusuh oleh buku-buku tebal nan ia baca. Mungkin saja itu materi kuliah yang akan ia ajarkan kepada mahasiswanya. Ia tak hanya seorang Psikolog, namun juga seorang dosen salah satu universitas di riau.
Sebuah cangkir kopi bermotif daun selalu menemani hari-harinya di ruangan ini. Kadang seseorang menemaninya di sampingnya sambil berbincang. Mungkin saja anak itu sedang tidak ada di sini.
"Pak Ahmad," sapaku.
Ia sadar akan kehadiranku. Mata sipitnya menatap di balik kacamata itu. Senyum tipis itu mengingatkan aku akan seseorang, orang yang selalu menemaniku selama ini, Cessa Olivia.
"Hai Farel, sudah beberapa hari ini kamu nggak ke sini. Baiklah, silahkan duduk." Ia mempersilahkan diriku untuk duduk. "Bagaimana harimu?" tanya Pak Ahmad.
"Ada yang aneh selama ini Pak," kataku.
"Aneh maksudmu? Ceritakan bagaimana," pinta Pak Ahmad.
"Nggak tau kenapa, aku merasakan damai. Aku lebih bersemangat. Bahkan jantungku kini lebih berdetak cepat dari yang biasanya. Gejala-gejala itu kini nggak sebanyak yang selama ini kurasakan," kataku panjang lebar.
Ia terlihat mencatat sesuatu di buku catatannya. Kerut di matanya menandakan kini ia sedang berpikir. "Kamu bertemu seseorang akhir-akhir ini?"
"Iya Pak, seorang wanita," jawabku dengan cepat.
Ia tersenyum. Matanya tampak berbinar. Ia menghela nafas lalu menyeruput kopi dinginnya itu. "Kamu sedang jatuh cinta farel,"
"Jatuh cinta, Pak?" tanyaku.
Aku perlahan berdiri dan mundur beberapa langkah. Tidak mungkin aku jatuh cinta, kataku dalam hati. Sudah lama aku tidak jatuh cinta hingga kulupa bagaimana rasanya. Bahkan selama ini aku yang selalu bersama Cessa tidak pernah merasakanya. Aku perlahan pergi meninggalkan ruangannya.
Kubuka pintu itu. Kudapati Cessa juga sedang memegang gagang pintu. Ia tersenyum padaku. Samar-samar ia sangat terlihat mirip dengan ayahnya, hanya saja ia tidak memakai kacamata. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai. Ia tak memakai hijab di area rumahnya sendiri. Jadi aku cukup sering melihatnya dengan rambut tergerai.
"Cepat banget keluarnya, biasanya bisa berjam-jam," ucap Cessa.
Aku tidak sempat menjawab pertanyaannya. Aku menarik tangannya dan kuajak ia berlari. Tak kupedulikan pasien-pasiennya yang mengantri di ruang tunggu.
Tanganku yang dingin memegangi wajah Cessa yang mungil.
"Cessa, kata ayahmu aku jatuh cinta. Benar itu?" tanyaku.
"Bisa jadi. Dan nggak dia aja yang sadar akan hal itu. Namun, aku juga. Sudah saatnya kamu berubah Farel. Aku sedih ngelihat kamu begini terus. Bahkan dalam mimpi kamu, kamu selalu nyebutin nama dia. Kejar wanita itu, setidaknya kamu membaik gara-gara ini." Alvia mengatakan kepeduliannya.
Aku memeluknya, "Terima kasih Cessa, kamu memang sahabat baikku."
__ADS_1
***